Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Krisis Lingkungan Kian Akut, Media Internasional Beri Julukan Bali Sebagai "Island of Trash"

Ghina Nailal Husna • Jumat, 10 Juli 2026 | 17:20 WIB
Ilustrasi sampah
Ilustrasi sampah
 

RADAR KUDUS — Selama berdekade-dekade, Bali secara konsisten menempati kasta tertinggi dalam peta pariwisata global sebagai destinasi impian bertajuk Pulau Dewata.

Namun, di balik keindahan visual pantai dan lanskap budayanya, Bali kini tengah menghadapi ancaman eksistensial yang serius. 

Persoalan tata kelola limbah domestik di wilayah tersebut kembali memantik perhatian dunia setelah media penyiaran terkemuka asal Australia, ABC News, menerbitkan laporan investigasi mendalam yang bertajuk “How tourists and plastic transformed Bali into an ‘Island of Trash’”.

Baca Juga: Jembatan Enang-Enang Hasil Swadaya Rp1 Miliar Rampung, Menteri PU Instruksikan Penutupan Sementara

Dalam laporan komprehensif tersebut, ABC News menyoroti krisis pengelolaan sampah di Bali yang diperkirakan memproduksi limbah padat hingga 3.500 ton setiap harinya.

Volume masif yang tidak diimbangi dengan sistem pemrosesan hulu-ke-hilir yang memadai inilah yang memicu lahirnya sindiran pedas berupa julukan “Island of Trash” (Pulau Sampah).

Transisi Kegagalan Infrastruktur: Efek Domino Pembatasan TPA Suwung

Investigasi tersebut menjabarkan bahwa titik nadir dari krisis lingkungan ini dipicu oleh fase transisi kebijakan moneter dan ekologi yang tidak matang.

Pemerintah daerah sebelumnya telah memberlakukan pembatasan ketat terhadap operasional Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung—yang selama ini menjadi penampung utama—khusus untuk jenis sampah organik.

Sayangnya, kebijakan pembatasan tersebut tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur alternatif. Fasilitas pengolahan sampah pengganti di tingkat regional terpantau belum sepenuhnya siap beroperasi secara optimal.

Akibat mandeknya rantai pasok pembuangan ini, efek domino buruk langsung terlihat di berbagai sudut kota dan pusat pariwisata:

  • Penyebaran TPS Liar: Munculnya ratusan titik pembuangan sampah ilegal di lahan kosong dan bantaran sungai.

  • Polusi Udara Lokal: Maraknya aksi pembakaran sampah secara terbuka (open burning) oleh warga demi mengurangi tumpukan limbah di pemukiman.

  • Ancaman Citra Pariwisata: Penumpukan sampah plastik di kawasan pesisir yang langsung merusak estetika dan ekosistem laut.

Pernyataan Pakar: “Kondisi riil yang terjadi di lapangan saat ini adalah sebuah krisis yang nyata,” cetus ahli biologi perkotaan, Buya Azmedia Istiqlal, saat memberikan keterangannya kepada ABC News.

Menurutnya, situasi ini membutuhkan intervensi kedaruratan yang cepat dan terukur dari pemangku kebijakan sebelum kerusakan lingkungan menjadi permanen.

Intervensi Pemerintah Bersama Danantara Melalui Proyek PSEL Denpasar

Merespons tekanan domestik dan sorotan negatif global tersebut, Pemerintah Pusat bersama lembaga superholding Danantara Indonesia mengambil langkah taktis.

Pada Rabu (8/7/2026), pemerintah secara resmi memulai proyek peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di wilayah Denpasar.

Baca Juga: Soroti Ketimpangan LHKPN Jampidsus Febrie Adriansyah, Publik Pertanyakan Sitaan Aset Rp543,2 Miliar oleh Polri

Proyek berbasis teknologi hijau ini ditargetkan mampu menjadi solusi jangka panjang yang secara signifikan dapat mereduksi volume sampah yang masuk ke TPA secara eksponensial, sekaligus mengonversi limbah tersebut menjadi pasokan energi listrik siap pakai bagi jaringan interkoneksi lokal.

Kendati proyek PSEL dipandang sebagai angin segar, sejumlah aktivis lingkungan hidup dan pengamat kebijakan publik mengingatkan bahwa hilirisasi teknologi semacam ini bukanlah obat mujarab yang bisa berdiri sendiri.

Keberhasilan operasional PSEL dinilai tetap wajib dibarengi dengan pembenahan sistem manajemen sampah yang integratif, penggalakan regulasi pemilahan sampah langsung dari sumbernya (skala rumah tangga dan industri perhotelan), serta perubahan mendasar pada perilaku ekologis masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara agar pelestarian alam Bali dapat terjaga secara berkelanjutan. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Krisis sampah Bali Island of Trash #laporan ABC News pariwisata Bali #proyek PSEL Danantara Denpasar #pembatasan TPA Suwung sampah organik #Buya Azmedia Istiqlal biologi perkoraan