JAKARTA – Indonesia dan Korea Selatan memiliki sebuah persamaan sejarah yang menarik. Kedua negara sama-sama memasuki momentum kemerdekaan pada 1945, dengan peringatan yang hanya berselang dua hari.
Korea Selatan memperingati Gwangbokjeol atau Hari Pembebasan Nasional setiap 15 Agustus, sedangkan Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan setiap 17 Agustus. Pada 2026, kedua negara sama-sama memperingati 81 tahun momentum bersejarah tersebut.
Kesamaan sejarah itu kemudian dipertemukan dalam sebuah pameran fotografi dan arsip sejarah di Jakarta.
Pameran mempertemukan sejarah RI dan Korea
Pameran bertajuk "My Wish, Our Wish: Road to Freedom" digelar di ANTARA Heritage Center, Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Kegiatan tersebut dibuka Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon pada 12 Agustus 2026. Pameran merupakan kolaborasi Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) dan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA.
Pameran menghadirkan foto, dokumen, serta arsip yang merekam perjalanan perjuangan menuju kebebasan. Sejarah perjuangan Korea melalui tokoh Kim Koo dipertemukan dengan berbagai dokumentasi perjalanan Indonesia menuju Proklamasi Kemerdekaan.
Kegiatan tersebut dibuka untuk masyarakat umum pada 13-31 Agustus 2026.
Sama-sama punya sejarah perjuangan kemerdekaan
Wakil Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia Chung Hae-Kwan menilai Indonesia dan Korea Selatan memang memiliki perbedaan tradisi dan warisan budaya. Namun, keduanya memiliki persamaan penting dalam sejarah, yakni perjuangan untuk menentukan nasib bangsa sendiri.
Korea.net menjelaskan bahwa 15 Agustus 1945 menjadi momentum berakhirnya penjajahan Jepang selama 35 tahun di Korea. Hari tersebut kemudian dikenal sebagai Gwangbokjeol, yang secara harfiah bermakna hari kembalinya cahaya.
Sementara itu, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 melalui Soekarno dan Mohammad Hatta.
Perbedaan dua hari tersebut membuat momentum kemerdekaan kedua negara memiliki kedekatan historis yang menarik untuk diangkat dalam kerja sama kebudayaan.
Kim Koo dan Soekarno-Hatta menjadi simbol perjuangan
Pameran tersebut turut menampilkan kisah Kim Koo, salah satu tokoh penting dalam gerakan kemerdekaan Korea.
Dalam konteks Indonesia, perjuangan menuju kemerdekaan tidak dapat dilepaskan dari sosok Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai proklamator.
Fadli Zon mengatakan arsip sejarah memiliki peran penting dalam menjaga ingatan kolektif sebuah bangsa. Foto, dokumen, dan manuskrip dapat menjadi jembatan bagi generasi sekarang untuk memahami peristiwa masa lalu.
Pandangan tersebut sejalan dengan tujuan program Memory of the World UNESCO yang mendorong pelestarian warisan dokumenter dunia, memperluas akses terhadap arsip, serta meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya warisan dokumenter.
Mengapa Gedung ANTARA dipilih?
Pemilihan ANTARA Heritage Center sebagai lokasi pameran juga memiliki makna sejarah.
Gedung tersebut berkaitan dengan perjalanan penyebaran informasi mengenai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Karena itu, lokasi pameran dinilai relevan dengan tema arsip, dokumentasi, dan perjuangan menuju kebebasan.
Fadli Zon bahkan mendorong ANTARA Heritage Center agar dapat memperoleh status sebagai cagar budaya nasional. Menurutnya, pengakuan tersebut dapat memperkuat upaya pemeliharaan bangunan yang memiliki nilai sejarah bagi bangsa Indonesia.
Generasi muda diharapkan memahami sejarah
Pameran RI-Korea tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengenang masa lalu. Kedua pihak berharap kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda.
Chung Hae-Kwan berharap generasi muda Indonesia dan Korea Selatan dapat memahami perjuangan para pendahulu serta mengambil semangat yang relevan untuk menghadapi masa depan.
Hubungan kedua negara pun tidak berhenti pada kerja sama sejarah dan kebudayaan. Pemerintah Indonesia berharap kolaborasi dengan KCCI terus berkembang, termasuk dalam bidang budaya dan industri kreatif.
Kemerdekaan Korea punya makna khusus
Ada satu perbedaan penting dalam konteks sejarah kedua negara. Korea memperingati 15 Agustus sebagai hari pembebasan dari kekuasaan kolonial Jepang. Pemerintah Republik Korea sendiri kemudian berdiri pada 15 Agustus 1948.
Karena itu, Gwangbokjeol tidak hanya menjadi momentum mengenang berakhirnya penjajahan, tetapi juga memiliki kaitan kuat dengan perjalanan terbentuknya negara Korea modern.
Sementara Indonesia menetapkan 17 Agustus 1945 sebagai tanggal Proklamasi Kemerdekaan.
Dengan jarak hanya dua hari dan sama-sama berlatar tahun 1945, kisah kemerdekaan Indonesia dan Korea Selatan menjadi titik temu menarik dalam diplomasi budaya.
Pameran "My Wish, Our Wish: Road to Freedom" di Jakarta akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertunjukan foto. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan memori sejarah dua bangsa Asia yang pernah mengalami perjuangan panjang menuju kebebasan.
Editor : Mahendra Aditya