RADAR KUDUS — Isak tangis haru mewarnai peresmian kembali Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh.
Setelah hampir tujuh bulan terisolasi dan dibiarkan tanpa penanganan berarti dari pemerintah daerah maupun pusat, warga setempat akhirnya berhasil memulihkan sendiri akses transportasi mereka.
Infrastruktur vital yang sempat luluh lantak akibat bencana alam tersebut kini kembali berdiri berkat kekuatan gotong royong masyarakat akar rumput.
Bagi warga setempat, jembatan ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan urat nadi kehidupan yang menghubungkan kawasan pertanian, akses anak-anak menuju sekolah, hingga jalur evakuasi ke layanan kesehatan terdekat.
Berbulan-bulan terputus membuat roda perekonomian dan mobilitas harian warga sempat lumpuh total.
Realisasi Swadaya Murni Tanpa Alokasi APBD
Hal yang paling menyita perhatian publik adalah sumber pendanaan proyek ini. Jembatan Enang-Enang dibangun kembali sepenuhnya melalui aksi swadaya murni masyarakat tanpa sepeser pun menyentuh bantuan dari anggaran pemerintah.
Melalui gerakan patungan yang digalang secara transparan, warga berhasil mengumpulkan dana kemanusiaan yang sangat fantastis, yakni menembus angka lebih dari Rp1 miliar.
Manajemen pengalokasian dana taktis tersebut diperinci secara akuntabel oleh panitia pembangunan desa sebagai berikut:
-
Alokasi Konstruksi Utama: Sekitar Rp526 juta telah diserap untuk membiayai seluruh proses perbaikan fisik, pembelian material, dan teknis pembangunan jembatan darurat.
-
Alokasi Fasilitas Pendukung: Sisa dana dari total patungan akan dialokasikan secara bertahap untuk membangun dinding penahan jalan (talud) guna mengantisipasi longsor susulan, pembangunan tempat ibadah, serta pembenahan fasilitas umum lainnya di sekitar lokasi.
Kilas Balik Bencana: Kronologi Ambruknya Jembatan Enang-Enang
Sebagai informasi, Jembatan Enang-Enang dilaporkan putus total akibat terjangan banjir bandang dan bencana tanah longsor yang melanda kawasan Kabupaten Bener Meriah pada November 2025 lalu.
Sejak saat itu, belum ada langkah konkret atau eksekusi darurat yang dilakukan oleh otoritas terkait untuk memulihkan jembatan tersebut, meskipun permohonan bantuan telah berulang kali disuarakan oleh perangkat desa.
Urat Nadi Perekonomian Warga: "Kami tidak bisa terus-menerus menunggu dan berpangku tangan melihat anak-anak kami bertaruh nyawa seberangi sungai demi sekolah, atau melihat hasil panen pertanian kami membusuk karena tidak bisa dijual ke kota.
Patungan ini adalah bentuk pembuktian sekaligus kritik nyata bagi lambatnya birokrasi," ujar salah satu perwakilan warga saat peresmian.
Desakan Terhadap Pembangunan Jembatan Permanen
Meskipun saat ini akses transportasi darat telah berhasil dipulihkan secara mandiri dan dapat dilalui kembali, warga Bener Meriah menegaskan bahwa struktur jembatan swadaya yang ada saat ini masih bersifat semi-permanen. Kapasitas beban dan daya tahannya tentu memiliki batasan spesifik.
Oleh karena itu, masyarakat sangat berharap momen ini dapat menjadi alarm keras bagi pemerintah setempat agar segera turun tangan memproyeksikan pembangunan jembatan permanen yang jauh lebih kokoh, aman, serta memiliki sistem mitigasi bencana yang mumpuni demi keselamatan jangka panjang masyarakat di masa depan. (*)