RADAR KUDUS - Di tengah meningkatnya ancaman banjir di berbagai wilayah Indonesia, sebuah inovasi membanggakan lahir dari tangan pelajar sekolah menengah pertama. Tiga siswa SMP Negeri 21 Surakarta berhasil mengembangkan sistem peringatan dini banjir berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu memantau kenaikan muka air sungai secara real time.
Yang membuat pencapaian ini semakin istimewa, seluruh proses perancangan alat dilakukan secara mandiri melalui pembelajaran otodidak dari berbagai sumber digital seperti YouTube, Google, dan forum teknologi. Hasil karya tersebut bahkan telah diuji langsung di aliran Sungai Bengawan Solo dan menunjukkan kinerja yang sesuai dengan harapan.
Inovasi tersebut diberi nama Sipas IoT (Sistem Pemantauan Dinamika Air Sungai), sebuah perangkat yang dirancang untuk membantu mendeteksi potensi banjir lebih awal sehingga masyarakat memiliki waktu lebih banyak untuk melakukan langkah antisipasi dan evakuasi.
Berawal dari Kepedulian terhadap Ancaman Banjir
Sipas IoT dikembangkan oleh Asyifa Zahra Senja Kinasih dan Gibran Aditya Nugraha yang masih duduk di bangku kelas VII, bersama Juno Caesar Adyatama dari kelas VIII. Ketiganya mendapatkan pendampingan dari guru Informatika SMPN 21 Solo, Muhammad Anton Kuncoro.
Menurut Juno, ide pembuatan alat muncul dari keinginan mereka untuk menghadirkan solusi sederhana terhadap persoalan banjir yang masih sering terjadi di sejumlah daerah, termasuk kawasan yang dilintasi Sungai Bengawan Solo.
Sebagai sungai terpanjang di Pulau Jawa, Bengawan Solo memiliki sejarah panjang terkait banjir musiman yang berdampak pada permukiman, pertanian, hingga aktivitas ekonomi masyarakat. Kondisi inilah yang mendorong tim pelajar tersebut untuk menciptakan sistem peringatan dini yang mudah diterapkan dan memiliki biaya relatif terjangkau.
Memanfaatkan Sensor Ultrasonik untuk Membaca Ketinggian Air
Sipas IoT bekerja menggunakan sensor ultrasonik yang dipasang menghadap permukaan air. Sensor tersebut memancarkan gelombang suara frekuensi tinggi yang kemudian dipantulkan kembali oleh permukaan air.
Dari hasil pantulan itu, sistem menghitung jarak antara sensor dan permukaan air. Ketika jarak semakin pendek, perangkat akan membaca bahwa permukaan air sedang mengalami kenaikan.
Data yang diperoleh kemudian diproses menggunakan mikrokontroler ESP32 dan ditampilkan melalui layar LCD. Apabila ketinggian air mencapai batas tertentu yang telah ditentukan, sistem secara otomatis mengaktifkan alarm peringatan.
Perangkat ini terdiri atas beberapa komponen utama, yakni sensor ultrasonik, papan mikrokontroler ESP32, layar LCD sebagai media informasi, serta alarm sebagai sistem notifikasi bahaya.
Teknologi serupa sebenarnya telah digunakan pada sejumlah sistem pemantauan banjir modern. Namun menariknya, konsep tersebut berhasil dipelajari dan diterapkan oleh siswa SMP melalui proses belajar mandiri.
Belajar Otodidak Selama Sebulan
Proses pengembangan alat berlangsung sekitar satu bulan. Selama periode tersebut, tim melakukan riset, mempelajari pemrograman mikrokontroler, merancang rangkaian elektronik, hingga melakukan berbagai percobaan.
Perjalanan mereka tidak selalu mulus. Beberapa kendala teknis sempat muncul, mulai dari layar LCD yang gagal menampilkan data hingga kesalahan pemasangan kabel yang menyebabkan korsleting pada rangkaian.
Namun berbagai hambatan itu justru menjadi pengalaman berharga dalam memahami cara kerja perangkat elektronik dan sistem IoT.
Dengan ketekunan dan semangat belajar yang tinggi, mereka berhasil menyempurnakan alat hingga dapat berfungsi sesuai rancangan.
Baca Juga: PLN Terapkan Pemadaman Bergilir, Warga Kalipuro dan Sekitarnya Alami Blackout 5 Jam
Diuji Langsung di Sungai Bengawan Solo
Tidak berhenti pada tahap simulasi laboratorium, tim siswa SMPN 21 Solo juga melakukan pengujian langsung di Sungai Bengawan Solo.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan sensor mampu membaca perubahan ketinggian air pada kondisi nyata di lapangan.
Hasil uji coba menunjukkan alat dapat mendeteksi jarak permukaan air secara akurat dan menampilkan data yang sesuai dengan kondisi sungai saat pengujian berlangsung.
Pengujian lapangan menjadi tahap penting karena memberikan gambaran mengenai potensi penggunaan perangkat dalam sistem pemantauan sungai yang sebenarnya.
Potensi Dikembangkan Menjadi Sistem Berbasis Smartphone
Meski telah berhasil berfungsi, para pengembang muda tersebut menyadari bahwa alat mereka masih memiliki ruang pengembangan yang cukup luas.
Salah satu fitur yang tengah dipertimbangkan adalah integrasi dengan smartphone melalui jaringan internet. Dengan teknologi tersebut, informasi kenaikan muka air dapat dikirim secara otomatis kepada masyarakat atau petugas terkait melalui aplikasi maupun notifikasi digital.
Pengembangan semacam ini sejalan dengan tren smart disaster management yang kini mulai diterapkan di berbagai daerah untuk mempercepat penyebaran informasi kebencanaan.
Kepala SMPN 21 Solo, Wegang Sulanjari, berharap inovasi para siswanya tidak berhenti pada tahap prototipe.
Menurutnya, sistem yang terhubung dengan telepon pintar akan membuat manfaat alat semakin besar karena masyarakat dapat menerima peringatan dini kapan saja dan di mana saja.
Baca Juga: Asap Hitam Biskita Transpakuan Tuai Sorotan, Pemkot Bogor Klaim Armada Kini Kembali Normal
Bukti Pelajar Indonesia Mampu Berinovasi
Keberhasilan mengembangkan Sipas IoT menjadi bukti bahwa keterbatasan usia bukan penghalang untuk menciptakan solusi bagi persoalan masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, para siswa SMPN 21 Solo menunjukkan bahwa kreativitas, rasa ingin tahu, dan kemauan belajar dapat melahirkan inovasi yang memiliki manfaat nyata.
Karya mereka bukan sekadar proyek sekolah, tetapi juga gambaran potensi besar generasi muda Indonesia dalam mendukung mitigasi bencana berbasis teknologi. Dengan pengembangan lebih lanjut, bukan tidak mungkin alat sederhana buatan pelajar ini kelak menjadi bagian dari sistem peringatan dini banjir yang membantu melindungi masyarakat dari risiko bencana yang lebih besar.
Editor : Mahendra Aditya