Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Bursa Ketum PBNU Menghangat, PWNU Sumsel Pilih Musyawarah Sebelum Tentukan Sikap

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 17 Juli 2026 | 20:13 WIB
Nahdlatul Ulama
Nahdlatul Ulama

RADAR KUDUS - Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026, dinamika perebutan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 mulai menunjukkan peningkatan.

Sejumlah tokoh yang masuk dalam bursa calon pemimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia itu aktif melakukan safari silaturahmi ke berbagai wilayah guna membangun komunikasi dengan pengurus daerah dan para ulama.

Di tengah menghangatnya peta dukungan tersebut, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Selatan memilih mengambil posisi hati-hati.

Hingga pertengahan Juli 2026, PWNU Sumsel belum menentukan dukungan kepada salah satu kandidat Ketua Umum PBNU dan menegaskan bahwa seluruh keputusan akan ditempuh melalui mekanisme organisasi yang mengedepankan musyawarah.

Baca Juga: Jelang Muktamar ke-35 NU, Cak Imin Dorong Pembaruan Total: Banyak Tokoh Ingin Perubahan di PBNU

Ketua PWNU Sumsel KH Hendra Zainuddin Al Qodiri menegaskan bahwa berbagai manuver dan silaturahmi yang dilakukan para bakal calon merupakan hal yang wajar dalam proses demokrasi organisasi.

Menurutnya, NU sebagai organisasi besar memiliki tradisi yang kuat dalam menentukan kepemimpinan melalui pertimbangan matang, bukan sekadar dukungan personal atau kepentingan kelompok tertentu.

Pernyataan tersebut disampaikan saat dirinya menerima kunjungan Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, di Pondok Pesantren Aulia Cendekia, Palembang.

Hendra menilai seluruh proses yang berlangsung saat ini merupakan bagian dari ikhtiar mencari sosok terbaik yang mampu membawa NU menghadapi tantangan zaman sekaligus menjaga marwah organisasi.

Ia meyakini Muktamar ke-35 NU akan menjadi momentum penting bagi organisasi yang telah memasuki abad kedua perjalanannya. Karena itu, keputusan terkait dukungan tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa.

PWNU Sumsel, kata dia, akan terlebih dahulu melakukan pembahasan internal bersama jajaran pengurus dan meminta pandangan para masyayikh sebelum menentukan arah politik organisasi dalam forum muktamar.

Menurut Hendra, tradisi musyawarah dan penghormatan kepada ulama merupakan identitas yang melekat dalam kultur Nahdlatul Ulama. Oleh sebab itu, sikap resmi organisasi harus lahir dari kesepakatan bersama, bukan keputusan individu.

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah nama yang disebut-sebut memiliki peluang maju sebagai calon Ketua Umum PBNU mulai intens melakukan komunikasi dengan pengurus wilayah di berbagai daerah.

Selain Gus Salam, beberapa tokoh NU lainnya seperti KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin serta KH Yusuf Chudlori juga diketahui telah melakukan silaturahmi dengan sejumlah pengurus wilayah, termasuk di Sumatera Selatan.

Meski demikian, PWNU Sumsel menegaskan bahwa kunjungan para tokoh tersebut tidak dapat diartikan sebagai bentuk dukungan politik. Tradisi sowan dan silaturahmi merupakan bagian dari budaya NU yang sudah berlangsung sejak lama dan tetap harus dipisahkan dari proses pengambilan keputusan organisasi.

Baca Juga: Muktamar ke-35 NU Siap Digelar, Tambakberas Sediakan 3.370 Kamar, Ratusan Banser Disiagakan

Hendra memastikan pihaknya akan menerima seluruh tokoh yang datang dengan niat baik. Namun keputusan terkait dukungan tetap akan diproses melalui mekanisme resmi yang berlaku di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Muktamar ke-35 NU sendiri diprediksi menjadi salah satu forum organisasi terbesar tahun 2026. Ribuan peserta dari seluruh Indonesia dijadwalkan hadir untuk memilih kepemimpinan baru sekaligus merumuskan arah kebijakan NU dalam lima tahun ke depan.

Sejumlah isu strategis diperkirakan akan menjadi perhatian, mulai dari penguatan pendidikan pesantren, pemberdayaan ekonomi umat, transformasi digital, hingga penguatan peran NU dalam menjaga persatuan bangsa.

Selain memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU, forum muktamar juga akan menjadi ajang evaluasi perjalanan organisasi selama satu periode terakhir. Karena itu, dinamika dukungan yang berkembang di berbagai daerah menjadi bagian penting dalam menentukan arah kepemimpinan NU ke depan.

PWNU Sumsel berharap seluruh tahapan menuju muktamar dapat berlangsung dengan suasana yang sejuk, penuh persaudaraan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai ukhuwah yang selama ini menjadi fondasi organisasi.

Harapan terbesar adalah lahirnya pemimpin yang mampu menjaga soliditas internal NU sekaligus memperkuat kontribusi organisasi bagi umat, bangsa, dan negara.

Editor : Mahendra Aditya
PWNU Sumsel Calon Ketum PBNU ketua umum pbnu Muktamar NU 2026 nahdlatul ulama