JAKARTA – Gagasan besar R.A. Kartini kembali diangkat dalam sebuah forum budaya yang digelar di Ruang Teater Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Sabtu (11/7/2026).
Melalui pemutaran film Kartini versi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan diskusi budaya, publik diajak memahami kembali sosok Kartini sebagai pemikir progresif yang memiliki pengaruh hingga tingkat internasional.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pameran TATAH 2026 yang mengusung tema "Suluk – Sulur – Jepara".
Tak hanya menjadi ajang menonton film bersama, acara ini juga menghadirkan ruang dialog mengenai perjuangan emansipasi, nilai-nilai budaya, hingga keterkaitan pemikiran Kartini dengan filosofi seni ukir khas Jepara.
Perwakilan Yayasan REKANUSA Jepara, Eka Fitri Suryani, yang hadir sebagai tamu undangan menilai kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk menjaga keberlanjutan warisan intelektual Kartini.
Menurutnya, Kartini tidak semestinya hanya dikenang setiap 21 April, tetapi juga dipahami sebagai tokoh yang mampu memadukan kearifan lokal Jawa dengan gagasan yang bersifat universal.
Ia mengibaratkan pemikiran Kartini seperti motif sulur dalam ukiran Jepara yang terus menjalar, menghubungkan akar tradisi dengan perkembangan zaman.
“Kartini bukan hanya ikon tanggal 21 April. Melalui film dan dialog ini, kita diajak melihat beliau sebagai pemikir besar yang menggabungkan nilai lokal Jawa dgn gagasan universal, mirip sulur ukir Jepara yang merambat, menghubungkan akar tradisi dgn cabang inovasi,” ujar Eka.
Eka juga menegaskan komitmen Yayasan REKANUSA dalam mendukung berbagai upaya pelestarian budaya di Bumi Kartini.
Film Khusus yang Pernah Diputar di Markas PBB
Film Kartini karya sutradara Hanung Bramantyo yang diputar dalam acara ini merupakan versi khusus yang sebelumnya pernah ditayangkan di Markas Besar PBB di New York pada 2018.
Berbeda dengan versi yang beredar di bioskop, edisi tersebut lebih menonjolkan sisi universal pemikiran Kartini.
Film mengangkat semangat kebebasan berpikir, kemampuan berdialog dengan berbagai budaya, peran perempuan dalam membangun ekonomi, hingga kecakapan Kartini memadukan pemikiran Barat dengan nilai-nilai lokal.
Hanung Bramantyo yang hadir langsung dalam diskusi mengatakan bahwa Kartini seharusnya tidak hanya diperingati sebagai simbol tahunan, melainkan dipahami melalui karya-karya dan pemikirannya.
Ia berharap film tersebut mampu mendorong masyarakat untuk membaca kembali surat-surat dan literatur asli Kartini sehingga dapat mengenal lebih dalam gagasan yang diwariskannya.
Kartini sebagai Nilai Kehidupan
Ketua Yayasan Kartini Heritage Center sekaligus keturunan langsung Kartini, Joddy Mulyasetya Putra, menyampaikan bahwa di lingkungan keluarganya, Kartini bukan sekadar tokoh sejarah.
Nilai-nilai seperti keberanian menyampaikan pendapat, berpikir kritis, serta kedisiplinan masih terus dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan sang pahlawan.
Sementara itu, Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar menilai Kartini merupakan simbol keberanian berpikir bebas yang membuka jalan bagi kesetaraan kesempatan bagi seluruh masyarakat.
Dalam sesi diskusi setelah pemutaran film, peserta juga diajak membahas bagaimana gagasan Kartini tetap relevan dalam mendorong pemberdayaan perempuan, pendidikan, hingga penguatan ekonomi masyarakat pada masa kini.
Menjaga Warisan Budaya di Tengah Globalisasi
Penyelenggaraan kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas budaya Indonesia di tengah derasnya arus globalisasi.
Jepara sebagai kota ukir sekaligus tanah kelahiran Kartini mendapat perhatian melalui kolaborasi antara penyelenggara Pameran TATAH, pemerintah daerah, dan kementerian terkait.
Veronica Rompies menilai berbagai media seperti film, pameran, hingga literasi perlu dipadukan agar generasi muda semakin mengenal Kartini sebagai seorang pemikir yang gagasannya tetap relevan, bukan sekadar tokoh simbolik dalam sejarah.
Bagi Yayasan REKANUSA, keikutsertaan dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk komitmen untuk terus mendukung pelestarian nilai budaya.
Menurut Eka, gerakan semacam ini bukan hanya menjaga tradisi seni ukir, tetapi juga menghidupkan kembali semangat perjuangan Kartini agar terus menginspirasi generasi mendatang. (*)
Editor : Ali Mustofa