RADAR KUDUS — Kepala Negara melontarkan peringatan keras dan bernada satir kepada kelompok-kelompok yang diduga sengaja mendanai aksi demonstrasi untuk mengganggu stabilitas politik nasional.
Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mengaku telah mengantongi identitas para penyandang dana di balik berbagai draf gerakan unjuk rasa yang belakangan terjadi di beberapa wilayah.
Pernyataan blak-blakan yang dibalut humor segar tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat memberikan pidato kunci dalam acara Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII yang digelar di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, pada Rabu, 24 Juni 2026.
Tirukan Gaya Demonstran Bayaran: Ikut Aksi demi Rp200 Ribu
Di hadapan ribuan petani, nelayan, dan pejabat daerah yang memadati lokasi, Presiden Prabowo sempat mencairkan suasana dengan menirukan draf pengakuan oknum demonstran bayaran di lapangan.
Menurutnya, banyak dari peserta aksi yang sebenarnya tidak memahami substansi atau tuntutan yang mereka suarakan sendiri.
"Kadang kalau ditanya, 'Kamu demo apa di situ?', jawabnya, 'Nggak tahu Pak, saya cuma diajak, dikasih kaos sama uang Rp200.000, ya saya ikut saja'," ujar Presiden Prabowo sembari menirukan gestur polos, yang langsung disambut sorak-sorai, tepuk tangan riuh, dan gelak tawa dari para hadirin.
Suasana di atas panggung tampak sangat cair. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi yang berdiri tepat di belakang podium kepresidenan pun terlihat tidak bisa menyembunyikan tawa mendengar draf anekdot realitas sosial yang dilemparkan oleh Kepala Negara tersebut.
Analogi Sepak Bola dan Ajakan Menjaga Kekompakan Nasional
Di balik candaannya, mantan Panglima Kostrad ini menegaskan adanya draf indikasi bahwa ada pihak-pihak tertentu—baik dari dalam maupun luar—yang secara sengaja tidak menginginkan Indonesia bangkit menjadi negara maju yang mandiri.
Namun, ia memastikan bahwa instrumen intelijen dan keamanan negara telah mendeteksi pergerakan aktor-aktor intelektual tersebut.
Untuk menangkal upaya pelemahan dari dalam, Presiden Prabowo menggunakan analogi olahraga guna menggugah rasa nasionalisme masyarakat.
Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk kompak mendukung draf program kerja pemerintah demi kemajuan bersama.
"Kita ini harus seperti suporter sepak bola yang kompak membela tim nasional kita saat bertanding di tengah lapangan.
Jangan justru sebaliknya, ketika tim kita sedang berjuang keras melawan tantangan global, ada segelintir orang di tribun yang malah menyoraki dan mempermalukan timnya sendiri," cetusnya.
Strategi Unik Swasembada: TNI-Polri Turun ke Sawah dan Ladang
Selain menyoroti dinamika politik, Presiden Prabowo memanfaatkan forum Penas XVII ini untuk memaparkan draf keunikan strategi pembangunan yang diusung oleh Kabinet Merah Putih, khususnya dalam mengejar target ketahanan dan swasembada pangan nasional secara akseleratif.
Pemerintah secara resmi mengintegrasikan draf kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) ke dalam sektor agraris.
Langkah yang tidak konvensional ini diambil sebagai bukti totalitas pemerintah dalam mengamankan pasokan pangan dalam negeri dari ancaman krisis iklim global.
"Mungkin ini strategi yang aneh bagi pengamat asing, melihat tentara dilibatkan langsung. Tapi kita serius.
Sekarang rekan-rekan dari Angkatan Laut kita minta ikut mengawasi dan menanam kedelai di wilayah pesisir, sementara draf personel Angkatan Udara ikut mengoptimalkan lahan di sekitar pangkalan udara untuk menanam tebu.
Kita gerakkan semua draf potensi untuk membuktikan bahwa bangsa ini bisa berdiri di atas kaki sendiri," pungkasnya optimistis. (*)