RADAR KUDUS — Konsumen Pertalite mengalami kenaikan pada Juli 2026 seiring dengan meningkatnya harga Pertamax series.
Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran pilihan masyarakat dari bahan bakar non-subsidi menuju bahan bakar bersubsidi, terutama karena semakin besar selisih harganya di tengah kebutuhan transportasi sehari-hari.
Eko Ricky Susanto, selaku Direktur Pemasaran PT Pertamina Patra Niaga, menyatakan bahwa penyaluran Pertalite pada Juli 2026 meningkat sebesar 9,4 persen atau setara 7.129 kiloliter per hari dibandingkan dengan rata-rata biasa.
Pada saat yang sama, penyaluran Pertamax series justru mengalami penurunan sebesar 18 persen atau sekitar 4.476 kiloliter per hari, menunjukkan adanya transisi konsumsi yang cukup jelas.
Baca Juga: Pemangkasan Anggaran MBG Berlanjut, Pagu 2026 Kini Rp229 Triliun
Secara keseluruhan, porsi Pertalite pada Juli 2026 mencapai 80,4 persen, meningkat sekitar 4,9 persen dibandingkan periode Januari-Mei 2026.
Proporsi Pertamax menurun menjadi 18,4 persen, turun dari angka sebelumnya yang mencapai 23,2 persen.
Data ini menunjukkan bahwa konsumen lebih memilih bahan bakar yang dianggap lebih terjangkau ketika harga BBM non-subsidi naik.
Pergeseran ini juga menegaskan bahwa perubahan harga masih menjadi faktor utama dalam keputusan konsumen.
Baca Juga: Realisasi Serapan Bulog Capai 3,2 Juta Ton sampai Pertengahan Juli 2026
Ketika harga Pertamax meningkat, beberapa pengguna beralih ke Pertalite untuk mengurangi pengeluaran sehari-hari, terutama pada kelompok masyarakat yang sangat bergantung pada kendaraan pribadi untuk aktivitas kerja dan kegiatan rutin.
Kondisi ini menjadi indikasi bahwa pasar BBM ritel sangat responsif terhadap perubahan harga.
Jika selisih harga antara Pertamax dan Pertalite tetap besar, kemungkinan tren perpindahan konsumen ke bahan bakar bersubsidi akan terus berlangsung dalam waktu dekat. (*)
Editor : Anita Fitriani