RADAR KUDUS - Michael Bambang Hartono meninggalkan transfer kekayaan dalam skala sangat besar setelah wafat pada Maret 2026. Empat anaknya disebut menerima pengalihan 49 persen kepemilikan di PT Dwimuria Investama Andalan, perusahaan yang menjadi pemegang saham pengendali PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Berdasarkan laporan yang dikutip dari media internasional, nilai kepemilikan Michael di Dwimuria diperkirakan mencapai sekitar US$11,7 miliar atau Rp209,12 triliun berdasarkan valuasi per 11 Agustus 2026. Jika 49 persen kepemilikan tersebut dibagi rata kepada empat ahli waris, nilainya setara sekitar US$2,93 miliar atau Rp52,3 triliun per anak, dengan asumsi kurs Rp17.870 per dolar AS.
Namun, angka tersebut perlu dipahami sebagai estimasi nilai kepemilikan saham, bukan berarti setiap anak menerima uang tunai Rp52,3 triliun.
Michael Bambang Hartono meninggal dunia di Singapura pada 19 Maret 2026 dalam usia 86 tahun. Ia merupakan salah satu tokoh utama Grup Djarum dan bersama adiknya, Robert Budi Hartono, menjadi pengendali BCA melalui PT Dwimuria Investama Andalan.
Dalam struktur kepemilikan BCA, Dwimuria tercatat menguasai 54,94 persen saham BCA. Laporan keuangan BCA per Maret 2026 masih mencatat Robert Budi Hartono dan Bambang Hartono sebagai pemegang saham Dwimuria sekaligus pengendali terakhir BCA
Michael sendiri memiliki 49 persen saham Dwimuria, sedangkan Robert Budi Hartono menguasai 51 persen sisanya. Dengan demikian, bagian Michael atas holding tersebut berkaitan langsung dengan kepemilikan tidak langsung keluarga Hartono di BCA.
Setelah Michael meninggal, proses pengalihan kepemilikan tersebut kemudian tercermin dalam perubahan struktur pengendali. Dalam keterbukaan informasi, BCA menyampaikan bahwa PT Dwimuria Investama Andalan sebelumnya dikendalikan oleh Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono. Setelah perubahan tersebut, Robert Budi Hartono menjadi pemegang saham pengendali terakhir BCA.
BCA juga mengungkapkan bahwa pada 30 Juli 2026 perseroan menerima surat OJK tertanggal 29 Juli 2026 yang mencatat perubahan struktur kepemilikan akhir tersebut. Dengan perubahan itu, Robert Budi Hartono menjadi Pemegang Saham Pengendali Terakhir (PSPT) BCA.
Besarnya nilai transfer kekayaan tersebut membuat pewarisan Michael Hartono menjadi salah satu transfer kekayaan keluarga terbesar di Asia dalam beberapa tahun terakhir. Media internasional bahkan membandingkannya dengan warisan mendiang Wee Cho Yaw, pendiri United Overseas Bank asal Singapura, yang diperkirakan bernilai sekitar US$10 miliar.
Empat anak Michael yang disebut sebagai ahli waris adalah Stefanus Hartono, Vanessa Hartono, Tessa Natalia Damayanti Hartono, dan Roberto Hartono. Keempatnya merupakan generasi ketiga keluarga Hartono yang diproyeksikan melanjutkan bisnis keluarga.
Kekayaan keluarga Hartono sendiri tidak hanya berasal dari BCA. Kerajaan bisnis keluarga mencakup PT Djarum, bisnis properti, perkebunan, industri elektronik melalui Polytron, hingga bisnis digital melalui PT Global Digital Niaga Tbk atau Blibli.
Michael juga tercatat mempunyai kepentingan di sejumlah perusahaan terbuka. Bloomberg Technoz melaporkan bahwa selain kepemilikan tidak langsung di BCA, Michael memiliki sekitar 32 persen saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk melalui PT Sapta Adhikari Investama dan sekitar 34 persen saham PT Global Digital Niaga Tbk.
Sementara itu, Forbes mencatat Michael Hartono sebagai salah satu orang terkaya Indonesia. Profil Forbes yang diperbarui pada Maret 2026 memperkirakan kekayaannya mencapai US$18,9 miliar sebelum kematiannya. Kekayaan tersebut terutama berkaitan dengan bisnis tembakau keluarga dan kepemilikan di BCA.
Besarnya angka Rp52,3 triliun per orang karena itu harus dibaca secara hati-hati. Nilai tersebut merupakan perhitungan atas nilai saham yang dialihkan, sehingga nilainya dapat berubah mengikuti harga saham dan valuasi perusahaan. Itu juga bukan berarti seluruh aset Michael telah berubah menjadi uang tunai dan dibagikan kepada empat anaknya.
Jika mengacu pada struktur BCA, posisi strategis keluarga Hartono juga tidak berubah secara drastis. Dwimuria tetap menjadi pemegang saham pengendali BCA dengan sekitar 54,94 persen saham, tetapi perubahan di tingkat pemilik Dwimuria membuat Robert Budi Hartono kini tercatat sebagai pengendali terakhir bank tersebut.
Transfer ini sekaligus menandai babak baru suksesi bisnis keluarga Hartono. Michael telah meninggalkan empat anak sebagai generasi penerus, sementara Robert Budi Hartono tetap memegang posisi penting dalam struktur kepemilikan bisnis keluarga.
Dengan nilai estimasi sekitar Rp209 triliun untuk 49 persen kepemilikan Michael di Dwimuria, pembagian kepada empat anak tersebut berpotensi menjadi salah satu contoh transfer kekayaan antargenerasi terbesar di Indonesia. Namun, angka Rp52,3 triliun per orang tetap merupakan estimasi berdasarkan valuasi saham, bukan nilai kas yang secara langsung diterima masing-masing ahli waris.
Editor : Mahendra Aditya