Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Kronologi Kematian Kapten Indro, Gajah Penjaga Konflik Manusia dan Satwa di Tesso Nilo

Nabila Agustin • Rabu, 1 Juli 2026 | 14:24 WIB
gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang dikenal sebagai Kapten Indro mati di Camp Elephant Flying Squad Balai Taman Nasional Tesso Nilo (dok. Balai TNTN)
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang dikenal sebagai Kapten Indro mati di Camp Elephant Flying Squad Balai Taman Nasional Tesso Nilo (dok. Balai TNTN)

RADAR KUDUS – Dunia konservasi Indonesia kembali berduka setelah gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) bernama Indro.

Atau yang dikenal sebagai Kapten Indro mati di Camp Elephant Flying Squad Balai Taman Nasional Tesso Nilo (BTNTN), Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, pada Senin (29/6/2026) pukul 03.45 WIB.

Gajah jantan berusia sekitar 45 tahun itu selama ini dikenal sebagai salah satu gajah Flying Squad yang berperan membantu penanganan konflik antara manusia dan gajah liar di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo.

Balai Taman Nasional Tesso Nilo menjelaskan Indro mati setelah menjalani penanganan medis intensif akibat komplikasi kesehatan yang dipicu penurunan nafsu makan pasca menjalani fase musth.

Yaitu periode peningkatan hormon reproduksi yang umumnya membuat gajah jantan menjadi lebih agresif.

Berdasarkan kronologi yang disampaikan BTNTN, Indro mulai memasuki fase awal musth pada 25 April 2026.

Memasuki awal Mei, perilakunya berubah semakin agresif yang ditandai keluarnya cairan dari organ reproduksi serta sekresi dari pelipis kepala, ciri khas gajah jantan yang sedang mengalami musth.

Kondisinya terus berkembang hingga awal Juni. Pada 3–5 Juni, Indro tidak lagi dapat didekati oleh mahout (pawang), tidak merespons perintah, dan menunjukkan perilaku yang berpotensi membahayakan petugas.

Selama periode tersebut, tim Flying Squad tetap memenuhi kebutuhan pakan dan air dari jarak aman serta memandikannya menggunakan pompa air untuk menjaga kebersihan dan suhu tubuh.

Karena fase musth berlangsung cukup lama, pada 24 Juni tim medis BTNTN bersama Balai Besar KSDA Riau melakukan tindakan sedasi atau pembiusan guna memasang rantai tambahan sebagai langkah pengamanan.

Setelah prosedur selesai, Indro diberikan penawar bius hingga kembali sadar dalam kondisi berdiri stabil.

Namun sehari setelah pembiusan, kondisi kesehatannya mulai menurun. Pada 25–26 Juni, Indro mengalami penurunan nafsu makan dan minum secara drastis.

Tim medis bersama mahout melakukan pemantauan intensif selama 24 jam dan berkoordinasi dengan dokter hewan untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.

Memasuki 27–28 Juni, berbagai tindakan medis dilakukan, mulai dari pemberian suplemen energi, pemeriksaan kondisi tubuh, evakuasi feses secara manual, hingga terapi infus.

Pada 28 Juni, Indro sempat menunjukkan perkembangan positif dengan mulai minum dan mencoba memakan pakan.

Tim bahkan memberikan sekitar 60 botol infus untuk mempercepat pemulihan kondisi fisiknya.

Meski sempat tampak membaik, kondisi Indro mendadak memburuk pada dini hari 29 Juni sekitar pukul 03.30 WIB.

Gajah tersebut ditemukan dalam posisi terbaring. Tim dokter hewan dan mahout segera melakukan pemeriksaan fungsi pernapasan serta resusitasi jantung paru (CPR), namun upaya penyelamatan tidak berhasil. Indro akhirnya dinyatakan mati pada pukul 03.45 WIB.

Kepergian Kapten Indro menjadi kehilangan besar bagi upaya konservasi di Taman Nasional Tesso Nilo.

Selama bertahun-tahun, ia berperan penting sebagai gajah Flying Squad dalam membantu mitigasi konflik antara manusia dan gajah liar di kawasan hutan Tesso Nilo.

Editor : Ali Mustofa
#gajah SUmatera #BTNTN #Camp Elephant Flying Squad Balai Taman Nasional Tesso Nilo #konservasi