Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Populasi Kunang-Kunang Menyusut, Ini Kata Pakar IPB

Anita Fitriani • Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:17 WIB
ilustrasi kunang kunang
ilustrasi kunang kunang

 

 

 

 

RADAR KUDUS — Kunang-kunang kini semakin sulit ditemukan dan dianggap sebagai indikator bahwa kualitas lingkungan menurun. Ahli entomologi dari IPB University, Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi, menyatakan bahwa fenomena ini bukan hanya keluhan masyarakat, melainkan sinyal jelas bahwa ekosistem sedang tertekan.

Menurut IPB, kunang-kunang berfungsi sebagai bioindikator yang keberadaannya mencerminkan keadaan lingkungan. Ketika habitat membaik, populasi serangga bercahaya ini dengan cepat menurun dan bahkan dapat menghilang dari suatu daerah.

Prof. Upik menjelaskan bahwa faktor utama yang menyebabkan penurunan populasi kunang-kunang adalah kerusakan habitat. Perubahan fungsi lahan hijau, rawa, dan sawah menjadi pemukiman atau area lain mengurangi tempat tinggal larva semakin signifikan.

Baca Juga: Mulai 1 Juli 2026, Indonesia Akan Jual Biodiesel B50 sebagai BBM Baru

Selain itu, polusi cahaya dari sumber buatan, termasuk lampu LED yang terang, juga mengganggu proses reproduksi kunang-kunang. Cahaya yang berlebihan menyulitkan kunang-kunang jantan untuk menerima sinyal dari betina, sehingga proses perkawinan tidak berhasil.

Aspek lain yang memperburuk situasi ini adalah penggunaan pestisida kimia, perubahan iklim yang menyebabkan kekeringan, pembangunan saluran irigasi yang disemen, dan urbanisasi yang semakin meluas.

Semua faktor tersebut menjadikan lingkungan semakin tidak bersahabat bagi kelangsungan hidup kunang-kunang.

Baca Juga: Pembacokan Saat Konvoi Suporter Sepak Bola di Surabaya, Pelaku Ditangkap Polisi

IPB juga menekankan bahwa penurunan jumlah kunang-kunang bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi merupakan fenomena yang bersifat global.

Data dari IUCN yang dikutip dalam laporan menunjukkan sekitar 11–20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi berstatus terancam.

Meski demikian, kunang-kunang masih bisa ditemukan di lingkungan yang lembap, minim polusi cahaya, dan bebas dari pencemaran.

Tempat-tempat seperti hutan mangrove, tepian sungai alami, sawah, rawa, kebun organik, dan hutan tropis lembap tetap merupakan kawasan yang mendukung kelangsungan hidup serangga ini.

Baca Juga: Menyambut Libur Sekolah, Pertamina Tingkatkan Stok Pertalite di SPBU hingga 18 Persen di Jateng-DIY

IPB merekomendasikan langkah-langkah sederhana untuk membantu menurunkan penurunan populasi kunang-kunang, seperti mengurangi penggunaan lampu di luar ruangan, menjaga kebersihan sungai dan saluran air, serta memanfaatkan pupuk organik. Effort ini dinilai penting agar kunang-kunang tidak semakin langka di alam.

Dengan perubahan lingkungan yang terus berlangsung, keberadaan kunang-kunang yang semakin langka menjadi pengingat bahwa kesehatan ekosistem perlu perhatian lebih.

Jika habitat mereka terus menyusut, serangga bercahaya ini bisa semakin sulit dijumpai pada malam hari. (*) 

Editor : Anita Fitriani
#kelangkaan hewan #lingkungan alam #ipb #Kunang kunang