Hari Ketujuh Pencarian KM Nurul Salsa, Satu Jenazah Ditemukan Mengapung di Perairan Pangkep

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 17:28 WIB
Operasi SAR Diperluas, Tim Gabungan Temukan Jenazah Diduga Korban Tenggelamnya KM Nurul Salsa.
Operasi SAR Diperluas, Tim Gabungan Temukan Jenazah Diduga Korban Tenggelamnya KM Nurul Salsa.

RADAR KUDUS - Operasi pencarian korban tenggelamnya KM Nurul Salsa kembali membuahkan hasil. Pada hari ketujuh pelaksanaan operasi SAR, tim gabungan menemukan satu jenazah yang diduga merupakan korban kapal nahas tersebut di perairan sekitar Pulau Pamalikang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, Selasa (21/7/2026).

Penemuan itu menjadi perkembangan terbaru dalam upaya pencarian yang masih terus dilakukan setelah KM Nurul Salsa tenggelam saat berlayar dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar. Hingga kini, sejumlah korban masih belum ditemukan sehingga operasi SAR diperluas untuk meningkatkan peluang pencarian.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengungkapkan bahwa informasi awal berasal dari nelayan yang sedang melaut di sekitar Pulau Pamalikang. Mereka melihat sesosok jenazah mengapung di permukaan laut, kemudian segera melaporkan temuan tersebut kepada Posko SAR Gabungan di Pelabuhan Benteng, Selayar.

Baca Juga: Korban KM Nurul Salsa Diduga Bertambah, Basarnas Evakuasi Jenazah yang Ditemukan Nelayan di Laut Pangkep

Begitu menerima laporan, Basarnas langsung mengerahkan unsur penyelamat menuju lokasi menggunakan KN SAR Kamajaya 104 serta Rigid Inflatable Boat (RIB) KN SAR Pacitan untuk melakukan evakuasi.

"Setiap informasi dari masyarakat langsung kami tindak lanjuti. Setelah menerima laporan dari nelayan, tim bergerak ke lokasi untuk mengevakuasi jenazah," kata Muhammad Arif Anwar.

Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar guna menjalani proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI). Basarnas menegaskan identitas korban belum dapat dipastikan sebelum seluruh tahapan pemeriksaan selesai dilakukan sesuai prosedur.

Proses identifikasi dilakukan melalui pencocokan ciri fisik, sidik jari, data medis, hingga pemeriksaan DNA apabila dibutuhkan. Langkah tersebut bertujuan memastikan identitas korban secara akurat sebelum disampaikan kepada keluarga maupun masyarakat.

Muhammad Arif Anwar yang juga bertindak sebagai SAR Mission Coordinator (SMC) mengatakan operasi pencarian tetap menjadi prioritas utama. Seluruh unsur SAR gabungan terus bekerja maksimal untuk menemukan korban lain yang masih belum diketahui keberadaannya.

Memasuki hari ketujuh pencarian, area operasi diperluas secara signifikan menjadi sekitar 2.924 nautical mile persegi (NM²). Wilayah tersebut dibagi ke dalam lima sektor pencarian dengan enam Search and Rescue Unit (SRU) agar penyisiran dapat dilakukan lebih efektif.

Perluasan area dilakukan berdasarkan analisis Search and Rescue Maritime Prediction (SARMAP) yang memperhitungkan pengaruh arus laut, kecepatan angin, serta kemungkinan arah hanyut korban selama beberapa hari terakhir.

Dalam operasi kali ini, Basarnas mengerahkan sejumlah armada laut, antara lain RB Mataram 220, KN SAR Puntadewa, KN SAR Kamajaya 104, KN SAR Pacitan, KRI Marlin-877, dan KRI Hiu-634.

Selain itu, operasi turut melibatkan personel TNI, Polri, BPBD, Syahbandar, pemerintah daerah, nelayan setempat, hingga berbagai unsur relawan yang bersama-sama melakukan penyisiran di wilayah perairan Selayar dan Pangkep.

Basarnas juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat pesisir dan para nelayan yang aktif memberikan informasi kepada tim di lapangan. Menurut Muhammad Arif Anwar, laporan masyarakat sangat membantu mempercepat proses pencarian karena para nelayan merupakan pihak yang paling memahami kondisi perairan di sekitar lokasi operasi.

Baca Juga: Empat Hari Melawan Maut, Bocah 7 Tahun Selamat dari Tragedi KLM Nurul Salsa Setelah Kehilangan Ayah dan Ibu

"Kami mengapresiasi seluruh masyarakat dan nelayan yang terus membantu memberikan informasi. Setiap laporan akan segera diverifikasi dan ditindaklanjuti oleh tim SAR," ujarnya.

Sebelumnya, tim SAR gabungan juga menemukan sejumlah barang yang diduga milik penumpang KM Nurul Salsa di kawasan Perairan Sabalana. Penemuan berbagai barang tersebut menjadi salah satu petunjuk tambahan dalam menentukan arah penyisiran berdasarkan pola pergerakan arus laut.

Berdasarkan data terbaru, KM Nurul Salsa mengangkut total 78 orang saat berlayar dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng pada Rabu (15/7/2026) sekitar pukul 05.00 WITA.

Dalam perjalanan, kapal dilaporkan mengalami gangguan mesin sebelum akhirnya tenggelam di perairan sebelah barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar. Kondisi cuaca dan gelombang laut turut menjadi tantangan besar dalam proses pencarian para korban.

Hingga hari ketujuh operasi SAR, 59 penumpang berhasil ditemukan dalam keadaan selamat, satu korban telah dipastikan meninggal dunia sebelumnya, sementara satu jenazah terbaru masih menjalani proses identifikasi di RS Bhayangkara Makassar. Tim SAR gabungan memastikan operasi pencarian akan terus dilanjutkan dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia hingga seluruh korban berhasil ditemukan sesuai prosedur operasi penyelamatan.

Tragedi KM Nurul Salsa kembali menjadi pengingat pentingnya peningkatan standar keselamatan pelayaran di wilayah kepulauan Indonesia, termasuk pemeriksaan kelaikan kapal, ketersediaan alat keselamatan, serta kepatuhan terhadap informasi cuaca sebelum pelayaran dilakukan.

Editor : Mahendra Aditya
kapal tenggelam Selayar Basarnas Makassar KM Nurul Salsa korban KM Nurul Salsa Tim SAR Pangkep