MAHAKAM ULU — Kemarau yang membuat Sungai Mahakam surut kini memukul langsung kehidupan warga Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Distribusi logistik tersendat, stok BBM menipis, dan warga harus mengantre sejak subuh hanya untuk mendapatkan kupon pembelian Pertalite maksimal 5 liter per hari.
Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana rendahnya debit sungai dapat berubah menjadi persoalan ekonomi serius di wilayah hulu Mahakam. Ketika jalur sungai yang selama ini menjadi urat nadi pengiriman barang tidak lagi optimal, biaya angkut meningkat dan pasokan kebutuhan masyarakat ikut terganggu.
Salah seorang warga Long Penaneh II, Kornelius Dalung, mengatakan APMS setempat kini membatasi pembelian Pertalite. Setiap hari sekitar 200 kupon disediakan untuk warga, tetapi mekanisme tersebut belum sepenuhnya berjalan lancar.
Baca Juga: 5 Mobil Keluarga 7-Seater Paling Irit 2026, Veloz Hybrid Tembus 28,9 Km/Liter
Warga harus datang sejak pagi untuk mendapatkan kupon, kemudian kembali menunggu hingga penjualan BBM dibuka sekitar pukul 07.00 WITA. Persoalan muncul ketika warga yang sudah mengantongi kupon kembali ke lokasi, tetapi stok BBM disebut telah habis.
“Warga harus antre kupon yang disiapkan APMS sejak subuh, lalu antre lagi untuk menukarkan kupon dengan BBM,” kata Dalung, Rabu (12/8/2026).
Krisis pasokan tersebut juga mendorong harga BBM eceran melonjak. Berdasarkan pemantauan Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu per 10 Agustus 2026, harga bensin eceran di Long Apari telah mencapai sekitar Rp30.000 per liter, atau dua kali lipat dari harga normal sekitar Rp15.000 per liter.
Baca Juga: E20 Ditargetkan Berlaku 2029, Indonesia Harus Siapkan 4 Juta KL Bioetanol per Tahun
Bukan hanya bensin. Warga juga menghadapi mahalnya solar dan LPG. Menurut laporan dari lapangan, solar eceran disebut mencapai sekitar Rp50.000 per liter, sementara LPG ukuran 12 kilogram berada di kisaran Rp700.000-Rp800.000.
Kenaikan harga tersebut tidak semata-mata menunjukkan barang benar-benar tidak tersedia. Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu sebelumnya menjelaskan bahwa persoalan utama berada pada terganggunya jalur distribusi akibat Sungai Mahakam yang surut, sehingga ongkos membawa barang dari wilayah bawah ke kawasan hulu meningkat drastis.
Dampaknya merembet ke kebutuhan pokok. Harga beras ukuran 25 kilogram dilaporkan telah mencapai sekitar Rp850.000 per sak, sementara laporan lain dari wilayah tersebut menyebut harga beras bahkan mendekati Rp1 juta per karung. Perbedaan angka tersebut menunjukkan harga sangat bergantung pada lokasi dan ketersediaan stok di tingkat pengecer.
Situasi Long Apari tidak bisa dilepaskan dari kondisi iklim tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli-September, dengan Agustus menjadi periode puncak di 369 Zona Musim atau sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia. Sebagian besar Kalimantan termasuk wilayah yang diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Agustus.
Dalam pembaruan prediksi musim kemarau 2026, BMKG juga memasukkan Kabupaten Mahakam Ulu ke dalam zona musim yang mengalami periode kemarau dengan karakter yang perlu diwaspadai.
BMKG sebelumnya memperingatkan bahwa musim kemarau 2026 di sejumlah wilayah Indonesia cenderung lebih kering. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan dan berbagai gangguan terhadap aktivitas masyarakat, termasuk sektor pertanian, ketersediaan air dan distribusi kebutuhan.
Baca Juga: Pertalite Ditata, Prabowo Ungkap Potensi Hemat Motor Listrik hingga 70 Persen
Bagi warga Long Apari, persoalannya kini bukan sekadar cuaca panas atau berkurangnya air sungai. Sungai Mahakam yang surut membuat jalur distribusi yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat tidak mampu berfungsi secara normal.
Karena itu, pembatasan pembelian Pertalite menjadi langkah darurat untuk membagi stok yang terbatas. Namun, warga menilai sistem tersebut masih perlu diperbaiki agar tidak menimbulkan antrean berulang dan memastikan masyarakat yang sudah memperoleh kupon benar-benar mendapatkan haknya.
Dalung mengusulkan agar pendataan pembeli dilakukan menggunakan KTP atau kartu keluarga sehingga distribusi lebih terkontrol dan tidak bergantung sepenuhnya pada sistem kupon.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan terhadap akses transportasi alternatif menjadi semakin mendesak. Warga berharap pembangunan jalan darat menuju kawasan hulu Mahakam dapat dipercepat agar ketergantungan terhadap jalur sungai tidak terlalu besar.
Baca Juga: Pertalite Mulai Ditata, Motor Listrik Disebut Bisa Pangkas Konsumsi BBM Miliaran Liter
Jalan darat bukan sekadar persoalan konektivitas. Bagi wilayah seperti Long Apari, akses tersebut berkaitan langsung dengan harga barang, ketersediaan BBM, distribusi pangan, layanan kesehatan hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Pemerintah daerah kini menyiapkan sejumlah langkah penanganan, termasuk operasi pasar dan dukungan terhadap biaya distribusi, sembari mendorong percepatan pembangunan akses darat menuju kawasan hulu.
Krisis Long Apari pada akhirnya memperlihatkan betapa rentannya wilayah pedalaman yang hanya memiliki sedikit jalur logistik. Ketika satu-satunya jalur distribusi utama terganggu akibat kondisi alam, efeknya tidak berhenti pada keterlambatan barang. Harga BBM melonjak, pangan ikut mahal, gas sulit diperoleh, dan warga harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa liter bahan bakar.
Dengan kondisi Pertalite yang dibatasi 5 liter per orang per hari, antrean sejak subuh, dan harga eceran mencapai Rp30.000 per liter, kemarau di Long Apari telah berubah menjadi persoalan ketahanan logistik.
Masalah tersebut menunjukkan bahwa penanganan kemarau di Mahakam Ulu tidak cukup hanya dengan memastikan stok barang tersedia. Pemerintah perlu memastikan jalur distribusinya tetap hidup, terutama bagi masyarakat yang berada jauh dari pusat ekonomi dan tidak memiliki banyak pilihan moda transportasi.
Editor : Mahendra Aditya