BNPB Siapkan Modifikasi Cuaca untuk Bantu Padamkan Karhutla Gunung Bromo

Ali Mustofa • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 15:34 WIB
Petugas gabungan berjibaku memadamkan karhutla di kawasan Gunung Bromo, Kamis (6/8). (Dokumentasi BPBD Jatim)
Petugas gabungan berjibaku memadamkan karhutla di kawasan Gunung Bromo, Kamis (6/8). (Dokumentasi BPBD Jatim)

RADAR KUDUS – Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu langkah untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur.

Teknologi tersebut akan digunakan untuk memicu hujan apabila kondisi cuaca memungkinkan, sehingga dapat membantu proses pemadaman api.

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, selain mengerahkan helikopter untuk melakukan water bombing, pihaknya juga telah menyiapkan dukungan modifikasi cuaca.

Pelaksanaan OMC akan disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan serta kondisi atmosfer yang mendukung.

"Selain water bombing, BNPB menyiapkan dukungan OMC yang pelaksanaannya disesuaikan dengan perkembangan kondisi cuaca dan kebutuhan di lapangan," ujar Suharyanto, Kamis (6/8).

Menurutnya, pemadaman melalui jalur udara menjadi pelengkap bagi tim gabungan yang bekerja di darat.

Medan terjal di kawasan Kaldera Bromo membuat akses menuju titik-titik api cukup sulit sehingga dibutuhkan dukungan dari udara agar proses pemadaman lebih efektif.

Langkah penanganan tersebut dilakukan setelah Pemerintah Provinsi Jawa Timur menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/327/013/2026. Status siaga itu berlaku selama 180 hari, mulai 26 Mei hingga 6 Oktober 2026.

Pemerintah Kabupaten Probolinggo juga menetapkan status siaga darurat melalui Keputusan Bupati Nomor 300.2/326/426.32/2026 yang berlaku sampai 5 Oktober 2026.

Dengan adanya status tersebut, pemerintah pusat lebih mudah menyalurkan bantuan, termasuk armada helikopter dan teknologi modifikasi cuaca.

BNPB berharap kombinasi antara water bombing dan OMC mampu menjangkau titik-titik api yang sulit diakses dari darat sehingga kebakaran tidak meluas ke kawasan konservasi lain di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan selama puncak musim kemarau serta mematuhi penutupan sementara kawasan wisata di TNBTS agar proses pemadaman oleh tim gabungan dapat berjalan lebih optimal.

Sementara itu, hingga memasuki hari keempat, Kamis (6/8), kebakaran di kawasan Gunung Bromo belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.

BNPB pun mengirimkan satu unit helikopter dari Palangkaraya untuk memperkuat operasi pemadaman dari udara.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan dukungan helikopter tersebut diharapkan mampu mempercepat pengendalian api yang masih membakar sejumlah titik.

Sebelumnya, kebakaran pertama kali dilaporkan terjadi pada Senin (3/8) sekitar pukul 17.00 WIB di kawasan Ranu Pani, Kabupaten Probolinggo.

Pada hari ketiga penanganan, tim gabungan mengombinasikan pemadaman menggunakan drone water spray berkapasitas 150 liter, truk tangki air, mobil pemadam kebakaran, hingga pemadaman manual dengan metode gepyok di area yang sulit dijangkau.

Meski api di kawasan Gunung Piramid sempat padam pada Selasa (4/8), kobaran kembali muncul pada siang harinya.

Berdasarkan data Pusdalops BPBD Jawa Timur per Kamis pagi (6/8), luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 70 hektare. Vegetasi yang terbakar meliputi cemara gunung, mentigen, akasia, dan semak belukar.

Saat ini, proses pemadaman masih terus dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri atas BPBD Jawa Timur, BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Kabupaten Malang, Balai TNBTS, Polisi Kehutanan, TNI, Polri, serta relawan peduli api.

Editor : Ali Mustofa
operasi pemadaman kawasan gunung bromo bpbd jatim water bombing kebakaran hutan