Dobrak Tradisi VIP: Upacara HUT Ke-81 RI di Kulon Progo Digelar Tanpa Tenda Pejabat, Semua Peserta Berdiri Sejajar

Ghina Nailal Husna • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 13:38 WIB
obrak Tradisi VIP: Upacara HUT Ke-81 RI di Kulon Progo Digelar Tanpa Tenda Pejabat, Semua Peserta Berdiri Sejajar
obrak Tradisi VIP: Upacara HUT Ke-81 RI di Kulon Progo Digelar Tanpa Tenda Pejabat, Semua Peserta Berdiri Sejajar
 
RADAR KUDUS — Pemandangan berbeda dan syarat makna tersaji dalam Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo di Alun-Alun Wates, Senin (17/8/2026).
 
Pihak panitia secara khusus meniadakan fasilitas tenda peneduh dan kursi VIP bagi jajaran pejabat daerah maupun jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Kebijakan mendobrak tradisi protokol kenegaraan ini diambil guna menghapus kesenjangan fasilitas serta memangkas sekat psikologis antara jajaran elit pimpinan daerah dan seluruh peserta upacara di tengah terik matahari.
 
Baca Juga: MUI Ingatkan Larangan Pria Berbusana Wanita di Lomba 17-an: Hukumnya Tetap Haram

Konsep 'Satu Rasa, Satu Jiwa': Berdiri Sama Tinggi, Duduk Sama Rendah

Bertindak selaku inspektur upacara, Penjabat (Pj) Bupati Kulon Progo Agung Setyawan memimpin langsung jalannya pengibaran bendera Merah Putih dengan berdiri sejajar di tengah lapangan bersama Wakil Bupati Ambar Purwoko, jajaran Forkopimda, aparatur sipil negara (ASN), hingga pelajar dan masyarakat umum.

Agung menjelaskan bahwa peniadaan fasilitas eksklusif seperti bangku empuk dan naungan tenda dirancang untuk menghidupkan kembali esensi kesetaraan, empati, serta jiwa solidaritas di tingkat daerah.

“Untuk pelaksanaan upacara di Kulon Progo tahun ini, kami memakai konsep satu rasa, satu jiwa, di mana kita semua berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.
 
Tidak ada perbedaan antara tamu undangan VIP dan seluruh peserta upacara di lapangan,” tegas Agung Setyawan usai memimpin upacara.
  • Peniadaan Tenda peneduh: Seluruh elemen pimpinan daerah berada langsung di bawah terik matahari bersama barisan peserta upacara lainnya.
  • Peniadaan Kursi VIP: Menghilangkan persepsi eksklusivitas pejabat dalam perayaan momen bersejarah nasional.
  • Penguatan Empati Sosial: Menjadikan refleksi kemerdekaan sebagai momentum menyatukan jiwa pimpinan dengan rakyat tanpa pembatas teknis.
“Motivasinya adalah agar kita semua merasakan satu hal yang sama. Jiwa kita tersambung dalam sebuah kebersamaan dan tidak ada sekat antara satu peserta dengan peserta yang lain,” tambahnya.

Doa Bersama Korban Bencana NTT dan Penyerahan Remisi Rutan Wates

1.Penerapan Konsep Kesetaraan:Persiapan lapangan tanpa panggung eksklusif.
Panitia menata ulang area Alun-Alun Wates agar seluruh peserta berdiri sejajar tanpa sekat panggung VIP maupun peneduh khusus.

2.Pengheningan Cipta dan Doa untuk NTT:Wujud empati bagi bencana nasional.
Rangkaian upacara disisipi pengheningan cipta serta doa bersama bagi warga terdampak gempa bumi yang tengah melanda Nusa Tenggara Timur.

3.Simbol Kemerdekaan dan Humanisme:Penyerahan hak remisi warga binaan.
Acara diakhiri dengan penyerahan Surat Keputusan Remisi Umum Kemerdekaan secara simbolis bagi warga binaan di Rutan Klas IIB Wates.

 
Selain nuansa kesetaraan yang kental, rangkaian upacara juga diwarnai aksi solidaritas nasional. 
 
Seluruh peserta upacara diajak menundukkan kepala sejenak untuk mendoakan proses penanganan bencana dan keselamatan warga terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sisi humanis perayaan kemerdekaan di Kulon Progo ini kian lengkap dengan dilakukannya penyerahan Remisi Umum Kemerdekaan secara resmi bagi warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB Wates sebagai wujud pemenuhan hak konstitusional warga negara. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna
Upacara HUT RI Kulon Progo tanpa tenda VIP Bupati Kulon Progo Agung Setyawan upacara kesetaraan konsep satu rasa satu jiwa upacara Alun-Alun Wates perayaan HUT ke-81 RI Kulon Progo remisi kemerdekaan Rutan Klas IIB Wates