Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengapa Akhir-akhir Ini Seringkali Mati Listrik? Ini 2 Penyebabnya

Zakaria • Jumat, 19 Juni 2026 | 08:26 WIB
Sumatra Dilanda
Sumatra Dilanda 'Blackout' Massal

RADAR KUDUS - Keluhan masyarakat terkait intensitas pemadaman listrik yang meningkat di wilayah Pulau Jawa hingga Bali akhirnya mendapat titik terang.

Pihak akademisi menilai, fenomena mati lampu yang terjadi hingga beberapa kali dalam seminggu ini dipicu oleh kombinasi krisis pasokan bahan bakar, kendala teknis, serta dampak cuaca ekstrem.

Baca Juga: Tragis! Kebakaran Saat Ditinggal Ayah Nonton Piala Dunia, Balita di Maros Tewas

Pengamat Sistem Tenaga Listrik dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevin Marojahan Banjar Nahor, mengonfirmasi bahwa terdapat dua faktor utama di balik gangguan massal ini, yaitu force outage (gangguan mendadak yang tidak direncanakan) dan derating (kebijakan penurunan kapasitas produksi listrik secara sengaja).

"Pemadaman listrik yang terjadi belakangan ini di sejumlah wilayah Pulau Jawa ternyata dipicu oleh dua hal utama," ujar Kevin melalui unggahan resmi Instagram ITB pada Senin (13/6/2026).

Dilema Stok Bahan Bakar dan Risiko Mati Total

Kevin meluruskan rumor yang beredar di media sosial mengenai adanya kesengajaan penghematan batu bara oleh negara. Ia menjelaskan bahwa kebijakan derating diambil karena stok batu bara dan minyak mentah sebagai bahan bakar utama pembangkit memang sedang menipis secara kritis.

Untuk mengantisipasi tangki bahan bakar habis total sebelum pasokan baru tiba, operator pembangkit terpaksa menurunkan daya operasi hingga tersisa sekitar 60 persen dari kapasitas maksimalnya. Langkah darurat ini dinilai lebih aman dibanding memaksakan kinerja pembangkit pada kapasitas penuh 100 persen.

"Jika dipaksa 100 persen dan bahan bakar itu habis, maka Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) akan mengalami mati total dan membutuhkan waktu hingga dua hari hanya untuk proses menyala kembali (startup)," kata Kevin menjelaskan risiko teknisnya.

Baca Juga: Anggaran MBG Dialihkan ke Kelompok Rentan: BGN Coret 76 Sekolah Mampu di Pulau Jawa

Di sisi lain, menipisnya cadangan daya ini semakin terasa ketika penggunaan listrik masyarakat mencapai titik tertinggi atau waktu beban puncak. Guna mencegah pemadaman menyeluruh (blackout) yang jauh lebih merugikan, penyedia layanan listrik terpaksa mengambil opsi pahit berupa pemadaman bergilir untuk menekan beban sistem.

Dampak Nyata "El Nino Godzilla"

Selain problem pada sektor bahan bakar fosil, sektor ketenagalistrikan nasional saat ini juga dihantam oleh faktor alam. Fenomena cuaca ekstrem El Nino berintensitas tinggi, atau yang sering dijuluki El Nino Godzilla, membawa musim kering berkepanjangan yang langsung memukul kinerja energi terbarukan.

Kondisi kekeringan ini menyebabkan debit air menyusut tajam, sehingga otomatis menurunkan kapasitas produksi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Padahal, PLTA merupakan salah satu pilar penopang pasokan energi bersih di Indonesia.

"Debit air yang menyusut tajam mengancam produktivitas PLTA besar seperti Cirata dan Saguling di Jawa Barat, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pasokan listrik di Pulau Jawa," pungkas Kevin. (*)

Editor : Zakaria
#kenapa mati listrik #padam #listrik #pln #listrik padam