Profil Gus Rozin, Ketua PWNU Jateng yang Siap Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 18:25 WIB
Ketua PWNU Jateng Gus Rozin (istimewa)
Ketua PWNU Jateng Gus Rozin (istimewa)

JAKARTA – Nama KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin mulai menjadi salah satu perhatian menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah itu telah menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Pernyataan tersebut disampaikan Gus Rozin di hadapan para Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Tengah dalam agenda silaturahmi di Salatiga pada 15 Juli 2026. Ia menegaskan pencalonannya bukan semata-mata untuk memperbesar persaingan antartokoh, tetapi menawarkan gagasan dan alternatif untuk membawa NU menghadapi tantangan organisasi ke depan.

Kontestasi tersebut akan berlangsung dalam Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Keputusan mengenai lokasi dan jadwal itu ditetapkan melalui rapat gabungan Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU pada 7 Juli 2026.

Tumbuh dari tradisi pesantren

Gus Rozin bukan sosok baru dalam lingkungan pesantren maupun NU. Ia dikenal sebagai pengasuh Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, sekaligus tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan pendidikan pesantren.

Gus Rozin tumbuh di lingkungan pesantren Kajen, Margoyoso, Pati, yang memiliki tradisi keilmuan kuat. Pendidikan dasarnya hingga tingkat menengah ditempuh di Perguruan Islam Mathali'ul Falah (PIM) Kajen. Ia tercatat menyelesaikan jenjang MI pada 1988, MTs pada 1992, dan MA pada 1995.

Gus Rozin merupakan putra KH M Djamaluddin Ahmad dan Nyai Khuriyah Abdul Fattah. Nyai Khuriyah disebut sebagai putri KH Abdul Fattah dan Nyai Musyarofah, sedangkan Nyai Musyarofah merupakan putri KH Bisri Syansuri. Dengan silsilah tersebut, Gus Rozin disebut memiliki hubungan keturunan dengan salah satu tokoh penting pendiri NU tersebut.

Pengaruh pemikiran KH Sahal Mahfudh

Lingkungan pendidikan yang membentuk Gus Rozin tidak hanya memberikan bekal keagamaan, tetapi juga cara pandang terhadap persoalan sosial.

KH MA Sahal Mahfudh dikenal sebagai salah satu ulama besar NU. Ia pernah menjabat Rais Aam PBNU pada periode 1999–2014 dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 2000–2014. Pemikiran KH Sahal juga banyak dikenal melalui konsep fikih sosial yang berupaya menghubungkan tradisi keilmuan Islam dengan persoalan konkret masyarakat.

Pengaruh lingkungan tersebut terlihat dalam kiprah Gus Rozin yang tidak hanya berkutat pada aktivitas keagamaan. Ia juga bergerak dalam bidang pendidikan, pengembangan pesantren, organisasi, hingga kebijakan publik.

Profil IPMAFA mencatat Gus Rozin pernah dan masih memiliki sejumlah peran di bidang pendidikan serta kelembagaan pesantren. Ia tercatat sebagai pengasuh Pesantren Maslakul Huda dan pernah menjadi rektor Institut Pesantren Mathaliul Falah.

Rekam jejak di dunia pesantren dan NU

Sebelum memimpin PWNU Jawa Tengah, Gus Rozin telah lama terlibat dalam organisasi pesantren yang berafiliasi dengan NU. Ia pernah menjadi Chief Executive Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU, organisasi yang menaungi jaringan pesantren NU.

Dalam rekam jejak profesionalnya, Gus Rozin juga pernah menjalankan sejumlah tugas di lembaga publik dan organisasi. Profil yang tersedia mencatat keterlibatannya dalam Majelis Masyayikh Pesantren Indonesia, Majelis Ulama Indonesia, hingga sejumlah posisi di bidang pendidikan dan kebijakan.

Peran tersebut memperlihatkan bahwa kiprah Gus Rozin tidak hanya dibangun dari garis keluarga pesantren. Ia juga memiliki pengalaman mengelola lembaga pendidikan dan organisasi yang berkaitan dengan pengembangan pesantren.

Memimpin PWNU Jawa Tengah

Pada Konferensi Wilayah XVI NU Jawa Tengah yang berlangsung di Pekalongan pada 5–6 Maret 2024, Gus Rozin ditetapkan sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah masa khidmah 2024–2029. Sementara posisi Rais PWNU Jawa Tengah kembali dipercayakan kepada KH Ubaidullah Shodaqoh.

Posisi tersebut menjadi salah satu modal penting Gus Rozin dalam memasuki bursa Ketua Umum PBNU. Jawa Tengah merupakan salah satu basis besar NU dengan jaringan pesantren, madrasah, lembaga pendidikan, serta struktur organisasi yang luas.

Namun, Gus Rozin menegaskan bahwa keputusannya maju tidak dimaksudkan untuk mempertajam perbedaan di internal NU. Ia justru menyebut perlunya mencari jalan keluar dari perbedaan berkepanjangan dan memperkuat kedaulatan organisasi agar NU tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh warganya.

Misi membenahi organisasi

Pencalonan Gus Rozin muncul ketika NU bersiap memasuki forum tertinggi organisasi. Muktamar bukan hanya memilih pimpinan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menentukan arah NU untuk lima tahun berikutnya. Situs resmi Muktamar ke-35 menyebut forum tersebut akan menjadi ruang perumusan keputusan strategis, program, serta rekomendasi organisasi.

Dalam konteks itu, Gus Rozin membawa isu pembenahan organisasi sebagai salah satu gagasan utama. Ia melihat NU membutuhkan kebersamaan untuk menghadapi berbagai persoalan internal sekaligus memastikan organisasi tetap memiliki kedaulatan dalam menentukan arah kebijakan.

Pencalonannya juga menambah dinamika bursa Ketua Umum PBNU. NU Online mencatat sejumlah nama lain turut disebut dalam bursa, antara lain Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, KH Yusuf Chudlori, Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, KH Abdussalam Shohib, KH Abdul Hakim Mahfudz, serta Hery Haryanto Azumi.

Tambakberas menjadi panggung penentuan

Muktamar ke-35 NU akan berlangsung selama lima hari di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Sebagai tuan rumah, pesantren tersebut telah menyiapkan berbagai fasilitas untuk menyambut para peserta dari seluruh Indonesia.

Panitia lokal melaporkan akomodasi peserta telah dipersiapkan, sementara pembangunan sejumlah fasilitas pendukung seperti area parkir, dapur umum, dan bazar terus dikebut menjelang pelaksanaan.

Pemilihan Tambakberas juga memiliki nilai historis bagi NU. Pesantren tersebut berkaitan erat dengan sejarah perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri utama NU. Karena itu, Muktamar ke-35 tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga berlangsung di salah satu pusat tradisi pesantren yang memiliki posisi penting dalam sejarah NU.

Bagi Gus Rozin, momentum tersebut menjadi ujian atas gagasan dan rekam jejak yang selama ini dibangun di lingkungan pesantren serta organisasi NU.

Dengan pengalaman sebagai pengasuh pesantren, akademisi, penggerak pengembangan pesantren, dan Ketua PWNU Jawa Tengah, Gus Rozin kini masuk ke arena yang lebih besar. Muktamar ke-35 akan menjadi ruang bagi para muktamirin untuk menentukan siapa yang dinilai paling mampu membawa NU menghadapi tantangan lima tahun mendatang.

Editor : Mahendra Aditya
Muktamar ke-35 NU Abdul Ghaffar Rozin calon Ketua Umum PBNU pbnu Gus rozin