RADAR KUDUS – Bukan aransemen musik maupun melodinya yang menjadi perbincangan publik, melainkan lirik lagu berbahasa Sunda berjudul "Lalaki Langit" karya Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein. Lagu tersebut mendadak viral di berbagai platform media sosial setelah sejumlah penggalan liriknya dinilai mengandung stereotip dan merendahkan perempuan.
Kontroversi bermula ketika video yang menampilkan Saepul Bahri Binzein—yang akrab disapa Om Zein—menyanyikan lagu tersebut beredar luas di media sosial. Sejumlah pengguna internet menyoroti beberapa bagian lirik yang menyinggung persoalan biologis perempuan, seperti menstruasi, keguguran, penggunaan kosmetik, hingga pakaian dalam.
Banyak warganet menilai pilihan diksi dalam lagu tersebut tidak sensitif terhadap pengalaman perempuan dan berpotensi memperkuat stigma gender. Perdebatan pun berkembang, tidak hanya di media sosial, tetapi juga memicu tanggapan dari sejumlah tokoh publik.
Baca Juga: Tak Hanya Aniaya dan Sekap Pacar, Taufik Hidayat Kini Terseret Dugaan Perampasan Sepeda Motor
Lirik yang Menjadi Pangkal Kontroversi
"Lalaki Langit" merupakan lagu berbahasa Sunda yang berisi ungkapan rasa syukur karena terlahir sebagai laki-laki. Namun, cara penyampaian pesan tersebut justru menjadi sumber polemik.
Beberapa bait lagu membandingkan kehidupan laki-laki dengan perempuan melalui pengalaman biologis perempuan, seperti menstruasi, risiko keguguran, hingga penggunaan bra dan riasan wajah. Penggalan-penggalan itulah yang dianggap sebagian masyarakat sebagai bentuk candaan yang kurang tepat dan tidak mencerminkan penghormatan terhadap perempuan.
Alih-alih dipahami sebagai karya reflektif, lagu tersebut justru memunculkan kritik karena dinilai menghadirkan narasi yang mengobjektifikasi perempuan.
Baca Juga: Sindikat Penipuan Berkedok Bantuan Masjid Dibongkar, Emas 82 Gram Milik Korban Raib
Om Zein: Lagu Ditulis Sebelum Menjadi Bupati
Menanggapi polemik yang berkembang, Saepul Bahri Binzein menjelaskan bahwa lagu tersebut bukanlah karya yang baru dibuat. Menurutnya, "Lalaki Langit" diciptakan pada tahun 2020, jauh sebelum dirinya menjabat sebagai Bupati Purwakarta.
Ia mengatakan lagu itu lahir dari proses perenungan pribadi terhadap perilakunya pada masa lalu yang diakuinya masih sering bertindak nakal dan belum mampu menjaga diri.
Menurut Om Zein, rasa syukur yang dituangkan dalam lagu tersebut semata-mata merupakan bentuk introspeksi pribadi. Ia membayangkan apabila memiliki sifat yang sama tetapi terlahir sebagai perempuan, maka konsekuensi yang dihadapi bisa jauh lebih berat.
Karena itu, ia menegaskan bahwa lagu tersebut bukan ditujukan untuk merendahkan ataupun menghina perempuan.
Sampaikan Permintaan Maaf
Meski mengaku tidak memiliki niat melecehkan siapa pun, Om Zein menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat, terutama kepada perempuan yang merasa tersinggung oleh lirik lagu tersebut.
Ia mengakui tidak pernah memperkirakan bahwa karya yang dibuat beberapa tahun lalu akan memunculkan polemik ketika kembali beredar di ruang publik.
Menurutnya, isi lagu sepenuhnya menggambarkan perjalanan hidup dan refleksi dirinya sendiri, bukan bentuk penilaian terhadap kaum perempuan.
Kritik Datang dari Atalia Praratya
Gelombang kritik juga datang dari Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya. Melalui akun media sosial pribadinya, Atalia menyampaikan bahwa ia tidak menemukan pesan penghormatan terhadap perempuan dalam lirik lagu tersebut.
Ia menilai persoalan ini bukan sekadar soal kebebasan berekspresi atau selera seni, tetapi berkaitan dengan pilihan narasi yang disampaikan oleh seorang pejabat publik.
Atalia mempertanyakan mengapa dari begitu banyak kosakata indah dalam Bahasa Sunda dan nilai-nilai budaya yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap sesama, justru dipilih diksi yang dianggap menertawakan beban biologis perempuan.
Menurutnya, budaya Sunda sejak lama dibangun di atas prinsip silih asih, silih asah, silih asuh, yakni saling mengasihi, saling mendidik, dan saling membimbing. Karena itu, ia berpandangan bahwa narasi yang dianggap merendahkan pengalaman biologis perempuan tidak sejalan dengan nilai luhur tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa perjuangan menghapus budaya patriarki dan diskriminasi terhadap perempuan masih menjadi pekerjaan besar di Indonesia. Oleh sebab itu, pejabat publik dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan narasi yang lebih menghargai kesetaraan gender.
Baca Juga: Cirebon Hasilkan 1.200 Ton Sampah per Hari, Separuhnya Belum Tertangani
Kebebasan Berkarya dan Tanggung Jawab Pejabat Publik
Kontroversi "Lalaki Langit" kembali memunculkan diskusi mengenai batas antara kebebasan berekspresi dengan tanggung jawab sosial seorang kepala daerah.
Dalam posisi sebagai pejabat publik, setiap karya maupun pernyataan yang disampaikan akan lebih mudah mendapat perhatian masyarakat dan memiliki dampak yang lebih luas dibandingkan karya pribadi pada umumnya.
Hingga kini, polemik mengenai lagu tersebut masih ramai diperbincangkan di media sosial. Sebagian masyarakat menerima klarifikasi dan permintaan maaf Om Zein sebagai bentuk tanggung jawab, sementara sebagian lainnya berharap kejadian serupa menjadi pembelajaran agar karya yang dipublikasikan lebih mempertimbangkan perspektif kesetaraan gender dan sensitivitas terhadap kelompok tertentu.
Editor : Mahendra Aditya