Mengapa Laba KAI Anjlok di Semester I 2026? Ternyata Bukan Karena Penumpang Sepi

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 18:49 WIB
RAMAI: Para penumpang Kereta Api di Stasiun Cepu saat menyusuri peron. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)
RAMAI: Para penumpang Kereta Api di Stasiun Cepu saat menyusuri peron. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI membukukan penurunan laba yang cukup tajam pada semester I 2026.

Kondisi ini menarik perhatian karena terjadi di tengah meningkatnya pendapatan perusahaan dari bisnis angkutan penumpang maupun barang.

Laporan keuangan KAI Group (unaudited) menunjukkan laba sebelum pajak turun menjadi Rp842,69 miliar, dari Rp1,86 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara laba tahun berjalan merosot menjadi Rp314,03 miliar, dibandingkan Rp1,18 triliun pada semester I 2025.

Penurunan tersebut memunculkan pertanyaan: mengapa laba KAI turun, padahal pendapatannya justru meningkat?

Pendapatan Tetap Bertumbuh

Dari sisi operasional, performa KAI sebenarnya masih menunjukkan tren positif.

Pendapatan perusahaan mencapai Rp17,96 triliun, atau tumbuh sekitar 6,6 persen dibandingkan semester I tahun lalu.

Peningkatan ini didorong oleh membaiknya mobilitas masyarakat, meningkatnya layanan angkutan penumpang dan logistik, serta berbagai inovasi layanan yang terus dilakukan KAI Group.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyatakan pertumbuhan pendapatan dan laba usaha mencerminkan bisnis inti perusahaan tetap sehat.

Menurutnya, kinerja operasional yang kuat menjadi modal penting bagi perusahaan untuk menjaga keselamatan perjalanan, meningkatkan kualitas pelayanan, serta memperluas pengembangan layanan transportasi.

Biang Keroknya Ada di Perusahaan Asosiasi

Meski bisnis inti bertumbuh, laba bersih KAI justru tergerus oleh membengkaknya kerugian dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan.

Dalam laporan keuangan disebutkan, pencatatan rugi bersih dari perusahaan asosiasi meningkat drastis dari sekitar Rp948,20 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp3 triliun pada semester I 2026.

Inilah faktor terbesar yang menekan laba KAI secara keseluruhan.

Beban Kereta Cepat Jadi Sorotan

Salah satu penyumbang utama berasal dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), perusahaan patungan yang menjadi pemegang saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

PSBI masih membukukan rugi sekitar Rp5,13 triliun.

Selain itu, total liabilitas perusahaan mencapai Rp21,54 triliun, sedikit lebih tinggi dibanding total aset sebesar Rp21,52 triliun.

Kondisi tersebut membuat investasi pada proyek kereta cepat masih memberikan tekanan terhadap laporan keuangan KAI melalui mekanisme pencatatan investasi pada perusahaan asosiasi.

Fundamental KAI Masih Terjaga

Di tengah penurunan laba, kondisi neraca KAI masih menunjukkan sejumlah indikator positif.

Per 30 Juni 2026:

Penurunan utang jangka pendek dan meningkatnya ekuitas menunjukkan kondisi keuangan perusahaan induk masih relatif terjaga.

Danantara Akui Masalah Tidak Bisa Diselesaikan Seketika

Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, sebelumnya mengakui persoalan yang membebani keuangan KAI merupakan warisan proyek besar yang membutuhkan waktu untuk diselesaikan.

Menurutnya, penyelesaian berbagai persoalan, termasuk yang berkaitan dengan investasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung, dilakukan secara bertahap karena memiliki skala yang sangat besar.

Prospek ke Depan

Pengamat transportasi menilai penurunan laba kali ini lebih banyak dipengaruhi faktor non-operasional dibanding melemahnya bisnis utama KAI.

Jika beban dari perusahaan asosiasi dapat ditekan dan kinerja KCIC semakin membaik seiring meningkatnya jumlah penumpang kereta cepat, tekanan terhadap laba KAI berpotensi berkurang pada periode mendatang.

Di sisi lain, pertumbuhan pendapatan, penurunan utang jangka pendek, serta meningkatnya ekuitas menunjukkan fondasi bisnis KAI masih cukup kuat.

Tantangan terbesar perusahaan saat ini adalah menyeimbangkan pertumbuhan bisnis inti dengan beban investasi jangka panjang yang masih harus ditanggung.

Data dalam artikel ini dihimpun dari laporan keuangan semester I 2026 KAI Group, keterangan resmi PT Kereta Api Indonesia (Persero), serta pernyataan BPI Danantara mengenai perkembangan penyelesaian pembiayaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Editor : Mahendra Aditya
laba KAI Kereta Cepat Jakarta Bandung PSBI kai KCIC