RADAR KUDUS — Harga ayam dan telur di awal Juli 2026 sedang menjadi perhatian karena mengalami penurunan yang signifikan di berbagai daerah.
Situasi ini membuat para peternak kembali dalam tekanan, karena harga jual di tingkat kandang belum sesuai dengan yang diharapkan, sementara biaya produksi harus tetap dipikul setiap harinya.
Penurunan harga ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi disebabkan oleh lemahnya penyerapan pasar dalam beberapa hari terakhir.
Di beberapa wilayah, harga telur ayam bahkan jatuh ke antara Rp19.000 hingga Rp21.000 per kilogram, sementara harga daging ayam juga mengalami penyesuaian dan belum mencapai level yang aman bagi peternak.
Baca Juga: Seluruh Jemaah Haji Telah Tiba di Indonesia, Menhaj Nyatakan Operasional Haji 2026 Berakhir
Dari sisi produsen, harga ayam hidup masih di bawah harga acuan yang ditetapkan oleh pemerintah. Data yang beredar menunjukkan bahwa banyak peternak merasa pasar dalam keadaan tidak sehat, karena harga di kandang turun lebih cepat dibandingkan dengan pemulihan permintaan di pasar konsumen.
Pemerintah pun mulai memperhatikan situasi ini dengan serius. Salah satu faktor yang disebutkan berkontribusi pada penurunan harga adalah berkurangnya penyerapan akibat program Makan Bergizi Gratis selama periode libur, sehingga stok ayam dan telur terakumulasi di pasar dan menekan harga jual.
Di lapangan, para peternak berharap ada tindakan cepat agar harga tidak terus merosot.
Baca Juga: Purbaya Ungkap Potensi Pangkas Anggaran MBG di Atas Rp40 Triliun
Mereka meyakini bahwa jika penyerapan kembali normal dan distribusi berjalan lancar, harga ayam dan telur bisa membaik secara perlahan tanpa membuat peternak menanggung kerugian lebih lama.
Harga ayam dan telur pada Juli 2026 masih perlu diawasi karena tekanan pasar belum sepenuhnya mereda.
Selama permintaan belum pulih dan penyerapan belum kuat, peternak diperkirakan tetap akan berada dalam keadaan sulit, sehingga kebijakan penyeimbang dari pemerintah menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas harga di tingkat produsen dan konsumen. (*)
Editor : Anita Fitriani