RADAR KUDUS — Rangkaian aktivitas tektonik pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang menghentak wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu lalu masih terus berlangsung.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 235 kali gempa susulan (aftershocks) telah terjadi hingga pembaruan data pada Minggu pukul 14.00 WIB.
Frekuensi gempa susulan yang masih tinggi ini menambah trauma warga di area terdampak, sekaligus memicu kewaspadaan ekstra dalam proses evakusi dan penanganan darurat di lapangan.
Korban Jiwa dan Pengungsian Massal
Berdasarkan laporan pembaruan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dampak kerusakan fisik maupun korban jiwa akibat gempa utama dan ancaman gelombang tsunami mengalami peningkatan signifikan.
-
Korban Meninggal Dunia: Tercatat 51 orang dilaporkan meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat gempa utama terjadi.
-
Warga Mengungsi: Lebih dari 5.000 jiwa kini berada di titik-titik pengungsian terpusat maupun melakukan evakuasi mandiri ke wilayah dataran tinggi.
-
Respon Peringatan Tsunami: Eksodus warga menuju tempat aman sempat terjadi saat BMKG memicu status Peringatan Dini Tsunami (mulai level Waspada hingga Siaga) untuk kawasan pesisir NTT, NTB, hingga Sulawesi Selatan sebelum akhirnya dicabut.
“Tim Reaksi Cepat bersama instansi gabungan terus menyisir area terdampak untuk memastikan seluruh korban terevakuasi serta kebutuhan logistik dasar pengungsi dapat terpenuhi,” tulis pihak BNPB dalam keterangannya.
Kerusakan Infrastruktur dan Fasilitas Publik
Pemerintah terus mengimbau warga agar tidak memaksakan diri kembali ke dalam rumah atau bangunan yang struktur temboknya sudah retak guna menghindari risiko susulan dari fluktuasi gempa yang masih terjadi. (*)