RADAR KUDUS - Harapan masyarakat Kabupaten Kebumen untuk menikmati layanan Commuter Line Prambanan Ekspres (Prameks) tanpa harus transit di Stasiun Kutoarjo semakin mendekati kenyataan.
Usulan perpanjangan rute hingga Stasiun Kebumen dan Stasiun Gombong memperoleh respons positif dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan setelah dilakukan serangkaian audiensi bersama Pemerintah Kabupaten Kebumen.
Langkah tersebut menjadi angin segar bagi ribuan warga yang setiap hari melakukan mobilitas menuju Daerah Istimewa Yogyakarta untuk bekerja, menempuh pendidikan, menjalankan aktivitas usaha, maupun mendapatkan layanan kesehatan.
Baca Juga: Jadwal KRL Solo–Jogja 27 Juli–2 Agustus 2026, Lengkap Jam Keberangkatan dan Harga Tiket Rp8.000
Selama ini, calon penumpang dari Kebumen harus lebih dulu menuju Stasiun Kutoarjo untuk dapat menggunakan layanan Prameks, sehingga menambah biaya perjalanan, waktu tempuh, dan beban transportasi darat.
Bupati Kebumen Lilis Nuryani menyampaikan bahwa aspirasi perpanjangan rute ini lahir dari kebutuhan nyata masyarakat. Sebelum bertemu DJKA di Jakarta, jajaran Pemerintah Kabupaten Kebumen juga telah mengadakan pertemuan dengan manajemen PT Kereta Api Indonesia (Persero) di Bandung guna membahas peluang pengembangan layanan kereta komuter tersebut.
Menurut Lilis, tingginya mobilitas warga Kebumen menuju Yogyakarta menjadi alasan utama usulan tersebut. Banyak mahasiswa asal Kebumen yang kuliah di Yogyakarta, selain pekerja, pedagang, hingga masyarakat yang rutin melakukan perjalanan untuk berbagai kepentingan.
Baca Juga: Daftar Harga Tiket Konser Kanye West di Jakarta 2026, Mulai Rp1,875 Juta hingga VIP Rp9,8 Juta
Jika layanan Prameks dapat diperpanjang hingga Kebumen dan Gombong, masyarakat diperkirakan akan memperoleh akses transportasi yang lebih murah, praktis, dan efisien. Hal ini juga diyakini mampu mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi maupun angkutan jalan raya.
Pemerintah Kabupaten Kebumen turut menyampaikan data yang memperkuat usulan tersebut. Berdasarkan hasil pendataan daerah, sekitar 40 hingga 50 persen pengguna KA Prameks yang naik dari Stasiun Kutoarjo berasal dari wilayah Kabupaten Kebumen. Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap layanan kereta komuter sudah cukup tinggi dan memiliki potensi penumpang yang besar.
Selain permintaan pasar yang kuat, kesiapan infrastruktur juga menjadi nilai tambah. Jalur rel menuju Kebumen hingga Gombong telah menggunakan jalur ganda (double track), dilengkapi peron tinggi, serta stasiun yang dinilai siap melayani operasional kereta komuter.
Kondisi tersebut membuat pengembangan layanan dinilai lebih mudah dibandingkan harus membangun jaringan baru.
Perpanjangan rute Prameks juga diproyeksikan membawa dampak ekonomi yang signifikan. Akses transportasi yang lebih baik diyakini mampu meningkatkan aktivitas perdagangan, memperluas peluang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata.
Prospek tersebut semakin besar setelah Kebumen memperoleh pengakuan sebagai kawasan UNESCO Global Geopark. Status internasional tersebut diperkirakan akan meningkatkan jumlah wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke berbagai destinasi geowisata di wilayah tersebut.
Dengan adanya layanan kereta komuter hingga Kebumen, akses wisata diperkirakan menjadi lebih mudah, nyaman, dan terjangkau.
Baca Juga: Jadwal KA Batara Kresna Solo–Wonogiri 2026 Lengkap, Tiket Cuma Rp4.000, Simak Jam Berangkatnya
PT Kereta Api Indonesia menyambut baik inisiatif Pemerintah Kabupaten Kebumen. Direktur Komersial PT KAI, Dendy Kurniawan, mengapresiasi langkah proaktif pemerintah daerah yang datang langsung menyampaikan aspirasi masyarakat.
Menurutnya, KAI pada prinsipnya mendukung pengembangan layanan transportasi berbasis rel selama memenuhi aspek operasional, kebutuhan penumpang, dan mendapatkan persetujuan regulator. Selanjutnya, pembahasan teknis akan dilakukan bersama Kementerian Perhubungan dan KAI Commuter sebagai operator layanan perkotaan.
Dukungan juga datang dari Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Allan Tandiono. Berdasarkan data okupansi yang dipaparkan Pemerintah Kabupaten Kebumen, DJKA menilai usulan tersebut realistis untuk dipertimbangkan.
Selain itu, pemerintah juga akan melakukan perhitungan tarif bersama PT KAI agar layanan tetap dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat tanpa mengurangi kualitas pelayanan.
Meski demikian, terdapat satu tantangan utama yang masih harus diselesaikan sebelum rute diperpanjang, yakni keterbatasan armada kereta. Pada musim libur panjang maupun akhir pekan, tingkat keterisian Prameks disebut sering melampaui 150 persen sehingga penambahan rangkaian kereta menjadi kebutuhan mendesak apabila layanan diperluas hingga Kebumen dan Gombong.
Karena itu, DJKA meminta PT KAI, KAI Commuter, serta Pemerintah Kabupaten Kebumen segera menyusun kajian teknis yang mencakup kesiapan operasional, kebutuhan sarana, jadwal perjalanan, hingga simulasi pelayanan apabila rute benar-benar diperpanjang.
Dalam kesempatan yang sama, Pemerintah Kabupaten Kebumen juga mengusulkan pembukaan kembali perlintasan sebidang Mekarsari (JPL 583) yang sebelumnya ditutup pascakecelakaan.
DJKA meminta agar proses tersebut terlebih dahulu dikoordinasikan dengan Balai Teknik Perkeretaapian Semarang dan PT KAI Daop 5 Purwokerto untuk memastikan seluruh persyaratan keselamatan telah terpenuhi sesuai regulasi.
Apabila seluruh kajian teknis berjalan sesuai rencana dan kebutuhan sarana dapat dipenuhi, perpanjangan layanan KA Prameks hingga Kebumen dan Gombong berpotensi menjadi salah satu pengembangan transportasi regional paling penting di Jawa Tengah bagian selatan.
Kehadiran layanan tersebut tidak hanya mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga diharapkan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi, pendidikan, investasi, serta sektor pariwisata yang terus berkembang di Kabupaten Kebumen.
Editor : Mahendra Aditya