Destry Damayanti, Ekonom di Balik Bursa Kursi Gubernur BI: Dari Citibank hingga Bank Indonesia

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 18:13 WIB

 

Profil Destry Damayanti yang Menuju Kursi Gubernur BI.
Profil Destry Damayanti yang Menuju Kursi Gubernur BI.

JAKARTA — Nama Destry Damayanti kini menjadi pusat perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto mengajukannya sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) kepada DPR RI. Namun, perjalanan perempuan kelahiran Jakarta 1963 itu menuju kursi tertinggi bank sentral tidak terjadi secara singkat.

Destry merupakan ekonom dengan pengalaman panjang melintasi dunia akademik, pemerintahan, perbankan, pasar modal, hingga bank sentral. Rekam jejak tersebut menjadi modal utama yang kini membawanya ke tahap baru: menjalani proses politik di DPR untuk memperebutkan posisi Gubernur BI definitif.

Presiden Prabowo mengirimkan Surat Presiden (Surpres) berisi satu nama calon Gubernur BI kepada DPR pada Senin (10/8/2026). Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan nama yang diajukan adalah Destry Damayanti, yang saat ini berstatus sebagai pejabat gubernur sementara BI.

Baca Juga: Prabowo Ajukan Destry Damayanti sebagai Calon Tunggal Gubernur BI, Rupiah Langsung Menguat

"Namanya tunggal, satu nama Bu Destry," ujar Prasetyo di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Pencalonan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa Destry bukan figur yang datang dari luar institusi. Sebelum menjadi pejabat gubernur sementara, ia telah menduduki posisi Deputi Gubernur Senior BI selama dua periode.

Bank Indonesia mencatat Destry pertama kali ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Senior melalui Keputusan Presiden Nomor 74/P Tahun 2019 untuk masa jabatan 2019-2024. Pada 2024, ia kembali dipercaya mengisi posisi yang sama untuk periode 2024-2029 melalui Keputusan Presiden Nomor 74/P Tahun 2024. Ia mengucapkan sumpah jabatan pada 7 Agustus 2024.

Posisi Destry kemudian berubah setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur BI. Bank Indonesia menyatakan pengunduran diri tersebut dilakukan secara sukarela karena alasan pribadi pada 25 Juli 2026. Sehari setelahnya, sesuai mekanisme yang berlaku, Destry sebagai Deputi Gubernur Senior ditetapkan sebagai pejabat gubernur sementara.

Dari titik itulah perjalanan karier Destry memasuki babak yang lebih menentukan. Jika mendapat persetujuan DPR, ia tidak lagi hanya menjadi pejabat sementara, tetapi akan menjadi pemegang mandat penuh sebagai Gubernur BI.

Perjalanan profesional Destry sendiri dimulai jauh sebelum berada di jajaran pimpinan bank sentral.

Ia lahir di Jakarta pada 1963 dan menempuh pendidikan ekonomi di Universitas Indonesia. Setelah itu, Destry melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat dan meraih gelar Master of Science dalam bidang Regional Science dari Cornell University, New York, pada 1992.

Latar belakang tersebut kemudian menjadi fondasi bagi perjalanan panjangnya sebagai ekonom.

Dalam catatan Bank Indonesia, Destry pernah berkarier sebagai peneliti dan pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Ia juga pernah bekerja di Kementerian Keuangan pada periode 1992-1997 dan menjadi ekonom Citibank pada 1997-2000. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Senior Economic Adviser Duta Besar Inggris untuk Indonesia hingga 2003.

Pengalaman Destry kemudian semakin dekat dengan dunia pasar keuangan. Ia menjadi Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas pada 2005-2011, sebelum melanjutkan karier sebagai Kepala Ekonom Bank Mandiri pada 2011-2015.

Pada periode yang hampir bersamaan, Destry juga dipercaya memimpin Task Force Ketahanan Ekonomi di Kementerian BUMN pada 2014-2015. Setelah itu, ia masuk ke Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai anggota Dewan Komisioner untuk periode 2015-2019.

Jalur karier tersebut membuat rekam jejak Destry berbeda dari sekadar birokrat. Ia memiliki pengalaman di sektor publik sekaligus memahami dinamika industri keuangan dan pasar.

Sebelum masuk ke BI, Destry juga pernah dipercaya Presiden menjadi Ketua Panitia Seleksi Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi periode 2015-2019. Catatan tersebut menambah pengalaman Destry dalam proses tata kelola kelembagaan dan seleksi pejabat publik.

Masuknya Destry ke BI pada 2019 menjadi titik penting dalam kariernya. Sebagai Deputi Gubernur Senior, ia berada dalam jajaran Dewan Gubernur yang terlibat dalam berbagai pengambilan keputusan strategis bank sentral.

Pengalaman selama hampir tujuh tahun di jajaran pimpinan BI juga menjadi faktor penting dalam pencalonannya sekarang. Destry telah memahami secara langsung bagaimana bank sentral merespons gejolak nilai tukar, inflasi, sistem pembayaran, stabilitas sistem keuangan serta dinamika perekonomian global.

Dalam uji kelayakan dan kepatutan untuk posisi Deputi Gubernur Senior pada 2024, Destry juga telah berhadapan dengan Komisi XI DPR. Salah satu isu yang dibahas saat itu adalah perkembangan sistem pembayaran digital dan penggunaan rupiah dalam transaksi. Dalam forum tersebut, Destry menjelaskan posisi BI terkait penggunaan uang tunai dan digitalisasi sistem pembayaran.

Kini, pengalaman tersebut kembali diuji dalam skala yang jauh lebih besar.

Komisi XI DPR akan menjadi salah satu aktor penting dalam proses pencalonan Destry sebagai Gubernur BI. DPR tidak hanya akan melihat pengalaman teknisnya, tetapi juga rekam jejak, integritas, independensi, kemampuan menjaga kepercayaan pasar serta visi Destry terhadap masa depan bank sentral.

Komisi XI DPR sendiri menegaskan bahwa calon Gubernur BI harus memiliki integritas, rekam jejak yang kuat serta kemampuan menjaga independensi bank sentral.

Tantangan yang menanti Destry juga tidak ringan. Bank Indonesia memiliki mandat menjaga stabilitas nilai rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran dan turut menjaga stabilitas sistem keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Pada saat pencalonannya muncul, kondisi ekonomi juga menempatkan BI pada persimpangan penting. Bank sentral pada 21-22 Juli 2026 mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Sementara itu, rupiah masih menghadapi tekanan dan dinamika pasar global yang dapat berubah cepat.

Artinya, bila kelak resmi menjadi Gubernur BI, Destry tidak hanya meneruskan pekerjaan administratif dari pejabat sebelumnya. Ia akan menghadapi tantangan menjaga kredibilitas kebijakan moneter sekaligus memastikan stabilitas rupiah dan sistem keuangan tetap terjaga.

Pencalonan Destry juga mendapat perhatian pasar karena memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah transisi kepemimpinan BI setelah pengunduran diri Perry Warjiyo.

Meski demikian, Destry belum dapat disebut sebagai Gubernur BI definitif. Pengajuan Presiden masih harus melalui proses di DPR, termasuk uji kelayakan dan kepatutan sebelum keputusan akhir diberikan.

Jika lolos, perjalanan panjang Destry dari ruang akademik, Kementerian Keuangan, Citibank, pasar modal, Bank Mandiri, LPS hingga Bank Indonesia akan mencapai puncaknya di kursi Gubernur BI.

Profil tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pencalonannya kini mendapat sorotan. Destry bukan pendatang baru di dunia kebijakan ekonomi. Ia justru merupakan bagian dari ekosistem ekonomi Indonesia selama puluhan tahun dan telah berada di lingkaran pengambil kebijakan bank sentral sejak 2019.

Kini, publik menunggu satu tahap penting: apakah pengalaman panjang tersebut cukup untuk meyakinkan DPR bahwa Destry Damayanti adalah sosok yang tepat untuk memimpin Bank Indonesia dalam menghadapi tekanan ekonomi dan perubahan lanskap keuangan global.

Editor : Mahendra Aditya
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti profil Destry Damayanti calon Gubernur BI Destry Damayanti BI