RADAR KUDUS - Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 27–30 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, dinamika internal organisasi semakin menjadi perhatian publik.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, menyatakan bahwa aspirasi untuk melakukan pembaruan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus menguat dan datang dari berbagai kalangan tokoh NU di sejumlah daerah.
Pernyataan tersebut disampaikan Cak Imin saat menghadiri rangkaian peringatan Hari Lahir ke-28 PKB di BRIlian Stadium, Jakarta Selatan, Jumat (17/7/2026). Menurutnya, dalam beberapa waktu terakhir ia telah berkomunikasi dengan banyak tokoh NU yang menginginkan adanya perubahan kepemimpinan pada muktamar mendatang.
Baca Juga: Muktamar ke-35 NU Siap Digelar, Tambakberas Sediakan 3.370 Kamar, Ratusan Banser Disiagakan
Ia menilai sebagian besar tokoh yang ditemuinya berharap Muktamar ke-35 menjadi momentum evaluasi sekaligus pembaruan organisasi setelah menilai masih terdapat berbagai persoalan selama periode kepengurusan saat ini.
Menurut Cak Imin, semangat perubahan tersebut muncul sebagai bentuk keinginan agar NU semakin mampu menjawab tantangan zaman dan memperkuat perannya dalam kehidupan keagamaan, kebangsaan, serta pemberdayaan masyarakat.
Cak Imin mengaku dirinya hanya menyampaikan aspirasi yang diterimanya dari berbagai kalangan. Ia menyebut banyak pihak merasa tidak memiliki ruang yang cukup untuk menyampaikan pandangan secara terbuka sehingga menitipkan harapan tersebut kepadanya.
Menurutnya, sebagai kader yang memiliki kedekatan historis dengan lingkungan Nahdliyin, ia merasa berkewajiban menyuarakan keinginan sebagian warga NU yang menghendaki pembaruan kepengurusan melalui mekanisme yang sah dalam muktamar. Namun demikian, ia menegaskan bahwa keputusan akhir tetap sepenuhnya berada di tangan peserta muktamar sebagai forum tertinggi organisasi.
Lebih lanjut, Cak Imin mengatakan figur-figur yang dinilai layak memimpin PBNU pada periode berikutnya cukup banyak. Ia menyebut sejumlah tokoh dari berbagai wilayah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga provinsi lainnya memiliki kapasitas, pengalaman, dan rekam jejak yang memadai untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Meski menyampaikan pandangan mengenai pentingnya pembaruan, Cak Imin menegaskan bahwa PKB tidak akan mencampuri proses pemilihan Ketua Umum PBNU. Ia menilai pemilihan pimpinan organisasi merupakan hak penuh warga NU dan menjadi urusan internal yang harus dijalankan sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Nahdlatul Ulama.
PKB, kata dia, hanya menghormati seluruh proses demokrasi yang berlangsung di lingkungan NU tanpa melakukan intervensi terhadap mekanisme pemilihan maupun penentuan calon ketua umum. Sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga independensi organisasi sekaligus menghormati kedaulatan forum muktamar.
Pernyataan Cak Imin muncul di tengah meningkatnya dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU. Sebelumnya, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya telah menyampaikan keinginannya untuk kembali maju sebagai calon ketua umum pada muktamar mendatang. Ia menyatakan masih memiliki sejumlah program strategis yang ingin diselesaikan sebagai bagian dari kesinambungan kepemimpinan organisasi.
Di sisi lain, sejumlah tokoh NU juga mulai menyampaikan pandangan mengenai arah kepemimpinan organisasi setelah memasuki abad kedua perjalanan Nahdlatul Ulama.
Banyak pihak berharap muktamar tidak hanya menjadi forum pemilihan ketua umum, tetapi juga menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat peran NU dalam bidang pendidikan, dakwah, ekonomi umat, pemberdayaan pesantren, pengembangan sumber daya manusia, hingga transformasi digital.
Muktamar ke-35 NU sendiri diperkirakan akan dihadiri ribuan peserta dari jajaran Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, pengasuh pesantren, ulama, badan otonom, serta delegasi dari berbagai daerah di Indonesia. Selain memilih Ketua Umum PBNU untuk masa khidmat berikutnya, forum tersebut juga akan membahas berbagai rekomendasi strategis terkait isu keagamaan, kebangsaan, sosial, pendidikan, ekonomi, lingkungan, serta perkembangan teknologi yang menjadi tantangan umat pada masa mendatang.
Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan jutaan warga Nahdliyin, setiap pelaksanaan muktamar selalu menjadi perhatian publik karena keputusan-keputusan yang dihasilkan tidak hanya berpengaruh terhadap arah organisasi, tetapi juga memiliki dampak luas terhadap kehidupan sosial, keagamaan, dan kebangsaan.
Dengan semakin dekatnya pelaksanaan Muktamar ke-35, berbagai aspirasi mengenai kepemimpinan, pembaruan organisasi, maupun keberlanjutan program diperkirakan akan terus berkembang. Namun seluruh proses penentuan kepemimpinan tetap akan berlangsung melalui mekanisme musyawarah dan pemungutan suara sesuai ketentuan organisasi, sehingga hasil muktamar nantinya diharapkan mampu memperkuat persatuan warga Nahdlatul Ulama sekaligus menjawab tantangan zaman yang terus berubah.
Editor : Mahendra Aditya