RADAR KUDUS – Seorang mahasiswi Universitas Airlangga (Unair), YIP, mengakui telah menggunakan dana organisasi mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) dengan total mencapai Rp103.336.457 untuk keperluan pribadinya.
Kasus ini kemudian menjadi perhatian publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial dan menimbulkan sorotan terhadap pengelolaan keuangan organisasi di lingkungan kampus.
YIP diketahui merupakan mahasiswa Program Studi D4 Manajemen Perkantoran Digital Fakultas Vokasi Unair angkatan 2023.
Ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan Airlangga University Bidik Misi Organization (AUBMO) periode 2025/2026.
Dalam sebuah video klarifikasi yang diunggah melalui akun Instagram @bidikmisikipkunair, YIP secara terbuka mengakui kesalahannya dalam mengelola dana organisasi yang berada di bawah tanggung jawabnya.
“Saya mengakui telah menyalahgunakan amanah dengan menggunakan dana organisasi untuk kepentingan pribadi. Hal ini saya lakukan secara sadar dan saya siap menerima konsekuensi dari pihak kampus serta bertanggung jawab penuh tanpa melibatkan pihak lain,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan dana tersebut dilakukan secara bertahap hingga totalnya menembus lebih dari Rp103 juta.
Dana itu, menurut pengakuannya, dipakai untuk kebutuhan pribadi seperti melunasi pinjaman daring, biaya hidup, hingga membantu pengobatan keluarga.
YIP menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan keputusan pribadi dan tidak melibatkan pengurus AUBMO lainnya. Ia juga sempat mengaku membuat alasan terkait kesalahan transfer sebelum akhirnya memilih untuk mengungkapkan kondisi sebenarnya.
Kasus ini mencuat setelah adanya temuan internal terkait ketidaksesuaian laporan keuangan organisasi. YIP mengungkapkan bahwa setelah menyadari adanya masalah, ia segera menghubungi pengurus AUBMO berikutnya untuk memberikan penjelasan.
Sementara itu, Ketua Pusat Humas dan Protokol (PHMP) Unair, Pulung Siswantara, menyebut persoalan ini berawal dari sistem keuangan organisasi yang belum memiliki rekening resmi, sehingga dana ditampung melalui rekening pribadi pengurus.
“Bukan penipuan. Selama ini AUBMO tidak punya rekening organisasi, jadi dana masuk ke rekening pribadi untuk sementara. Namun ternyata digunakan untuk kepentingan pribadi,” ujar Pulung.
Ia menambahkan bahwa dana tersebut bukan berasal dari bantuan KIP-K pemerintah, melainkan dari iuran sukarela mahasiswa penerima KIP-K yang tergabung dalam organisasi tersebut untuk kegiatan internal.
Hingga kini, pihak kampus masih melakukan pendalaman terkait motif penggunaan dana tersebut.
Selain alasan kebutuhan pengobatan orang tua, muncul pula dugaan penggunaan untuk gaya hidup, meski Unair menegaskan belum menarik kesimpulan apa pun.
Meski nilai dana cukup besar, kasus ini tidak dibawa ke jalur hukum.
Pihak kampus memilih penyelesaian internal setelah YIP mengakui kesalahan dan menunjukkan itikad untuk mengembalikan dana.
Menurut Pulung, YIP bersama keluarganya telah menyerahkan jaminan dengan nilai melebihi kerugian, serta menyepakati skema pengembalian bertahap dalam waktu satu tahun.
“Yang bersangkutan dan keluarga sudah memberikan jaminan di atas nilai kerugian dan berkomitmen untuk mengembalikan dana tersebut,” jelasnya.
YIP juga menyatakan kesiapannya mengembalikan dana secara cicilan sekitar Rp3,5 juta per bulan hingga lunas.
Ia bahkan menyebut siap menghadapi proses hukum apabila tidak memenuhi komitmen tersebut.
“Saya berjanji tidak akan lari dari tanggung jawab dan akan menyelesaikannya,” ungkapnya.
Ia turut menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh pihak yang terdampak, khususnya organisasi AUBMO yang telah memberikan kepercayaan kepadanya.
Di sisi lain, Unair menegaskan akan memperketat sistem pengelolaan dana organisasi mahasiswa agar tidak lagi menggunakan rekening pribadi.
Ke depan, seluruh aktivitas keuangan wajib melalui rekening resmi organisasi untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.
Kasus ini menjadi evaluasi penting bagi tata kelola organisasi kemahasiswaan, sekaligus pengingat akan pentingnya integritas dalam pengelolaan dana di lingkungan pendidikan tinggi.