Salah satu wisatawan asal Bogor, Mia, mengaku terkesan dapat menyaksikan langsung fenomena tersebut.
Ia datang bersama rombongan sejak dini hari demi menikmati pemandangan kristal es yang menutupi lautan pasir Bromo.
Menurutnya, suasana di Bromo saat itu memberikan pengalaman seperti berada di negara bersalju, meskipun suhu yang sangat dingin cukup menusuk tubuh.
Namun, keindahan panorama yang tersaji membuat perjalanan tersebut terasa sangat berkesan.
Fenomena embun upas sendiri terjadi ketika embun yang terbentuk pada malam hari membeku akibat suhu udara yang turun drastis.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh aliran angin monsun Australia yang membawa udara dingin dan kering ke wilayah Indonesia.
Di kawasan dataran tinggi seperti Bromo, minimnya tutupan awan pada malam hari membuat panas bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer.
Akibatnya, suhu di permukaan tanah turun signifikan hingga mendekati titik beku dan menyebabkan embun berubah menjadi kristal es.
Fenomena tahunan ini selalu menjadi magnet wisata tersendiri di Bromo.
Selain menikmati matahari terbit, pengunjung juga dapat menyaksikan lanskap pegunungan yang seolah tertutup lapisan salju di tengah iklim tropis Indonesia.
Bagi wisatawan yang ingin berburu momen embun upas, disarankan datang sebelum fajar serta membawa perlengkapan hangat seperti jaket tebal, sarung tangan, penutup kepala, dan alas kaki tertutup.
Perangkat elektronik juga perlu dipersiapkan dengan baik karena suhu dingin dapat memengaruhi daya baterai.
Dengan kondisi cuaca yang masih mendukung, fenomena embun upas diperkirakan akan terus muncul selama musim kemarau dan menjadi salah satu daya tarik alam paling dinantikan di kawasan Gunung Bromo.