BOGOR – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax mulai memengaruhi pola operasional sejumlah layanan publik, termasuk armada pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor. Meski tidak berdampak langsung pada biaya operasional karena kendaraan menggunakan Biosolar bersubsidi, pengaturan jadwal kerja harus disesuaikan untuk menghindari antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Sebagai langkah antisipasi, puluhan armada pengangkut sampah kini diberangkatkan lebih awal setiap hari. Pengisian bahan bakar dilakukan sejak dini hari agar kendaraan dapat segera menjalankan tugas pengangkutan sampah tanpa mengganggu jadwal pelayanan kepada masyarakat.
Kepala Bidang Persampahan DLH Kota Bogor, Deden Adi Suryadi, menjelaskan bahwa perubahan pola operasional tersebut dilakukan untuk menjaga kelancaran layanan kebersihan di seluruh wilayah Kota Bogor.
Menurutnya, antrean kendaraan yang mengisi Biosolar di sejumlah SPBU menjadi tantangan tersendiri sejak harga BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian. Karena itu, armada DLH harus melakukan pengisian lebih awal sebelum aktivitas masyarakat meningkat.
“Armada biasanya sudah mulai bergerak setelah waktu subuh. Sebelum melayani pengangkutan sampah, kendaraan terlebih dahulu melakukan pengisian BBM agar tidak terjebak antrean yang lebih panjang pada jam sibuk,” ujarnya.
Baca Juga: Dana PIP Juni 2026 Mulai Masuk Rekening, Pemegang KIP Segera Cek Saldo Anda
130 Armada Tetap Beroperasi Setiap Hari
DLH Kota Bogor saat ini mengoperasikan sekitar 130 unit truk pengangkut sampah yang melayani enam kecamatan. Armada tersebut menjadi tulang punggung sistem pengelolaan sampah harian yang melayani kebutuhan lebih dari satu juta penduduk Kota Bogor.
Setiap kendaraan rata-rata melakukan pengangkutan antara empat hingga lima ton sampah per hari. Sampah yang terkumpul dari berbagai titik kemudian dibawa menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga yang menjadi lokasi pengolahan dan penampungan sampah regional.
Untuk mendukung operasional tersebut, setiap truk memperoleh kuota pengisian Biosolar hingga 22 liter dalam satu kali pengisian. Mekanisme pengisian disesuaikan dengan kebutuhan kendaraan di lapangan dan dikelola langsung oleh pengemudi masing-masing armada.
Baca Juga: Stasiun KRL JIS Resmi Layani Penumpang, Waktu Tempuh ke Kota Hanya 15 Menit
Kenaikan BBM Belum Ganggu Layanan Persampahan
Meski harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan, DLH memastikan pelayanan pengangkutan sampah kepada masyarakat masih berjalan normal dan tidak mengalami pengurangan frekuensi layanan.
Keberadaan Biosolar sebagai bahan bakar yang masih mendapatkan subsidi pemerintah menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas biaya operasional armada kebersihan.
Selain mengatur waktu keberangkatan lebih pagi, beberapa armada juga dijadwalkan melakukan pengisian pada sore atau malam hari untuk mengurangi risiko antrean panjang di SPBU.
Strategi tersebut dinilai cukup efektif untuk memastikan seluruh kendaraan tetap siap beroperasi setiap hari tanpa mengganggu proses pengangkutan sampah dari permukiman, pasar tradisional, pusat perdagangan, hingga fasilitas umum lainnya.
Baca Juga: Konflik Pascacerai Memanas, Ruben Onsu Adukan Dugaan Eksploitasi Anak ke KPAI
Pengelolaan Sampah Jadi Layanan Vital Kota
Pengangkutan sampah merupakan salah satu layanan dasar yang sangat bergantung pada ketersediaan armada dan pasokan bahan bakar. Gangguan operasional dalam waktu singkat dapat menyebabkan penumpukan sampah di berbagai titik dan berpotensi memicu masalah lingkungan maupun kesehatan masyarakat.
Karena itu, DLH Kota Bogor menegaskan akan terus melakukan berbagai penyesuaian operasional untuk menjaga kualitas layanan di tengah dinamika harga energi dan meningkatnya kebutuhan pengelolaan sampah perkotaan.
Dengan strategi pengisian BBM lebih awal dan pemanfaatan Biosolar bersubsidi, pemerintah daerah optimistis layanan kebersihan tetap berjalan optimal sehingga masyarakat tidak merasakan dampak langsung dari kenaikan harga BBM nonsubsidi yang terjadi belakangan ini.
Editor : Mahendra Aditya