Dipicu El Niño: Ratusan Ribu Hektar Hutan Kalimantan Terbakar, Teknologi Hujan Buatan Dikerahkan

Ghina Nailal Husna • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:18 WIB
Ilustrasi kebakaran hutan
Ilustrasi kebakaran hutan
 
RADAR KUDUS — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda wilayah Kalimantan, merusak ekosistem hutan hujan tropis alami serta mengancam habitat berbagai spesies yang dilindungi.
 
Peningkatan frekuensi titik api (hotspot) pada tahun ini dipicu oleh fenomena iklim El Niño kuat yang menyebabkan musim kemarau menjadi jauh lebih kering dari tahun-tahun sebelumnya.

Guna menanggulangi krisis lingkungan tersebut, Pemerintah Indonesia mengandalkan operasi Modifikasi Cuaca (TMC) atau penyemaian awan (cloud seeding) untuk menurunkan hujan buatan di wilayah-wilayah terdampak parah.
 
Baca Juga: Fable Company Bantah Tuduhan 'Dating Violence' Hong Min-ki dan Siap Tempuh Jalur Hukum

Luas Karhutla Tembus Ratusan Ribu Hektar

Laporan resmi pemerintah mencatat bahwa lebih dari 100.000 hektar lahan telah hangus terbakar di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, pada paruh pertama tahun ini.

Sementara itu, analisis independen dari pemantau deforestasi Nusantara Atlas menunjukkan angka yang jauh lebih besar.
 
Luas area terdampak kebakaran di seluruh Kalimantan hingga bulan Juli dilaporkan telah menembus angka 285.000 hektar—atau setara dengan lebih dari empat kali luas wilayah DKI Jakarta.

  • Pemicu Utama: Fenomena El Niño kuat yang memperpanjang durasi kemarau ekstrem di wilayah khatulistiwa.
  • Area Terdampak Kritis: Lahan gambut dan hutan hujan alami di Pulang Pisau serta sekitar Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
  • Dampak Lingkungan: Kenaikan emisi karbon harian, ancaman kabut asap lintas batas, serta ancaman terhadap keberlangsungan satwa endemik.
“Teknologi modifikasi cuaca tidak bertugas menciptakan awan secara mandiri, melainkan mengoptimalkan potensi awan yang sudah ada agar dapat menghasilkan presipitasi atau hujan secara maksimal di atas titik kebakaran,” jelas ahli meteorologi Safillah Anggie Wahyuni kepada AFP usai memimpin penerbangan pemantauan di atas Palangkaraya.

Operasi TMC dan Sorotan Solusi Jangka Panjang

1.Penyebaran Bahan Semai (Cloud Seeding):Penyemaian garam dan partikel penyerap air di awan potensial.
Pesawat khusus dikerahkan untuk menyebar zat perak iodida atau garam klorida pada kumpulan awan cumulonimbus demi merangsang terjadinya hujan.

2.Penanganan Karhutla Sektor Darat:Pemadaman gabungan darat dan pemantauan titik api.
Tim Satgas Karhutla melakoni pemadaman darat di area gambut dalam yang sulit dijangkau armada pemadam konvensional.

3.Desakan Penanganan Akut dan Sistemik:Kritik atas alih fungsi lahan dan restorasi gambut.
Para aktivis lingkungan menyoroti perlunya penghentian konversi lahan gambut secara permanen ketimbang mengandalkan intervensi cuaca sementara.

Baca Juga: Beban Fiskal Membengkak: Indonesia Dialokasikan Bayar Bunga Utang Rp650,31 Triliun pada 2027
 
Meskipun penyemaian awan menjadi tumpuan utama dalam memadamkan api dari udara, penerapan metode ini masih memicu perdebatan di kalangan pengamat lingkungan. 
 
Sejumlah aktivis menilai bahwa hujan buatan hanyalah respons darurat yang bersifat sementara.

Akar permasalahan karhutla dinilai bersumber dari masifnya alih fungsi hutan hujan tropis serta pengeringan lahan gambut untuk kawasan perkebunan, yang membuat ekosistem dasar menjadi sangat rapuh dan mudah terbakar saat musim kemarau tiba. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna
Kebakaran hutan lahan Kalimantan 2026 dampak El Nino karhutla Kalimantan teknologi hujan buatan modifikasi cuaca TMC analisis deforestasi Nusantara Atlas karhutla karhutla lahan gambut Pulang Pisau Palangkaraya