RADAR KUDUS – Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, mengisahkan momen ketika dirinya sempat didatangi dan dikerumuni sekelompok mahasiswa saat menjadi pembicara dalam sebuah diskusi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada Senin (15/6) malam.
Budiman menjelaskan bahwa pada awalnya kegiatan diskusi berjalan dengan tertib dan kondusif.
Namun, situasi berubah ketika ia mulai menyampaikan materi, di mana sejumlah orang dari luar ruangan ikut masuk dan memenuhi area tribun.
Dalam pemaparannya, Budiman sempat menegaskan pandangannya bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak akan membatasi ruang kritik maupun kebebasan berpendapat masyarakat.
Pernyataan itu ia kaitkan dengan kasus yang menimpa mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, yang sebelumnya mengaku kendaraan pribadinya diduga dipasangi alat pelacak oleh pihak tidak dikenal.
“Setelah saya menyampaikan hal tersebut, sekelompok orang dari tribun belakang tiba-tiba bergerak naik ke panggung,” ungkap Budiman dalam keterangannya, Selasa (16/6).
Ia mengaku sempat mencoba membuka ruang dialog dengan para mahasiswa yang sudah berada di atas panggung.
Namun, jumlah massa yang terus bertambah membuat situasi semakin sulit dikendalikan.
Kericuhan pun tak terhindarkan ketika kelompok lain ikut naik ke panggung dan terjadi aksi saling dorong dengan petugas keamanan yang bertugas mengawal acara tersebut.
Melihat kondisi yang semakin tidak kondusif, pihak keamanan akhirnya mengambil langkah evakuasi terhadap Budiman melalui pintu samping gedung demi alasan keselamatan.
Padahal, ia mengaku masih ingin melanjutkan diskusi dengan para mahasiswa yang hadir.
“Seharusnya bisa berdialog dengan baik. Saya sebenarnya ingin berdiskusi, tetapi situasinya sudah tidak memungkinkan. Petugas keamanan khawatir keadaan akan memburuk jika kami tetap berada di dalam,” ujarnya.
Acara diskusi bertajuk “Kopdar Bareng Mas Dar” tersebut turut menghadirkan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono serta Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid.
Dalam kesempatan itu, Sudaryono sempat memaparkan rencana pemerintah terkait skema ekspor satu pintu untuk mengurangi potensi kebocoran nilai ekspor yang disebut mencapai Rp 15.000 triliun akibat perbedaan data perdagangan domestik dan internasional.
Sementara itu, Nusron Wahid menyampaikan pandangannya bahwa pemerintahan Presiden Prabowo masih memiliki sejumlah program strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tengah tantangan ekonomi global.
Namun di tengah forum tersebut, sejumlah mahasiswa juga sempat meminta penjelasan langsung kepada Nusron Wahid dan Sudaryono terkait kondisi nasional saat ini.
Keduanya kemudian dievakuasi oleh petugas keamanan UGM setelah situasi dinilai semakin tidak terkendali.