JAKARTA — Kalender 3 Agustus tidak hanya menandai pergantian hari. Di sejumlah negara, tanggal ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran terhadap penyakit langka, merayakan buah yang populer di berbagai belahan dunia, sekaligus mengenang sejarah perjuangan dan identitas daerah.
Peringatan yang jatuh pada 3 Agustus memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang berfokus pada kesehatan, ada pula yang berkaitan dengan sejarah kolonialisme dan kebudayaan lokal.
Salah satu momentum yang diperingati pada tanggal ini adalah CLOVES Syndrome Awareness Day, yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai sindrom CLOVES, sebuah kondisi langka yang termasuk dalam kelompok PIK3CA-related overgrowth spectrum (PROS).
CLOVES merupakan akronim dari Congenital Lipomatous Overgrowth, Vascular Malformations, Epidermal Nevi and Skeletal/Scoliosis atau kelainan berupa pertumbuhan jaringan lemak yang tidak normal, malformasi pembuluh darah, kelainan kulit tertentu, serta gangguan pada tulang dan tulang belakang.
Menurut National Institutes of Health melalui Genetic and Rare Diseases Information Center, sindrom CLOVES merupakan kelainan yang sangat jarang dan berkaitan dengan perubahan pada gen PIK3CA. Perubahan tersebut umumnya terjadi secara sporadis selama perkembangan embrio, bukan diwariskan dari orang tua.
Gejalanya dapat berbeda antara satu penderita dengan penderita lainnya. Kelainan pertumbuhan jaringan lunak dan lemak, masalah pembuluh darah, kelainan tulang belakang, serta perbedaan ukuran atau bentuk anggota tubuh merupakan sejumlah karakteristik yang dapat ditemukan pada penderita.
Karena termasuk kondisi langka, peningkatan pengetahuan publik menjadi penting. Peringatan Hari Kesadaran Sindrom CLOVES digunakan sebagai momentum untuk memperluas pemahaman mengenai diagnosis, penanganan, penelitian, sekaligus kebutuhan keluarga yang hidup dengan kondisi tersebut.
Selain isu kesehatan, 3 Agustus juga populer sebagai World Watermelon Day atau Hari Semangka Sedunia. Momentum ini menjadi perayaan informal terhadap salah satu buah yang identik dengan musim panas dan memiliki kandungan air tinggi.
Semangka (Citrullus lanatus) memang dikenal sebagai buah yang kaya air. Menurut data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), 100 gram semangka mentah mengandung sekitar 91,45 gram air. Buah ini juga menyediakan vitamin C, vitamin A dalam bentuk karotenoid, serta sejumlah mineral.
Kandungan air yang tinggi membuat semangka sering dikonsumsi sebagai salah satu pilihan makanan yang menyegarkan, terutama dalam kondisi cuaca panas. Namun, seperti buah lainnya, semangka tetap menjadi bagian dari pola makan secara keseluruhan dan bukan pengganti kebutuhan cairan utama tubuh.
Perayaan World Watermelon Day berkembang terutama sebagai momentum populer di Amerika Serikat dan kemudian dikenal lebih luas melalui berbagai kegiatan, mulai dari festival, pesta musim panas, hingga aktivitas kreatif menggunakan semangka.
Namun, di balik nuansa perayaan tersebut, tanggal 3 Agustus juga memiliki catatan sejarah yang jauh lebih serius.
Di Guinea-Bissau, tanggal ini dikenal sebagai Pidjiguiti Day atau Hari Pidjiguiti. Momentum tersebut berkaitan dengan peristiwa yang terjadi pada 3 Agustus 1959 di Pelabuhan Pidjiguiti, Bissau.
Saat itu, para pekerja pelabuhan melakukan aksi mogok untuk menuntut perbaikan kondisi kerja dan upah. Aksi tersebut berakhir dengan tindakan represif yang menewaskan sejumlah pekerja.
Peristiwa Pidjiguiti kemudian dikenang sebagai salah satu titik penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Guinea-Bissau dari kekuasaan kolonial Portugal.
Gerakan kemerdekaan Guinea-Bissau semakin berkembang setelah berbagai ketegangan politik dan sosial pada masa kolonial. Partai Afrika untuk Kemerdekaan Guinea dan Tanjung Verde atau PAIGC kemudian memainkan peran penting dalam perjuangan tersebut.
Guinea-Bissau akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan secara sepihak pada 24 September 1973. Portugal secara resmi mengakui kemerdekaan Guinea-Bissau pada 1974 setelah perubahan politik di Portugal.
Karena itu, Pidjiguiti Day tidak sekadar menjadi peringatan atas sebuah aksi buruh. Bagi Guinea-Bissau, tanggal tersebut juga menjadi bagian dari memori nasional mengenai pengorbanan masyarakat dalam perjuangan melawan pemerintahan kolonial.
Selain Guinea-Bissau, 3 Agustus juga memiliki makna khusus bagi masyarakat di Provinsi Makira-Ulawa, Kepulauan Solomon.
Makira-Ulawa merupakan salah satu provinsi di Kepulauan Solomon yang berada di kawasan Pasifik. Wilayah tersebut memiliki kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Melanesia yang menjadi bagian penting dari identitas lokal.
Peringatan yang berkaitan dengan Provinsi Makira-Ulawa menjadi kesempatan untuk menampilkan budaya lokal, kesenian, tradisi dan identitas masyarakat setempat.
Dengan demikian, tanggal 3 Agustus memiliki spektrum peringatan yang cukup beragam. Dari isu penyakit langka yang membutuhkan perhatian dunia medis, perayaan sederhana terhadap buah semangka, hingga sejarah perjuangan masyarakat Guinea-Bissau.
Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua peringatan yang muncul di internet memiliki status sebagai hari internasional resmi yang ditetapkan badan seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sebagian merupakan awareness day, peringatan nasional, regional, atau momentum yang berkembang secara populer.
Karena itu, penyebutan “Hari Dunia” atau “Hari Internasional” perlu digunakan secara hati-hati agar tidak menimbulkan kesan bahwa seluruh peringatan tersebut merupakan hari resmi PBB.
Bagi masyarakat Indonesia, 3 Agustus sendiri bukan merupakan hari libur nasional. Meski demikian, sejumlah momentum internasional yang jatuh pada tanggal tersebut tetap dapat menjadi bahan edukasi, terutama mengenai penyakit langka, pola hidup sehat, serta sejarah perjuangan bangsa lain.
Kalender pada akhirnya bukan hanya soal tanggal merah atau hari kerja. Di balik satu tanggal, terdapat cerita tentang kesehatan, manusia, budaya, bahkan perjuangan panjang sebuah bangsa.
Dan pada 3 Agustus, setidaknya ada empat cerita berbeda yang layak diketahui: perjuangan meningkatkan kesadaran terhadap sindrom CLOVES, popularitas semangka sebagai buah kaya air, tragedi Pidjiguiti yang menjadi bagian penting sejarah Guinea-Bissau, serta identitas budaya masyarakat Makira-Ulawa di Kepulauan Solomon.
Editor : Mahendra Aditya