RADAR KUDUS - Kemacetan parah yang melumpuhkan ruas Jalan Raya Bekasi hingga Jalan Cakung-Cilincing, Jakarta Timur dan Jakarta Utara, memaksa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah cepat. Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta resmi memanggil 19 pengelola depo kontainer untuk mengevaluasi sistem operasional setelah antrean panjang truk peti kemas menyebabkan arus lalu lintas nyaris berhenti total.
Langkah tersebut dilakukan sebagai respons atas kemacetan yang terjadi pada Selasa (21/7/2026) dan sempat viral di media sosial. Ribuan kendaraan, mulai dari truk logistik, kendaraan pribadi hingga angkutan umum, terjebak berjam-jam akibat antrean kendaraan berat yang mengular di sejumlah titik menuju kawasan depo kontainer.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Budi Awaluddin, mengatakan rapat evaluasi digelar bersama seluruh pengelola depo yang beroperasi di sekitar kawasan Cakung dan Cilincing. Dari total 19 depo yang dipanggil, tujuh berada di wilayah Jakarta Timur dan 12 lainnya berada di Jakarta Utara.
Baca Juga: Duduk di Kursi Roda, Hotman Paris Tinggalkan Kasus Febrie Adriansyah Demi Pulihkan Saraf Kejepit
Menurut Budi, pertemuan tersebut bertujuan mencari solusi permanen agar antrean truk yang menunggu giliran masuk depo tidak lagi menggunakan badan jalan sebagai lokasi parkir sementara. Kondisi tersebut selama ini menjadi salah satu penyebab utama kemacetan kronis di kawasan industri tersebut.
Sebagai langkah awal, Pemprov DKI Jakarta mengarahkan seluruh truk kontainer yang belum mendapat jadwal masuk depo agar menunggu di Terminal Tanah Merdeka. Fasilitas tersebut disiapkan sebagai kantong parkir sementara dengan kapasitas sekitar 200 unit truk kontainer, sehingga antrean kendaraan tidak lagi memenuhi ruas jalan utama.
"Kami ingin seluruh kendaraan yang menunggu masuk depo diarahkan ke Terminal Tanah Merdeka agar tidak menghambat arus lalu lintas," ujar Budi.
Selain mengoptimalkan terminal tersebut, Dishub juga melakukan rekayasa lalu lintas dengan menutup sejumlah putaran balik (U-turn) di kawasan Cakung yang selama ini menjadi titik penumpukan kendaraan. Penutupan U-turn dilakukan setelah petugas menemukan antrean kendaraan yang saling mengunci sehingga arus lalu lintas tidak bergerak.
Setelah rekayasa lalu lintas diterapkan, kondisi di lapangan mulai menunjukkan perbaikan meski kepadatan belum sepenuhnya teratasi. Petugas Dishub bersama kepolisian masih melakukan pengaturan lalu lintas secara intensif untuk memastikan distribusi kendaraan berlangsung lebih lancar.
Penyebab utama kemacetan, menurut Dishub, bukan hanya antrean kendaraan yang masuk depo, tetapi juga dipengaruhi ketidakseimbangan arus impor dan ekspor. Dalam beberapa waktu terakhir, volume peti kemas impor yang masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok meningkat signifikan, sementara aktivitas ekspor belum mampu mengimbangi.
Akibatnya, ribuan kontainer kosong maupun bermuatan menumpuk di depo sehingga kapasitas penyimpanan mendekati batas maksimum. Kondisi tersebut memicu antrean panjang truk yang harus menunggu giliran untuk melakukan bongkar muat.
Dishub mengungkapkan persoalan tersebut sebelumnya telah dibahas bersama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dan kementerian terkait. Salah satu solusi yang tengah dikaji adalah meningkatkan batas kapasitas penumpukan peti kemas di depo.
Saat ini, pengelolaan kapasitas depo dilakukan berdasarkan batas tertentu agar aktivitas logistik tetap aman. Namun pemerintah menilai kapasitas tersebut perlu dievaluasi sehingga penumpukan peti kemas tidak langsung berdampak pada antrean kendaraan di luar kawasan.
Dishub berharap Pelindo dapat mempertimbangkan peningkatan batas kapasitas operasional depo, misalnya dari kisaran 65 persen menjadi 75 hingga 85 persen, dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan efisiensi logistik.
Sementara itu, Kasat Lantas Polres Metro Jakarta Timur Kompol Harnas Prihandito menjelaskan kemacetan yang terjadi juga dipicu aktivitas bongkar muat di sejumlah depo kontainer. Personel kepolisian telah diterjunkan sejak pagi untuk mengurai antrean kendaraan dan mengatur arus lalu lintas di titik-titik rawan kemacetan.
Kemacetan Cakung-Cilincing bukan kali pertama terjadi. Kawasan tersebut memang menjadi salah satu koridor logistik utama yang menghubungkan kawasan industri di Jakarta Timur, Bekasi, dan Pelabuhan Tanjung Priok. Tingginya mobilitas kendaraan berat pada jam-jam tertentu sering memicu kepadatan lalu lintas apabila tidak diimbangi pengelolaan operasional depo yang baik.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan koordinasi dengan Pelindo, operator depo, kepolisian, serta instansi terkait akan terus diperkuat agar distribusi logistik nasional tetap berjalan tanpa mengorbankan kelancaran mobilitas masyarakat.
Ke depan, evaluasi terhadap sistem antrean digital, pengaturan jadwal operasional truk, hingga optimalisasi kantong parkir logistik menjadi bagian dari langkah yang dipertimbangkan untuk mencegah terulangnya kemacetan serupa di kawasan Cakung-Cilincing.
Editor : Mahendra Aditya