Dugaan Intimidasi Aksi 'Merebut Kemerdekaan': 24 Sopir Kopaja Batal Angkut Massa BEM UI ke Bundaran HI

Ghina Nailal Husna • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:40 WIB
Dugaan Intimidasi Aksi
Dugaan Intimidasi Aksi 'Merebut Kemerdekaan': 24 Sopir Kopaja Batal Angkut Massa BEM UI ke Bundaran HI
 
RADAR KUDUS — Rangkaian dinamika mewarnai gelaran aksi unjuk rasa bertajuk #MerebutKemerdekaan yang diusung oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026).
 
Pihak panitia aksi mengemukakan adanya dugaan penekanan dan intimidasi yang dialami oleh armada transportasi umum yang sedianya dikerahkan untuk membawa massa mahasiswa menuju titik aksi.

Sebanyak 24 sopir bus Kopaja dilaporkan secara mendadak membatalkan sewa armada jemputan setelah menerima kontak dan tekanan dari pihak-pihak yang tidak dikenal.
 
Baca Juga: Heboh Rumah Warga Dipasangi Garis Polisi Usai Pidato Presiden Prabowo: Pengakuan Profesi dan Upah Mengupas Bawang Jadi Sorotan

Pengakuan BEM UI: Sopir Diancam Kehilangan Pekerjaan

Koordinator Lapangan Aksi Merebut Kemerdekaan, Hafidz Haernanda, menjelaskan bahwa belasan sopir armada angkutan tersebut dihubungi melalui sambungan telepon oleh pihak tertentu jelang keberangkatan dari kampus.
 
Para sopir diminta untuk membatalkan pesanan armada dengan mencari berbagai alasan teknis.

Pihak BEM UI menyatakan dapat memahami posisi pelik yang dihadapi oleh para pengemudi angkutan umum tersebut dan membebaskan mereka dari tuduhan pembatalan sepihak.

“Seluruh sopir mendapat dugaan intimidasi melalui telepon dari pihak tertentu dan diminta mencari alasan agar tidak menjemput rombongan mahasiswa.
 
Kami di BEM UI sama sekali tidak menyalahkan para pengemudi, karena kami tahu mereka berada dalam posisi tertekan, bahkan dikhawatirkan mengancam mata pencaharian atau pekerjaan mereka jika tetap mengangkut massa aksi,” terang Hafidz Haernanda.
  • Jumlah Armada Terdampak: 24 unit bus Kopaja batal mengangkut rombongan mahasiswa UI.
  • Modus Penekanan: Sambungan telepon dari pihak tertentu yang mendesak pembatalan jemputan.
  • Sikap Gerakan Mahasiswa: Memaklumi kondisi psikologis serta ancaman pekerjaan yang dialami para pengemudi.

Tetap Gelar Aksi: BEM UI Suarakan Isu Kerakyatan hingga Bencana NTT

1.Kendala Mobilisasi Massa:Dugaan pembatalan armada angkutan mahasiswa.
Sebanyak 24 armada Kopaja batal menjemput massa aksi akibat dugaan tekanan dari pihak tertentu jelang keberangkatan menuju Jakarta Pusat.

2.Penyampaian Risalah Tuntutan:Mahasiswa menembus titik kumpul Bundaran HI.
Meski terkendala fasilitas transportasi, rombongan BEM UI tetap berhasil tiba di lokasi aksi untuk menyoroti beban ekonomi dan ruang demokrasi.

3.Desakan Status Bencana Nasional:Sikap tegas atas isu daerah dan kebencanaan.
Mahasiswa mendesak pemerintah memberikan perhatian penuh pada daerah, termasuk penetapan status Bencana Nasional untuk bencana alam di Flores dan NTT.

Meskipun menghadapi hambatan dalam hal mobilisasi armada, ratusan mahasiswa BEM UI tetap berhasil memadati kawasan Bundaran HI untuk membacakan risalah tuntutan mereka kepada pemerintah.

Baca Juga: Lepas Masa Lajang: Dikta Wicaksono dan Rachel Cia Resmi Menikah di Bintaro usai Urus Berkas Sejak Juli
 
Selain isu ekonomi domestik—seperti desakan penurunan harga barang kebutuhan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM)—massa aksi turut menyoroti gejala pemusatan kekuasaan serta potensi intervensi aparat TNI-Polri di ruang-ruang sipil. 
 
Mahasiswa secara tegas menolak restrukturisasi dan penguatan militer melalui pembentukan batalyon baru di sejumlah daerah, serta meminta anggaran negara diprioritaskan bagi kesejahteraan rakyat.

Di samping itu, BEM UI juga menaruh perhatian pada krisis kemanusiaan di daerah dengan mendesak pemerintah pusat segera menetapkan status Bencana Nasional atas musibah gempa bumi yang melanda wilayah Flores dan Nusa Tenggara Timur (NTT). (*)
Editor : Ghina Nailal Husna
Sopir Kopaja diduga diintimidasi BEM UI aksi BEM UI Bundaran HI 18 Agustus Korlap Aksi Hafidz Haernanda BEM UI tuntut status Bencana Nasional NTT dugaan penghalangan aksi mahasiswa 2026