Viral Anak Menangis Kehilangan Ayah di Bali, Deretan Selebritas Kompak Serukan Stop Main Hakim Sendiri

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 07:18 WIB
Prilly Latuconsina mundur dari Sinemaku PIctures
Prilly Latuconsina mundur dari Sinemaku PIctures

RADAR KUDUS - Peristiwa meninggalnya seorang pria yang diduga menjadi korban aksi main hakim sendiri di Kabupaten Buleleng, Bali, memicu perhatian luas masyarakat.

Video yang memperlihatkan anak perempuan korban menangis histeris di samping jenazah sang ayah viral di berbagai platform media sosial dan memunculkan gelombang empati, termasuk dari sejumlah figur publik Indonesia.

Dalam rekaman yang beredar, anak perempuan tersebut tampak berulang kali memanggil ayahnya sambil menangis di tengah kerumunan warga. Tayangan itu menuai reaksi emosional dari warganet dan memicu diskusi mengenai bahaya tindakan main hakim sendiri serta dampaknya terhadap keluarga korban, khususnya anak-anak.

Baca Juga: Tragis! Istri Meninggal Usai Diduga Jadi Korban KDRT, Suami Resmi Ditahan Polres Luwu Timur

Kasus ini bermula ketika seorang pria diduga melakukan pencurian ayam. Dugaan tersebut kemudian memicu aksi pengeroyokan oleh massa hingga korban mengalami luka berat.

Korban sempat mendapatkan penanganan medis, namun akhirnya meninggal dunia. Aparat kepolisian kini menangani kasus tersebut untuk mengungkap kronologi, mengidentifikasi para pelaku pengeroyokan, dan memastikan seluruh proses hukum berjalan sesuai ketentuan.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa dugaan tindak pidana tidak dapat dijadikan alasan untuk mengambil alih proses hukum. Dalam sistem hukum Indonesia, setiap orang tetap memiliki hak atas proses peradilan yang adil dan asas praduga tak bersalah hingga ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

Baca Juga: Jadwal KA Batara Kresna Solo–Wonogiri 2026 Lengkap, Tiket Cuma Rp4.000, Simak Jam Berangkatnya

Salah satu artis yang menyampaikan keprihatinannya adalah Aldi Taher. Melalui unggahan di media sosial, ia mengaku tidak kuasa menahan air mata setelah menyaksikan video anak korban yang kehilangan ayahnya.

Aldi mengajak masyarakat untuk menghentikan budaya main hakim sendiri dan menyerahkan setiap dugaan tindak pidana kepada aparat penegak hukum. Menurutnya, tindakan kekerasan hanya akan melahirkan korban baru dan meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Penyanyi Denny Caknan juga mengungkapkan kesedihannya. Ia menegaskan bahwa pencurian merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan, namun hukuman tidak boleh dijatuhkan oleh massa.

Menurut Denny, setiap manusia memiliki kesalahan dan tetap berhak memperoleh proses hukum yang berlaku. Ia mengaku merasakan kesedihan mendalam melihat seorang anak kehilangan sosok ayah akibat aksi kekerasan yang terjadi di depan banyak orang.

Musisi dan aktivis Melanie Subono turut menyampaikan kritik keras terhadap tindakan pengeroyokan tersebut. Ia menilai pelaku pencurian tetap harus diproses sesuai hukum, namun tindakan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang juga merupakan tindak pidana yang wajib dipertanggungjawabkan.

Melanie juga menyoroti kondisi sosial yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama, termasuk meningkatnya kasus pencurian kebutuhan pokok serta pentingnya kehadiran negara dalam memberikan perlindungan sosial dan penegakan hukum yang adil.

Baca Juga: Kalender Jawa Senin Kliwon 27 Juli 2026: Diyakini Jadi Waktu Baik Melamar Pasangan, Simak Makna Weton dan Wuku Kuruwelut

Komedian Marshel Widianto menyebut peristiwa tersebut sebagai tragedi kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa dugaan tidak boleh menggantikan proses pembuktian di pengadilan. Menurutnya, satu nyawa yang hilang tidak akan pernah dapat dikembalikan, sementara seorang anak harus menjalani hidup tanpa sosok ayah.

Aktris Prilly Latuconsina juga menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena main hakim sendiri. Ia mempertanyakan mengapa dugaan pencurian dapat berujung pada tindakan kekerasan yang menghilangkan nyawa, seraya mengingatkan pentingnya penegakan hukum yang berlaku bagi semua orang tanpa pandang bulu.

Sementara itu, Atta Halilintar menyoroti dampak kemanusiaan dari peristiwa tersebut. Menurutnya, kehilangan satu ekor ayam tidak sebanding dengan kehilangan seorang ayah bagi anak yang harus menanggung duka sepanjang hidupnya.

Kasus ini memunculkan kembali seruan dari berbagai kalangan agar masyarakat tidak melakukan aksi vigilante atau main hakim sendiri. Kepolisian dan berbagai lembaga hukum selama ini terus mengingatkan bahwa setiap dugaan tindak pidana harus dilaporkan kepada aparat agar diproses sesuai mekanisme hukum yang berlaku.

Selain berpotensi menghilangkan nyawa, aksi main hakim sendiri juga dapat berujung pada proses pidana terhadap para pelakunya. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap mengedepankan penyelesaian melalui jalur hukum dan tidak mudah terpancing emosi ketika menghadapi dugaan tindak kejahatan.

Hingga kini, aparat kepolisian masih melanjutkan penyelidikan untuk mengungkap seluruh fakta dalam kasus tersebut. Proses hukum diharapkan mampu memberikan keadilan bagi semua pihak sekaligus menjadi pengingat bahwa penegakan hukum merupakan kewenangan negara, bukan tindakan massa.

Editor : Mahendra Aditya
main hakim sendiri selebritas Indonesia bali Buleleng kasus pengeroyokan