Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Di Tengah Krisis Energi Global, Pertalite dan Solar Tetap Aman dari Kenaikan Harga

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 17 Juni 2026 | 17:30 WIB
ISI BBM: Konsumen mengisi BBM jenis Pertalite di salah satu SPBU di Kudus baru-baru ini.
ISI BBM: Konsumen mengisi BBM jenis Pertalite di salah satu SPBU di Kudus baru-baru ini.

JAKARTA – Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Solar di tengah ketidakpastian ekonomi global serta meningkatnya tensi geopolitik internasional yang berpotensi mendorong lonjakan harga energi dunia.

Kepastian tersebut disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menegaskan bahwa harga Pertalite dan Solar tidak akan mengalami kenaikan, meskipun tekanan terhadap pasar energi global semakin besar akibat konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, hingga fluktuasi harga minyak mentah internasional.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan kebijakan mempertahankan harga BBM subsidi merupakan arahan langsung Presiden sebagai bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok rentan dan berpenghasilan rendah.

Menurutnya, pemerintah menempatkan perlindungan terhadap masyarakat sebagai prioritas utama dalam merumuskan kebijakan energi nasional. Karena itu, Pertalite dan Solar yang menjadi kebutuhan utama transportasi dan aktivitas ekonomi masyarakat tetap dipertahankan pada harga yang berlaku saat ini.

“Pemerintah memastikan BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar tidak akan mengalami kenaikan harga. Kebijakan ini diambil untuk melindungi masyarakat kecil dan menjaga stabilitas ekonomi nasional,” ujarnya.

Baca Juga: Aksi Besar Mahasiswa di Grahadi, Poster Prabowo-Gibran Dibakar sebagai Simbol Kritik

Gejolak Dunia Tidak Ubah Komitmen Pemerintah

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pergerakan harga minyak global. Konflik di Timur Tengah, ketegangan jalur perdagangan internasional, hingga kebijakan produksi negara-negara eksportir minyak menjadi faktor yang terus memengaruhi harga energi dunia sepanjang 2026.

Dalam kondisi normal, kenaikan harga minyak mentah internasional akan meningkatkan beban subsidi energi yang harus ditanggung negara. Namun pemerintah menegaskan bahwa stabilitas harga BBM bersubsidi tetap menjadi prioritas demi menjaga inflasi dan daya beli masyarakat.

Kebijakan ini dinilai penting mengingat Pertalite dan Solar masih menjadi bahan bakar yang digunakan jutaan kendaraan roda dua, angkutan umum, pelaku usaha mikro, nelayan, hingga sektor logistik di berbagai daerah.

Sejumlah pengamat ekonomi juga menilai bahwa kenaikan harga BBM subsidi berpotensi memicu efek berantai terhadap harga barang dan jasa karena biaya distribusi ikut meningkat. Oleh sebab itu, stabilitas harga energi sering kali menjadi instrumen penting dalam menjaga inflasi nasional.

BBM Nonsubsidi Tetap Mengikuti Harga Pasar

Berbeda dengan BBM bersubsidi, pemerintah menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi tetap akan mengikuti mekanisme pasar dan harga keekonomian.

Artinya, apabila harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan, maka harga produk seperti Pertamax dan jenis BBM nonsubsidi lainnya berpotensi mengalami penyesuaian. Sebaliknya, jika harga minyak global turun, harga BBM nonsubsidi juga dapat diturunkan.

Menurut Dwi Anggia, penyesuaian harga tersebut diperlukan untuk menjaga keberlangsungan pasokan energi nasional dan kesehatan bisnis badan usaha penyedia BBM.

Ia menjelaskan bahwa banyak negara telah lebih dahulu menyesuaikan harga bahan bakar mengikuti kondisi pasar internasional. Indonesia sendiri selama beberapa waktu memilih mempertahankan harga guna memberikan ruang bagi masyarakat untuk beradaptasi terhadap tekanan ekonomi global.

Namun seiring perubahan harga minyak yang semakin dinamis, badan usaha energi harus menyesuaikan harga produk nonsubsidi agar tetap sesuai dengan perhitungan keekonomian.

Baca Juga: Rahasia Lonjakan Performa Ramadhipa di Moto3 Junior: Adaptasi Motor dan Analisis Data

Pertamax Naik, Masih Kompetitif di Kawasan

Belakangan, harga Pertamax mengalami kenaikan hingga mencapai Rp16.250 per liter. Meski demikian, pemerintah menilai harga tersebut masih relatif kompetitif dibandingkan sejumlah negara lain yang tidak memberikan subsidi energi secara besar-besaran.

Pemerintah juga menegaskan bahwa kebijakan harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan sejumlah indikator, seperti harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, biaya distribusi, hingga kondisi pasokan energi global.

Menjaga Stabilitas Ekonomi Nasional

Keputusan mempertahankan harga Pertalite dan Solar dinilai menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Selain melindungi kelompok rentan, kebijakan tersebut juga diharapkan mampu menjaga konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Data berbagai lembaga ekonomi menunjukkan bahwa konsumsi domestik masih menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Karena itu, menjaga daya beli masyarakat menjadi faktor penting untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Dengan kebijakan tersebut, pemerintah berharap masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kemungkinan kenaikan harga Pertalite dan Solar dalam waktu dekat. Sementara untuk BBM nonsubsidi, penyesuaian akan tetap dilakukan secara fleksibel sesuai perkembangan harga minyak dunia dan kondisi pasar energi internasional.

Editor : Mahendra Aditya
#bbm subsidi tidak naik #harga solar subsidi #harga pertalite 2026 #harga pertamax terbaru #kementerian esdm