Empat Hari Melawan Maut, Bocah 7 Tahun Selamat dari Tragedi KLM Nurul Salsa Setelah Kehilangan Ayah dan Ibu

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 17:25 WIB
TNI AL Evakuasi Dua Korban Selamat KM Nurul Salsa.
TNI AL Evakuasi Dua Korban Selamat KM Nurul Salsa.

RADAR KUDUS - Perjuangan hidup seorang bocah berusia tujuh tahun bernama Diska menjadi salah satu kisah paling mengharukan dalam tragedi tenggelamnya Kapal Layar Motor (KLM) Nurul Salsa di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Selama empat hari empat malam, Diska bertahan hidup di tengah lautan hanya dengan berpegangan pada papan gabus, ditemani sang ayah dan ibu yang akhirnya meninggal dunia setelah tak lagi mampu melawan ganasnya ombak.

Kisah memilukan itu terungkap setelah tim penyelamat berhasil mengevakuasi para korban selamat dari tengah laut. Diska ditemukan dalam kondisi sangat lemah bersama empat korban lainnya setelah hanyut berhari-hari sejak kapal yang mereka tumpangi mengalami musibah.

Berdasarkan keterangan Basarnas Makassar, bocah tersebut ditemukan pada Sabtu (18/7/2026) oleh Kapal Motor Nelayan (KMN) Sinar Mattoanging yang sedang melintas di sekitar perairan Pulau Matallang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).

Saat ditemukan, Diska bersama empat penyintas lainnya masih bertahan dengan menggunakan papan gabus sebagai alat apung darurat. Mereka menghabiskan empat hari tanpa perlindungan memadai di tengah laut, menghadapi terik matahari, angin kencang, gelombang tinggi, serta keterbatasan makanan dan air minum.

Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa Diska berhasil selamat bersama bibinya yang bernama Asseng. Keduanya bertahan hingga akhirnya ditemukan oleh nelayan yang secara kebetulan melintas di lokasi.

Menurut penuturan Asseng kepada tim penyelamat, sejak kapal tenggelam seluruh korban berusaha menyelamatkan diri menggunakan papan gabus yang mengapung di laut.

Ayah Diska, Hasbi (41), dan ibunya, Malida (31), sempat bertahan bersama anak mereka di atas papan tersebut. Namun kondisi fisik keduanya terus melemah setelah berhari-hari berada di tengah lautan tanpa bantuan.

Lambat laun, tenaga mereka habis. Keduanya meninggal dunia sebelum akhirnya tubuh mereka tenggelam ke dasar laut.

"Menurut keterangan keluarga yang selamat, kedua orang tuanya sempat bersama di atas papan gabus. Namun mereka tidak mampu bertahan hingga akhirnya meninggal dunia dan tenggelam," ujar Andi Sultan.

Peristiwa itu menjadi pengalaman yang sangat berat bagi Diska. Di usia yang masih sangat muda, ia harus menyaksikan kedua orang tuanya berpulang di tengah lautan sebelum akhirnya dirinya berhasil diselamatkan.

Basarnas mengaku fokus utama saat proses evakuasi adalah menyelamatkan para korban yang masih hidup sehingga tidak sempat menggali secara rinci berapa lama kedua orang tua Diska mampu bertahan sebelum akhirnya meninggal dunia.

Setelah berhasil dievakuasi, Diska langsung mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Selayar untuk memastikan kondisi kesehatannya. Setelah dinyatakan stabil, bocah tersebut kemudian dijemput oleh anggota keluarganya.

Musibah tenggelamnya KLM Nurul Salsa sendiri memicu operasi pencarian dan penyelamatan berskala besar yang melibatkan Basarnas, TNI AL, Polairud, BPBD, nelayan setempat, serta berbagai unsur relawan.

Tim SAR menyisir sejumlah titik di sekitar lokasi tenggelamnya kapal hingga wilayah perairan yang diperkirakan menjadi jalur hanyut para korban akibat arus laut dan tiupan angin.

Dalam operasi pencarian, kondisi cuaca dan gelombang yang berubah-ubah menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelamat. Meski demikian, pencarian terus dilakukan untuk menemukan seluruh korban yang belum berhasil ditemukan.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan tingginya risiko pelayaran di wilayah kepulauan Indonesia yang memiliki karakteristik cuaca laut yang cepat berubah. Keselamatan pelayaran, kelengkapan alat penyelamat seperti jaket pelampung dan rakit penyelamat, serta kepatuhan terhadap standar keselamatan menjadi faktor penting untuk meminimalkan jatuhnya korban jiwa saat terjadi kecelakaan laut.

Kisah Diska menjadi simbol ketegaran seorang anak yang mampu bertahan dalam situasi yang hampir mustahil. Selama empat hari ia melawan rasa lapar, haus, panas matahari, dan dinginnya malam di tengah lautan, sembari menghadapi kehilangan terbesar dalam hidupnya.

Tragedi KLM Nurul Salsa tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya peningkatan standar keselamatan transportasi laut agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

Editor : Mahendra Aditya
KLM Nurul Salsa kapal tenggelam Selayar Diska korban KLM Nurul Salsa Basarnas Makassar kecelakaan kapal Sulawesi Selatan