Prabowo Duduk Sendiri, Gibran di Barisan Menko Saat Sidang Kabinet, Ini Penjelasan Resmi Istana

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 17:17 WIB
Bongkar Akar Masalah Kesejahteraan ASN, Presiden Prabowo Sebut Kebocoran Anggaran Rp2.500 Triliun Jadi Penyebab Gaji Guru Rendah
Presiden Prabowo Subianto.

RADAR KUDUS - Perbedaan susunan tempat duduk dalam Sidang Kabinet Paripurna (SKP) yang digelar di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026), menjadi perhatian publik.

Presiden Prabowo Subianto tampak duduk sendiri di bagian depan ruang sidang, sementara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada di deretan Menteri Koordinator, tidak lagi berada di sisi Presiden seperti pada sejumlah sidang kabinet sebelumnya.

Perubahan formasi tersebut memunculkan beragam spekulasi di media sosial. Tidak sedikit yang mengaitkannya dengan dinamika politik di lingkungan pemerintahan. Namun, Istana Kepresidenan memastikan anggapan tersebut tidak benar.

Baca Juga: Ada Apa? Gibran Tak Lagi Duduk di Samping Prabowo Saat Sidang Kabinet, Istana Beri Penjelasan Resmi

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan pengaturan posisi duduk Presiden dan Wakil Presiden semata-mata dilakukan untuk memenuhi kebutuhan teknis selama jalannya Sidang Kabinet Paripurna.

Menurut Prasetyo, Presiden Prabowo pada kesempatan itu menyampaikan paparan yang sangat panjang dan komprehensif mengenai evaluasi kinerja pemerintahan, perkembangan program prioritas nasional, serta capaian Kabinet Merah Putih selama kurang lebih 20 hingga 21 bulan memimpin pemerintahan.

Karena materi yang dipresentasikan memuat banyak data, angka, indikator, dan target pembangunan, Presiden menggunakan perangkat teleprompter sebagai alat bantu penyampaian materi agar penjelasan dapat berlangsung lebih sistematis dan akurat.

Penggunaan teleprompter tersebut mengharuskan adanya penyesuaian tata letak ruang sidang. Presiden ditempatkan di posisi tengah dengan sudut pandang yang ideal terhadap perangkat, sedangkan susunan kursi peserta lainnya ikut disesuaikan demi menjaga efektivitas jalannya rapat.

"Itu murni kebutuhan teknis. Tidak ada makna lain yang perlu ditafsirkan dari perubahan posisi duduk tersebut," ujar Prasetyo Hadi saat memberikan keterangan kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (21/7/2026).

Ia menambahkan bahwa penggunaan teleprompter merupakan hal yang lazim dalam agenda kenegaraan ketika kepala negara harus menyampaikan laporan yang memuat banyak informasi rinci. Perangkat tersebut membantu menjaga ketepatan penyampaian data sekaligus memastikan seluruh materi dapat disampaikan secara utuh.

Prasetyo juga membantah berbagai spekulasi yang berkembang mengenai hubungan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran. Ia memastikan tidak ada persoalan internal maupun perubahan posisi politik di dalam pemerintahan.

Menurutnya, Presiden dan Wakil Presiden tetap bekerja sebagai satu kesatuan kepemimpinan sesuai mandat konstitusi, sementara seluruh anggota Kabinet Merah Putih terus memperkuat koordinasi untuk menjalankan program-program prioritas nasional.

"Tidak ada sama sekali persoalan mengenai kesetaraan ataupun hubungan Presiden dan Wakil Presiden. Kami justru sedang berada dalam situasi yang sangat solid dan kompak untuk mempercepat seluruh agenda pembangunan," tegasnya.

Prasetyo mengungkapkan bahwa Sidang Kabinet Paripurna kali ini merupakan rapat evaluasi setelah berakhirnya semester pertama tahun 2026. Forum tersebut dimanfaatkan Presiden untuk melakukan penilaian terhadap pelaksanaan berbagai kebijakan pemerintah sekaligus memberikan arahan strategis kepada seluruh kementerian dan lembaga menjelang semester kedua.

Baca Juga: Ramai Disorot, Posisi Duduk Gibran di Sidang Kabinet Dijelaskan Istana: Bukan Soal Politik

Dalam arahannya, Presiden Prabowo meminta seluruh jajaran Kabinet Merah Putih meningkatkan kecepatan pelaksanaan program prioritas agar target pembangunan dapat dicapai sesuai jadwal.

Beberapa agenda yang menjadi perhatian pemerintah antara lain percepatan swasembada pangan, penguatan ketahanan energi nasional, hilirisasi industri, peningkatan investasi, reformasi birokrasi, digitalisasi layanan publik, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga penguatan program perlindungan sosial.

Presiden juga memaparkan sejumlah indikator capaian pemerintah selama hampir dua tahun masa pemerintahan Kabinet Merah Putih sebagai bahan evaluasi sekaligus pijakan untuk menyusun langkah percepatan pada sisa tahun 2026.

Sidang Kabinet Paripurna sendiri merupakan forum koordinasi tertinggi pemerintahan yang dipimpin langsung oleh Presiden. Dalam rapat tersebut hadir para menteri, wakil menteri, kepala lembaga, penasihat khusus Presiden, hingga utusan khusus Presiden guna menyelaraskan pelaksanaan kebijakan lintas sektor.

Sebelumnya, Sidang Kabinet Paripurna terakhir digelar pada 13 Maret 2026. Pada sidang tersebut, posisi Presiden dan Wakil Presiden masih tampak berdampingan. Karena itu, perubahan tata letak pada sidang kali ini langsung menjadi perhatian publik.

Meski demikian, Istana menegaskan perubahan tersebut tidak memiliki makna politik apa pun. Pengaturan kursi hanya menyesuaikan kebutuhan presentasi Presiden menggunakan teleprompter sehingga penyampaian evaluasi dan arahan kepada seluruh kabinet dapat berlangsung lebih efektif.

Pemerintah pun mengajak masyarakat untuk lebih mencermati substansi hasil Sidang Kabinet Paripurna, terutama evaluasi kinerja dan arah kebijakan nasional, dibandingkan memperdebatkan aspek teknis berupa posisi duduk para pejabat negara.

Editor : Mahendra Aditya
Sidang Kabinet Paripurna kabinet Kabinet Merah Putih gibran rakabuming raka prabowo subianto