Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengatasi Krisis Pengemudi, Jepang Lirik Pekerja Indonesia untuk Jadi Sopir Bus Bergaji Rp50 Juta

Ghina Nailal Husna • Kamis, 25 Juni 2026 | 21:54 WIB
ilustrasi supir
ilustrasi supir

 

RADAR KUDUS — Negeri Sakura kini tidak hanya menjadi destinasi favorit bagi para pekerja migran di sektor manufaktur, kesehatan, atau teknologi. Belakangan ini, sebuah tren baru mulai bergeser ke sektor transportasi publik. 

Semakin banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang memilih untuk menjajal karier sebagai sopir bus di Jepang, sebuah profesi yang menawarkan pendapatan menggiurkan hingga mencapai Rp50 juta per bulan.

Peluang emas ini terbuka lebar seiring dengan krisis tenaga kerja yang tengah melanda sektor angkutan umum di Jepang.

Baca Juga: BRI Rembang Turut Ramaikan Soft Opening Rumah Sakit Keluarga Sehat (KSH) Rembang dengan Beragam Program Menarik

Fenomena penuaan populasi (ageing population) membuat negara tersebut kekurangan tenaga kerja usia produktif secara masif.

Pemerintah dan operator transportasi di Jepang memperkirakan bahwa mereka akan menghadapi kelangkaan sekitar 30.000 pengemudi bus dalam beberapa tahun ke depan.

Untuk mengantisipasi kelumpuhan total pada moda transportasi massal, regulasi pun dilonggarkan guna menyambut tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia.

Kesejahteraan Menjanjikan dan Sistem Kerja Terstruktur

Daya tarik utama dari profesi ini tentu saja terletak pada paket kompensasi yang ditawarkan.

Penghasilan awal untuk seorang sopir bus di Jepang berkisar di angka ¥400.000 hingga ¥500.000, atau setara dengan Rp50 juta per bulan. Angka ini jauh di atas rata-rata pendapatan upah minimum untuk profesi serupa di tanah air.

Catatan Penting: Selain gaji pokok yang kompetitif, para pekerja juga mendapatkan jaminan sistem kerja yang sangat terstruktur, pembatasan jam kerja yang ketat untuk mencegah kelelahan (Demi keselamatan), serta asuransi kesehatan dan ketenagakerjaan yang komprehensif.

Sebelum diizinkan membawa penumpang dan mengaspal secara mandiri, para pekerja migran tidak langsung dilepas begitu saja.

Operator transportasi Jepang menyediakan fasilitas pelatihan intensif, mulai dari pengenalan rute, budaya pelayanan pelanggan khas Jepang (omotenashi), hingga proses penyetaraan izin mengemudi (SIM) yang didampingi oleh instruktur profesional.

Dobrakan Sejarah: 16 WNI Mengaspal di Jepang

Hingga tahun 2026, tercatat sudah ada 16 WNI yang resmi mengantongi izin dan aktif bekerja sebagai pengemudi bus di berbagai kota di Jepang.

Menariknya, profesi yang kerap diidentikkan dengan kaum pria ini juga berhasil didobrak oleh talenta perempuan Indonesia.

Salah satu figur yang mencuri perhatian adalah Mahatmi Rismartanti. Ia menorehkan sejarah sebagai perempuan Indonesia pertama yang berhasil menekuni profesi sebagai sopir bus di Jepang.

Keberhasilan Mahatmi dan rekan-rekannya membuktikan bahwa pekerja Indonesia memiliki ketahanan, kedisiplinan, dan kemampuan adaptasi yang tinggi untuk bersaing di sektor yang menuntut standardisasi keselamatan ketat tersebut.

Tantangan dan Persyaratan yang Harus Dipenuhi

Meski menawarkan masa depan finansial yang menjanjikan, jalur karier ini bukanlah jalan pintas yang mudah.

Pemerintah Jepang menerapkan seleksi dan persyaratan yang cukup ketat demi menjaga kualitas pelayanan dan keselamatan publik. Beberapa syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh calon pekerja antara lain:

  • Kemampuan Bahasa Jepang: Calon sopir wajib menguasai bahasa Jepang (minimal setingkat N4 atau N3 dalam JLPT) karena mereka harus berinteraksi langsung dengan penumpang dan memahami rambu serta sistem navigasi.

  • Sertifikasi dan Lisensi: Mengikuti pelatihan profesi khusus dan lulus ujian untuk mendapatkan lisensi mengemudi komersial lokal Jepang yang terkenal sangat ketat.

  • Kesehatan Fisik dan Mental: Lolos uji medis yang mencakup tes penglihatan, refleks, dan kesehatan jantung.

Baca Juga: Bawa Snapdragon 6 Gen 3 dan Fitur AI Canggih, Samsung Galaxy A27 5G Siap Melantai 3 Juli

Program ini dinilai menjadi salah satu alternatif karier terbaik bagi WNI yang ingin bekerja di luar negeri melalui jalur resmi (G-to-G atau B-to-B) dengan jaminan perlindungan hukum yang kuat.

Bagi mereka yang memiliki keterampilan menyetir yang baik dan ketekunan untuk belajar bahasa, jalan raya di Jepang kini menjadi ladang rezeki baru yang sangat menjanjikan. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#sopir bus Jepang #lowongan kerja Jepang #gaji sopir bus Jepang #karier luar negeri #Pekerja Migran Indonesia