BOGOR – Munculnya asap hitam dari salah satu armada Biskita Transpakuan menjadi perhatian masyarakat dan memantik sorotan terhadap kualitas perawatan transportasi publik di Kota Bogor. Insiden tersebut tidak hanya memunculkan keluhan pengguna jalan, tetapi juga mendorong evaluasi terhadap standar pemeliharaan kendaraan yang melayani ribuan penumpang setiap hari.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor memastikan permasalahan teknis yang menyebabkan keluarnya asap pekat dari knalpot bus telah ditangani. Armada yang sebelumnya menjadi sorotan disebut telah menjalani perbaikan sehingga kini kembali beroperasi dalam kondisi normal.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menjelaskan bahwa operator Biskita Transpakuan telah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kendaraan yang mengalami gangguan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah penggantian komponen filter bahan bakar diesel yang diduga menjadi penyebab utama munculnya asap hitam saat bus beroperasi.
Baca Juga: Audit BPK Ungkap Kerugian Rp9,1 Miliar, Dugaan Korupsi Proyek RSUD Bogor Utara Makin Terang
“Perbaikan sudah dilakukan. Komponen yang bermasalah, termasuk filter diesel, telah diganti sehingga kondisi kendaraan saat ini sudah kembali normal,” ujar Dedie, Jumat (19/6/2026).
Asap hitam pada kendaraan bermesin diesel umumnya disebabkan oleh proses pembakaran yang tidak sempurna. Faktor penyebabnya dapat berupa filter bahan bakar yang kotor, injektor yang bermasalah, hingga sistem pembakaran yang tidak bekerja optimal. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat meningkatkan emisi gas buang sekaligus menurunkan performa kendaraan.
Selain melakukan perbaikan, operator juga disebut rutin melaksanakan pemeriksaan teknis terhadap seluruh armada. Pemeriksaan tersebut mencakup aspek keselamatan, kelayakan operasional, serta pengujian emisi yang menjadi bagian dari kewajiban uji berkala kendaraan bermotor atau KIR.
Meski masalah teknis telah diatasi, insiden ini tetap mendapat perhatian serius dari DPRD Kota Bogor. Kalangan legislatif menilai pengawasan terhadap kendaraan angkutan umum harus dilakukan secara konsisten agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
Wakil Ketua III DPRD Kota Bogor, Dadang Iskandar Danubrata, menegaskan bahwa seluruh armada transportasi umum wajib menjalani pemeriksaan berkala. Menurutnya, perawatan kendaraan bukan hanya menyangkut aspek teknis, tetapi juga berkaitan langsung dengan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Pemeriksaan rutin sangat penting untuk memastikan kendaraan tetap layak jalan, aman digunakan, dan tidak mengganggu pelayanan kepada penumpang,” ujarnya.
DPRD menilai gangguan pada armada transportasi publik dapat menimbulkan dampak berantai. Selain berpotensi mengurangi kenyamanan pengguna jasa transportasi, kerusakan kendaraan juga dapat mengganggu jadwal operasional serta menimbulkan kerugian bagi operator.
Di sisi lain, aspek lingkungan menjadi perhatian yang tidak kalah penting. Asap hitam yang keluar dari kendaraan diesel mengandung partikel polutan yang dapat menurunkan kualitas udara. Dalam jangka panjang, emisi berlebih dari kendaraan bermotor berkontribusi terhadap peningkatan pencemaran udara perkotaan dan berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat.
Karena itu, DPRD mendorong operator untuk memperketat pengawasan internal melalui inspeksi teknis rutin, uji emisi berkala, serta perawatan preventif sebelum armada dioperasikan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga standar pelayanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan ramah lingkungan.
Biskita Transpakuan sendiri merupakan salah satu tulang punggung transportasi publik di Kota Bogor yang menghubungkan berbagai kawasan strategis. Keberadaan layanan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, menekan kemacetan, sekaligus mendukung sistem mobilitas perkotaan yang lebih modern.
Dengan perbaikan yang telah dilakukan, Pemkot Bogor berharap kepercayaan masyarakat terhadap layanan Biskita Transpakuan tetap terjaga. Namun, insiden asap hitam tersebut juga menjadi pengingat penting bahwa kualitas perawatan armada harus terus ditingkatkan agar transportasi publik dapat memenuhi standar keselamatan, kenyamanan, dan keberlanjutan lingkungan secara optimal.
Editor : Mahendra Aditya