Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kaya Flora Endemik, BRIN Temukan Spesies Baru 'Rhododendron yombuwurii' di Sulawesi Tengah

Iwan Arfianto • Jumat, 19 Juni 2026 | 14:43 WIB
Penampakan Rhododendron yombuwurii. Foto: BRIN
Penampakan Rhododendron yombuwurii. Foto: BRIN

 

Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama tim gabungan lintas institusi berhasil mengidentifikasi spesies baru tanaman hias endemik dari hutan pegunungan Sulawesi Tengah.

Tanaman hias ini berasal dari genus Rhododendron subgenus Vireya, kelompok tanaman yang karib dikenal karena keindahan bunganya serta karakteristik daun hijaunya yang abadi.

Dalam penemuan ini, Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN tidak bekerja sendiri.

Mereka berkolaborasi dengan sejumlah lembaga seperti Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Perkumpulan Konservasi Membumi, Lentera Matia Ndano, Universitas Lampung, serta Universitas Hasanuddin.

Spesies baru yang memiliki mahkota bunga berwarna jingga atau oranye cerah ini resmi diberi nama ilmiah Rhododendron yombuwurii Hutabarat, Bandjolu & Zulfadli atau Rhododendron yombuwurii (Ericaceae).

Karakteristik dan Perbedaannya dengan Spesies Kerabat

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Prima Wahyu Kusuma Hutabarat, memaparkan bahwa Rhododendron yombuwurii tumbuh dengan perawakan semak epifit ramping.

Tanaman ini memiliki pola pertumbuhan semi-tegak atau horizontal, serta menghasilkan bunga berbentuk corong sempit berwarna oranye terang.

Secara sekilas, morfologi luar tanaman ini memang menyerupai kerabat dekatnya, Rhododendron celebicum.

Namun, tim peneliti menemukan perbedaan yang sangat kontras setelah dianalisis lebih dalam.

"Namun, Rhododendron yombuwurii memiliki perbedaan yang sangat nyata, di antaranya ukuran daun yang lebih kecil, susunan bunga yang semi-tegak bukan menggantung, serta ukuran bunga yang jauh lebih kecil dan berwarna jingga cerah, berbeda dengan R. celebicum yang bunganya berukuran besar dan berwarna merah muda hingga merah," jelas Prima, dikutip dari situs resmi BRIN.

Uji DNA Mutakhir untuk Sahkan Spesies Baru

Guna memperkuat status taksonomi dan memastikan bahwa tumbuhan ini benar-benar spesies baru yang belum pernah tercatat, tim peneliti menerapkan metode pendekatan integratif berbasis sains mutakhir.

Menurut peneliti BRIN, Muhammad Rifqi Hariri, proses identifikasi struktur mikroskopis tanaman dilakukan menggunakan teknologi canggih Focused Ion Beam Scanning Electron Microscope (FIB-SEM) Aquilos.

Tidak hanya itu, tim laboratorium juga melakukan analisis DNA molekuler yang berfokus pada wilayah Internal Transcribed Spacer (ITS) ribosomal nukleus guna memvalidasi keabsahan spesies baru tersebut secara genetik.

Kronologi Penemuan dari Jatuhan Pohon

Rantai penemuan Rhododendron yombuwurii bermula pada Juni 2023.

Saat itu, tanaman ini awalnya ditemukan dalam kondisi hidup dan dipelihara oleh warga di sekitar objek wisata Air Terjun Saluopa, Tentena, Sulawesi Tengah.

Setelah ditelusuri oleh tim peneliti, terungkap bahwa tanaman tersebut sejatinya jatuh dari pohon di habitat aslinya, yaitu kawasan hutan pegunungan di Pegunungan Tokorondo (sebelah barat Tentena dan Danau Poso) pada ketinggian 1.000 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Beruntung, tanaman yang jatuh itu diselamatkan oleh masyarakat lokal sebelum akhirnya diteliti.

Dedikasi Nama untuk Tokoh Adat Poso

Pemberian nama belakang yombuwurii pada tanaman ini menyimpan makna mendalam.

Nama tersebut disematkan sebagai bentuk penghormatan kolektif kepada mendiang Pendeta Yombu Wuri, salah satu tokoh agama sekaligus tokoh adat dari Suku Pamona.

Semasa hidupnya, Pendeta Yombu Wuri dikenal sebagai sosok yang sangat vokal dan gigih dalam memperjuangkan aksi konservasi serta kelestarian keanekaragaman hayati di tanah Poso.

Meskipun kawasan Pegunungan Tokorondo dinilai menyimpan potensi biodiversitas yang luar biasa tinggi, wilayah ini diakui masih sangat minim dieksplorasi akibat kendala keterbatasan akses medan.

Oleh karena itu, lembaga konservasi dunia International Union for Conservation of Nature (IUCN) saat ini mengategorikan Rhododendron yombuwurii ke dalam status Data Deficient (DD) atau kekurangan data.

Status ini diberikan karena peneliti belum bisa mengobservasi langsung total populasinya di habitat liar, sehingga agenda survei lapangan lanjutan mutlak diperlukan di masa depan.

Laporan penemuan floral baru Indonesia ini telah resmi dipublikasikan secara global melalui jurnal internasional bereputasi, Taiwania Volume 71 Nomor 2 tahun 2026, lewat tajuk "Rhododendron yombuwurii (Ericaceae), a new orange-flowered species of subgenus Vireya from Central Sulawesi, Indonesia".

Editor : Iwan Arfianto
#rhododendron yombuwurii #flora endemic #spesies baru #BRIN #sulawesi tengah