RADAR KUDuS - Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan pelaksanaan biodiesel B50 sebagai upaya baru pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor solar.
Kebijakan ini diharapkan dapat menghemat cadangan devisa negara hingga Rp170 triliun dan menjadi salah satu langkah penting dalam penggunaan energi berbasis kelapa sawit di Indonesia.
Dalam acara peluncuran yang berlangsung di Karawang pada tanggal 9 Juli 2026, pemerintah menekankan bahwa B50 adalah kelanjutan dari program biodiesel sebelumnya yang bertujuan untuk meningkatkan proporsi energi nabati dalam konsumsi solar di tingkat nasional.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa penerapan B50 akan memacu penghentian impor solar, memperkuat kemandirian energi, sekaligus memberikan dampak langsung terhadap penghematan devisa negara.
Menurut informasi dari pemerintah, penghematan devisa yang dihasilkan oleh B50 diperkirakan mencapai Rp170 triliun, jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan B40 yang sebelumnya mencapai sekitar Rp133 triliun.
Baca Juga: Usulan Baru BPIH 2027 Naik ke Rp107 Juta per Jemaah
Selain menurunkan permintaan impor bahan bakar fosil, kebijakan ini juga diklaim memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional melalui peningkatan penggunaan sawit lokal dan penguatan industri biodiesel dalam negeri.
Pemerintah menempatkan B50 sebagai bagian dari strategi besar dalam meningkatkan ketahanan energi, mengurangi ketergantungan terhadap energi impor, serta memperluas penggunaan energi baru terbarukan di sektor transportasi.
Dalam pernyataan resmi Kementerian ESDM, implementasi B50 juga direncanakan melalui tahapan yang mempertimbangkan kesiapan bahan baku, infrastruktur, dan sektor pemakai agar kebijakan ini dapat dilaksanakan secara lebih terukur.
Baca Juga: Prabowo Meresmikan B50, Pemerintah Targetkan Penghematan Impor BBM
Melalui diluncurkannya B50, pemerintah ingin menunjukkan bahwa kebijakan energi tidak hanya berkaitan dengan pasokan bahan bakar, tetapi juga dengan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Target penghematan devisa sebesar Rp170 triliun menjadi indikator bahwa B50 diposisikan sebagai program strategis yang diharapkan dapat memberikan manfaat langsung kepada negara, industri, dan ketahanan energi dalam jangka waktu menengah. (*)
Editor : Anita Fitriani