KUPANG – Korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Hingga Rabu (19/8/2026), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 71 orang meninggal dunia, setelah satu korban tambahan dilaporkan dari Kabupaten Nagekeo.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Suar Pelita Panjaitan menyampaikan pembaruan tersebut dalam konferensi pers pada Rabu siang. Dengan tambahan satu korban di Nagekeo, jumlah korban jiwa akibat bencana tersebut menjadi 71 orang.
BNPB menyampaikan duka cita kepada seluruh keluarga korban dan masyarakat yang terdampak. Penanganan di wilayah terdampak masih berlangsung, sementara pendataan dampak bencana terus diperbarui seiring proses evakuasi dan penanganan di lapangan.
Baca Juga: Jangan Asal Beli! Begini Cara Mudah Cek Meterai Rp10.000 Asli atau Palsu
Gempa utama yang mengguncang wilayah Flores terjadi pada Sabtu (15/8/2026). Berdasarkan informasi BMKG yang dikutip sejumlah laporan, gempa tersebut memiliki magnitudo 7,7 dan berpusat di wilayah laut di sekitar Kabupaten Nagekeo dengan kedalaman relatif dangkal. Guncangan kuat dirasakan di sejumlah wilayah Flores.
Kekuatan gempa dan lokasi episenter yang berada di laut membuat BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami. Setelah dilakukan pemantauan dan evaluasi, peringatan tersebut kemudian dinyatakan berakhir. Pada fase awal pascagempa, BMKG juga mencatat terjadinya sejumlah aktivitas gempa susulan di kawasan NTT.
Namun, aktivitas seismik di wilayah tersebut belum sepenuhnya mereda. Hingga Rabu (19/8) pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 3.002 gempa susulan dengan magnitudo berkisar 1,1 hingga 6,2.
Dari ribuan aktivitas tersebut, 86 gempa susulan dilaporkan dirasakan oleh masyarakat. Sementara itu, sebanyak 25 gempa susulan tercatat memiliki magnitudo lebih dari 5.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menjelaskan, banyaknya gempa susulan setelah gempa utama merupakan bagian dari proses pelepasan energi dan penyesuaian kerak bumi menuju kondisi keseimbangan baru.
Karena itu, aktivitas gempa susulan masih berpotensi berlangsung dalam beberapa hari setelah gempa utama. Kondisi tersebut tidak serta-merta berarti akan terjadi gempa yang lebih besar, tetapi masyarakat di wilayah terdampak tetap perlu mengikuti informasi resmi dan menghindari bangunan yang mengalami kerusakan.
Fenomena ribuan gempa susulan setelah gempa besar bukan hal yang tidak lazim secara geofisika. Setelah sebuah gempa utama terjadi, energi dan perubahan tegangan pada kerak bumi dapat memicu rangkaian gempa lanjutan. Besarnya serta lamanya rangkaian tersebut dapat berbeda-beda bergantung pada karakteristik sumber gempa.
Gempa Flores juga memiliki dampak yang cukup luas. Laporan awal dari berbagai sumber menyebutkan kerusakan terjadi pada sejumlah bangunan dan infrastruktur di beberapa wilayah terdampak. Salah satu fasilitas yang dilaporkan mengalami kerusakan berat adalah Pelabuhan Lorens Say Maumere.
Kondisi tersebut membuat penanganan pascabencana tidak hanya berfokus pada pencarian dan pertolongan korban, tetapi juga pemeriksaan keamanan bangunan, pemenuhan kebutuhan pengungsi, pemulihan fasilitas umum, serta pemantauan aktivitas gempa.
Masyarakat yang berada di daerah terdampak juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Dalam situasi bencana, kabar mengenai gempa susulan, tsunami, maupun kondisi korban dapat berubah dengan cepat sehingga informasi sebaiknya diperoleh dari kanal resmi pemerintah, BNPB, BMKG, pemerintah daerah, dan lembaga terkait.
Gempa M7,7 di Flores menjadi salah satu bencana besar yang kembali menunjukkan tingginya risiko seismik di wilayah Nusa Tenggara Timur. Data BPS juga menunjukkan sejumlah kabupaten di NTT memiliki desa yang tercatat pernah terdampak bencana gempa dalam beberapa tahun terakhir, menggambarkan bahwa ancaman gempa merupakan salah satu risiko kebencanaan yang perlu terus diantisipasi.
Dengan korban meninggal yang kini mencapai 71 orang dan ribuan gempa susulan yang masih terpantau, masa tanggap darurat di NTT masih membutuhkan kewaspadaan tinggi. Pemerintah dan masyarakat perlu memastikan proses evakuasi, pendataan, bantuan kemanusiaan, serta pemeriksaan bangunan berjalan bersamaan agar risiko korban tambahan dapat ditekan.
Yang paling penting, warga tidak perlu panik menghadapi gempa susulan, tetapi juga tidak boleh mengabaikan peringatan keselamatan. Menjauhi bangunan yang rusak, mengikuti arahan petugas, dan memantau informasi BMKG serta BNPB menjadi langkah penting selama aktivitas gempa masih berlangsung.
Editor : Mahendra Aditya