RADAR KUDUS - Kabar yang dinanti jutaan pengguna kendaraan bermotor mulai muncul. Setelah sempat melonjak tajam pada pertengahan 2026, harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax diproyeksikan mengalami penurunan secara bertahap hingga penghujung tahun.
Proyeksi tersebut disampaikan oleh pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki.
Menurutnya, peluang koreksi harga Pertamax semakin terbuka seiring mulai meredanya tekanan harga minyak dunia dan adanya prediksi penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan ke depan.
Saat ini Pertamax masih berada di level Rp16.250 per liter setelah mengalami kenaikan pada Juni 2026.
Namun, jika berbagai asumsi ekonomi berjalan sesuai perkiraan, harga BBM andalan Pertamina tersebut berpotensi turun hingga berada di kisaran Rp12.100-Rp13.500 per liter pada akhir tahun.
Penurunan Diprediksi Terjadi Bertahap
Berdasarkan simulasi yang disusun Yayan, harga Pertamax berpeluang turun menjadi sekitar Rp15.228 per liter pada Juli 2026.
Tren penurunan diperkirakan berlanjut ke Rp14.557 per liter pada Agustus, Rp14.112 per liter pada September, Rp13.814 per liter pada Oktober, dan Rp13.614 per liter pada November.
Memasuki Desember 2026, harga Pertamax diproyeksikan berada di kisaran Rp13.479 per liter apabila kondisi pasar energi global tetap terkendali.
Prediksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa Indonesian Crude Price (ICP) atau harga minyak mentah Indonesia bergerak turun secara bertahap menuju level sekitar 90 dolar AS per barel.
Selain itu, penguatan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi faktor penting yang dapat membantu menekan biaya impor energi.
Geopolitik Masih Jadi Penentu
Meski tren penurunan mulai terlihat, ketidakpastian global masih menjadi faktor utama yang dapat mengubah arah harga BBM dalam waktu singkat.
Konflik geopolitik di Timur Tengah, terutama yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel, masih menjadi perhatian pelaku pasar energi dunia.
Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga mendekati 117 dolar AS per barel sebelum akhirnya mengalami koreksi setelah muncul harapan tercapainya kesepakatan diplomatik.
Namun kondisi berubah cepat ketika agenda perundingan yang direncanakan batal terlaksana dan ketegangan kembali meningkat.
Situasi tersebut membuat harga minyak kembali bergerak naik karena investor khawatir terhadap gangguan pasokan energi global.
Ancaman Selat Hormuz
Salah satu risiko terbesar yang terus dipantau adalah kemungkinan terganggunya jalur pelayaran Selat Hormuz. Jalur strategis ini menjadi salah satu pintu utama distribusi minyak dunia.
Apabila terjadi gangguan serius yang memicu kenaikan harga minyak hingga rata-rata 100 dolar AS per barel, tekanan terhadap anggaran negara akan semakin besar.
Meski demikian, pemerintah dinilai masih memiliki ruang fiskal yang cukup kuat untuk menghadapi skenario tersebut.
Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai sekitar Rp420 triliun disebut masih mampu menjadi bantalan apabila harga minyak global kembali melonjak akibat gejolak geopolitik.
Dampak ke Inflasi Nasional
Sementara itu, Bank Indonesia sebelumnya memperingatkan bahwa kenaikan harga Pertamax yang terjadi pada Juni 2026 berpotensi memberikan tambahan tekanan terhadap inflasi nasional.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menyebut kenaikan harga BBM nonsubsidi dapat menyumbang sekitar 0,25 persen terhadap inflasi.
Meski demikian, dampaknya masih dianggap terkendali karena sejumlah komponen energi lain justru mengalami penurunan harga.
Selain sektor energi, BI juga terus memantau potensi inflasi dari harga pangan dan komoditas impor yang sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi global.
Harapan Konsumen
Bagi masyarakat, proyeksi penurunan Pertamax menjadi kabar yang cukup menggembirakan setelah lonjakan harga yang terjadi beberapa waktu terakhir.
Jika tren penurunan harga minyak dunia berlanjut dan nilai tukar rupiah semakin stabil, peluang harga Pertamax kembali berada di level yang lebih terjangkau semakin terbuka.
Meski begitu, perkembangan situasi geopolitik global tetap menjadi faktor yang harus diwaspadai karena dapat mengubah pergerakan harga energi dalam waktu singkat.
Oleh sebab itu, konsumen masih perlu mencermati perkembangan pasar minyak dunia dalam beberapa bulan mendatang.
Editor : Mahendra Aditya