RADAR KUDUS — Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, membeberkan sebuah fakta mengejutkan mengenai profil risiko kesehatan para personel keamanan negara.
Menkes mengungkapkan bahwa penyebab angka kematian tertinggi di kalangan anggota TNI maupun Polri bukanlah akibat insiden kontak senjata atau kekerasan di lapangan, melainkan dipicu oleh Penyakit Tidak Menular (PTM) kronis seperti stroke dan serangan jantung.
Pernyataan tersebut disampaikan Menkes Budi Gunadi di sela-sela agenda peluncuran resmi (Kick Off) Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta Skrining Tuberkulosis (TBC) massal yang dipusatkan di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada Senin (29/6/2026).
Baca Juga: DPC PKB Grobogan Ikut Peduli Berikan Donasi Madin Terbakar di Mlowokarangtalun Pulokulon
"Sehebat-hebatnya anggota TNI-Polri, yang meninggal dunia karena tertembak, terbacok, atau tertusuk di lapangan itu jumlahnya jauh lebih sedikit daripada yang meninggal karena stroke dan jantung. Percaya sama saya," ujar Budi Gunadi di hadapan para peserta dan perwakilan instansi.
Urgensi Deteksi Dini Melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG)
Menurut Menkes, realitas tingginya angka mortalitas akibat penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular di kalangan aparat penegak hukum serta masyarakat umum menjadi landasan kuat bagi kementeriannya untuk menggulirkan program jaminan skrining kesehatan berkala.
Melalui Program CKG yang kini diakselerasi secara nasional, pemerintah ingin menggeser paradigma layanan kesehatan dari yang semula bersifat mengobati (kuratif) menjadi mencegah (preventif).
Budi Gunadi mengimbau seluruh lapisan masyarakat, termasuk para personel militer yang memiliki intensitas kerja tinggi, untuk secara disiplin memantau tiga indikator utama di dalam tubuh.
Tiga parameter krusial yang wajib dijaga agar tetap berada dalam batas normal meliputi:
-
Tekanan Darah (Tensi): Guna mengantisipasi risiko pecahnya pembuluh darah di otak (stroke).
-
Kadar Gula Darah: Untuk mencegah komplikasi diabetes melitus yang merusak organ dalam.
-
Kadar Lemak Darah (Kolesterol): Demi menghindari penyumbatan koroner yang memicu serangan jantung mendadak.
Menjaga Tiga Indikator Utama demi Tingkatkan Angka Harapan Hidup
Lebih lanjut, Menkes menjelaskan bahwa stroke menempati urutan pertama sebagai mesin pembunuh nomor satu di Indonesia, yang kemudian disusul oleh penyakit jantung di posisi kedua, kanker di posisi ketiga, serta gagal ginjal kronis di peringkat keempat.
Keempat penyakit mematikan ini saling berkaitan erat dengan gaya hidup dan pola makan.
Baca Juga: Bocah 4 Tahun Meninggal Setelah Terperosok ke Lubang Proyek di Tebet Jaksel
"Jika tekanan darah, gula darah, dan kolesterol tadi mampu kita jaga secara ketat melalui pola hidup sehat dan cek medis berkala, maka ancaman dari penyakit nomor satu, dua, dan empat itu otomatis bisa dikendalikan sejak dini," tambahnya optimis.
Kementerian Kesehatan memproyeksikan bahwa keberhasilan program pencegahan ini tidak hanya akan menekan beban anggaran jaminan kesehatan nasional (BPJS), tetapi juga secara langsung mampu mendongkrak kualitas hidup masyarakat.
Menkes menegaskan, dengan menjaga stabilitas ketiga indikator kesehatan tersebut secara konsisten, rata-rata angka harapan hidup masyarakat Indonesia berpotensi besar mengalami peningkatan signifikan hingga menyentuh usia 74 tahun. (*)