RADAR KUDUS - Dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus terungkap. Hingga Selasa (18/8/2026), BNPB mencatat 40.040 orang mengungsi dan 11.925 rumah mengalami kerusakan di sejumlah wilayah terdampak.
Angka tersebut menunjukkan besarnya dampak gempa yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pagi. BNPB menegaskan jumlah pengungsi tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah rumah yang rusak karena sebagian warga memilih mengungsi akibat trauma dan kekhawatiran terhadap gempa susulan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan sekitar 40 ribu warga telah tercatat mengungsi berdasarkan pendataan sementara. Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar.
Di Manggarai Timur, sekitar 15.465 orang tercatat mengungsi. Dari jumlah tersebut, 966 orang berada di posko BPBD, sementara sekitar 14 ribu lainnya memilih mengungsi secara mandiri.
Korban jiwa di wilayah tersebut juga cukup besar. BNPB mencatat 25 orang meninggal dunia, 442 orang mengalami luka berat, dan 513 lainnya mengalami luka ringan.
Kabupaten Manggarai menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak kedua, yakni 6.487 orang. Di wilayah ini, tercatat 27 korban meninggal dunia, 31 orang mengalami luka berat, dan 88 orang mengalami luka ringan.
Secara keseluruhan, kerusakan rumah mencapai 11.925 unit. Rinciannya terdiri atas 5.516 rumah rusak berat, 1.916 rusak sedang, dan 4.493 rusak ringan. Kabupaten Nagekeo, Manggarai Barat, dan Ngada termasuk wilayah dengan kerusakan rumah yang tinggi.
Besarnya kerusakan tersebut tidak terlepas dari karakter gempa utama. BMKG mencatat gempa terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58.24 WIB, dengan magnitudo 7,7 dan kedalaman 15 kilometer. Episentrum berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Gempa tersebut juga memicu peringatan dini tsunami. BMKG kemudian mencatat adanya kenaikan muka air laut di sejumlah lokasi. Pengamatan menunjukkan gelombang antara lain terdeteksi di Maurole, Ende, dengan ketinggian 0,94 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, Pelabuhan Kewapante 0,38 meter, dan beberapa lokasi lain di NTT.
Peringatan dini tsunami akhirnya dihentikan BMKG pada pukul 07.30 WIB pada hari yang sama. BMKG menjelaskan gempa tersebut berkaitan dengan mekanisme sesar naik atau thrust fault yang menyebabkan guncangan kuat dan memunculkan potensi tsunami.
Ancaman bagi warga belum sepenuhnya berakhir setelah gempa utama berlalu. Hingga 18 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 2.119 gempa susulan dengan magnitudo antara 1,3 hingga 6,2. Dari ribuan aktivitas tersebut, 24 gempa memiliki magnitudo di atas 5 dan 70 gempa susulan dirasakan masyarakat.
Situasi tersebut membuat warga diminta tetap waspada, terutama mereka yang rumahnya mengalami kerusakan. Bangunan yang telah terdampak gempa berpotensi menjadi lebih berbahaya apabila kembali diguncang gempa susulan.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah mulai memperkuat penanganan darurat. Bantuan logistik telah disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak, antara lain berupa beras, sembako, air minum, obat-obatan, matras, selimut, kasur, tenda, bahan bakar minyak, hingga genset.
Dukungan juga diarahkan ke lima kecamatan di Kabupaten Sikka, yakni Palue, Alok Barat, Hewokloang, Talibura, dan Kangae. Dua unit rumah sakit lapangan turut disiapkan untuk membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.
Pemulihan tidak hanya menyasar korban dan tempat pengungsian. Infrastruktur transportasi yang terganggu akibat bencana juga mulai ditangani.
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT menangani 32 dari 33 titik longsor yang sebelumnya mengganggu akses. Empat titik patahan jalan serta empat kerusakan jembatan juga dilaporkan sudah kembali fungsional.
Pengerahan alat berat dilakukan untuk mempercepat pemulihan. Setidaknya tujuh ekskavator dan empat loader digunakan di sejumlah titik rawan. Ruas Wolowaru-Maumere serta Jembatan Wae Pesi juga telah kembali dapat digunakan.
Sektor kelistrikan menunjukkan progres pemulihan yang signifikan. Jaringan listrik di Flores bagian timur dan barat dilaporkan telah mencapai 99,9 persen. Seluruh gardu induk dan penulang telah kembali beroperasi.
Dari total pelanggan yang terdampak, 566.525 pelanggan telah mendapatkan kembali aliran listrik, sementara 272 pelanggan masih dalam proses pemulihan.
Kondisi di Pulau Palue juga terus diperbaiki. Satu penyulang telah kembali beroperasi dan lima dari enam gardu distribusi telah menyala. Dari 1.921 pelanggan, sebanyak 1.625 atau sekitar 84,59 persen telah kembali mendapatkan layanan listrik.
Skala bencana ini memperlihatkan bahwa tantangan pemulihan tidak berhenti pada evakuasi korban. Pemerintah masih menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan warga mendapatkan tempat tinggal sementara, pelayanan kesehatan, akses jalan, listrik, air, dan kebutuhan dasar lainnya.
Besarnya jumlah warga yang mengungsi juga perlu dibaca secara hati-hati. BNPB menekankan bahwa angka pengungsi tidak secara otomatis menggambarkan jumlah rumah yang rusak. Sebagian masyarakat meninggalkan rumah karena faktor psikologis dan kekhawatiran terhadap ancaman gempa susulan.
Karena itu, pendataan kerusakan dan kebutuhan warga masih dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan. Data korban, pengungsi, dan kerusakan biasanya diperbarui setelah petugas dapat menjangkau seluruh wilayah terdampak.
Bagi masyarakat yang rumahnya rusak, imbauan keselamatan menjadi sangat penting. Warga sebaiknya tidak kembali memasuki bangunan yang mengalami kerusakan struktural sebelum dinyatakan aman oleh pihak berwenang.
Gempa M7,7 Flores menjadi pengingat bahwa wilayah NTT memiliki risiko gempa dan tsunami yang tinggi. Katalog tsunami BMKG mencatat sejumlah peristiwa tsunami bersejarah di NTT, termasuk tsunami besar pada 1992 yang berkaitan dengan gempa M7,5 dan tercatat mencapai ketinggian hingga 25 meter di sejumlah lokasi.
Untuk kejadian 15 Agustus 2026, fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga sekaligus mempercepat pemulihan. Dengan masih terjadinya ribuan gempa susulan, masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap mengikuti informasi resmi BMKG, BNPB, pemerintah daerah, serta petugas di lapangan.
Editor : Mahendra Aditya