Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

BRIN Ciptakan AI Prediksi Badai Matahari, Peringatan Dini Bisa Keluar 4 Hari Sebelum Menghantam Bumi

Mahendra Aditya Restiawan • Minggu, 12 Juli 2026 | 08:17 WIB

 

Ilustrasi badai matahari. (Gemini AI)
Ilustrasi badai matahari. (Gemini AI)

JAKARTA – Ancaman badai Matahari bukan lagi sekadar fenomena astronomi yang menarik untuk diamati. Dalam kondisi ekstrem, peristiwa ini dapat mengganggu berbagai infrastruktur vital di Bumi, mulai dari satelit, jaringan listrik, sistem navigasi GPS, komunikasi radio, hingga operasional penerbangan.

Untuk meningkatkan kemampuan mitigasi terhadap ancaman tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu memprediksi kekuatan badai Matahari beberapa hari sebelum mencapai Bumi.

Teknologi yang dinamakan Bz4SWx ini diklaim mampu memberikan peringatan dini hingga 96 jam atau empat hari setelah terjadinya lontaran massa korona (Coronal Mass Ejection/CME) dari Matahari, sehingga berbagai sektor strategis memiliki waktu lebih panjang untuk melakukan langkah antisipasi.

Baca Juga: Di María Tinggalkan Warisan Besar, Scaloni Masih Cari Sosok Ideal untuk Antar Argentina Pertahankan Gelar

Mengapa Badai Matahari Berbahaya?

Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Tiar Dani, menjelaskan bahwa tingkat bahaya badai Matahari tidak hanya ditentukan oleh besarnya ledakan di Matahari, tetapi juga oleh arah medan magnet antarplanet yang dibawanya menuju Bumi.

Dalam ilmu cuaca antariksa, komponen tersebut dikenal sebagai Bz.

Apabila nilai Bz mengarah ke selatan (bernilai negatif) dan bertahan selama beberapa jam, medan magnet Matahari akan lebih mudah berinteraksi dengan magnetosfer Bumi.

Akibatnya, perisai alami Bumi menjadi lebih rentan ditembus partikel bermuatan energi tinggi yang kemudian memicu badai geomagnetik.

"Ibarat menghadapi badai di daratan, kita perlu mengetahui seberapa besar kekuatan badai Matahari agar langkah mitigasi bisa dilakukan lebih cepat dan tepat," jelas Tiar.

Dampak Badai Geomagnetik Bisa Sangat Serius

Badai geomagnetik diklasifikasikan dalam lima tingkat, mulai dari G1 (ringan) hingga G5 (ekstrem).

Pada level G1, dampaknya umumnya masih terbatas, seperti gangguan kecil pada jaringan listrik serta munculnya fenomena aurora yang terlihat lebih jauh dari wilayah kutub.

Namun ketika badai mencapai level G5, konsekuensinya bisa jauh lebih besar.

Menurut BRIN, arus listrik induksi yang terbentuk dapat merusak transformator pada jaringan transmisi listrik dan memicu pemadaman berskala luas.

Peristiwa serupa pernah terjadi di Quebec, Kanada, pada tahun 1989, ketika badai geomagnetik menyebabkan jutaan pelanggan kehilangan pasokan listrik selama beberapa jam.

Baca Juga: Brace Jude Bellingham Bawa Inggris ke Semifinal! Norwegia Tumbang Dramatis 2-1 di Piala Dunia 2026

Selain itu, badai Matahari ekstrem juga berpotensi mengganggu:

Bahkan, dalam kasus tertentu, aktivitas badai Matahari juga dapat meningkatkan paparan radiasi bagi astronot serta penerbangan yang melintasi wilayah kutub.

AI Bz4SWx Analisis Data Matahari Secara Menyeluruh

Untuk meningkatkan akurasi prediksi, BRIN mengembangkan sistem AI berbasis multi-modal deep learning.

Berbeda dengan metode konvensional yang hanya mengandalkan kecepatan lontaran massa korona, sistem ini menggabungkan berbagai sumber informasi secara bersamaan.

AI menganalisis:

Melalui kombinasi data tersebut, AI dapat memperkirakan nilai minimum Bz sekaligus memprediksi waktu terjadinya gangguan geomagnetik hingga empat hari ke depan.

Memanfaatkan Teknologi Attention Mechanism

Salah satu keunggulan sistem Bz4SWx adalah penggunaan teknologi attention mechanism, yaitu metode yang banyak diterapkan dalam pengembangan kecerdasan buatan modern.

Teknologi ini memungkinkan AI memfokuskan analisis pada area Matahari yang memiliki potensi terbesar menghasilkan badai geomagnetik.

Cara kerjanya dianalogikan seperti mata manusia yang secara otomatis akan mengarahkan perhatian ke objek yang paling mencolok atau paling berbahaya di lingkungan sekitar.

Dengan pendekatan tersebut, sistem mampu mengenali pola-pola kompleks yang sebelumnya sulit diprediksi menggunakan metode analisis tradisional.

Akurasi Menjanjikan untuk Sistem Peringatan Dini

Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan BRIN, sistem AI tersebut menunjukkan tingkat akurasi yang menjanjikan dalam memprediksi intensitas medan magnet badai Matahari.

Kemampuan memberikan informasi hingga empat hari sebelum badai mencapai Bumi dinilai sangat penting bagi berbagai sektor yang bergantung pada teknologi antariksa.

Peringatan dini memungkinkan operator satelit melakukan manuver perlindungan, perusahaan listrik meningkatkan kesiapsiagaan jaringan, serta lembaga penerbangan menyesuaikan rute apabila diperlukan.

Cuaca Antariksa Semakin Penting di Era Digital

Dalam beberapa dekade terakhir, ketergantungan manusia terhadap satelit, internet, navigasi digital, hingga jaringan listrik terus meningkat.

Karena itu, pemantauan cuaca antariksa kini menjadi bagian penting dari sistem mitigasi bencana teknologi di berbagai negara.

Dengan hadirnya Bz4SWx, BRIN berharap Indonesia semakin siap menghadapi potensi dampak badai Matahari melalui sistem prediksi yang lebih cepat, akurat, dan berbasis kecerdasan buatan.

Teknologi ini diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan sebelum badai geomagnetik ekstrem benar-benar memengaruhi berbagai infrastruktur penting di Bumi.

Editor : Mahendra Aditya
#badai Matahari #AI Bz4SWx #badai geomagnetik #prediksi badai Matahari #BRIN