RADAR KUDUS — Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Provinsi Lampung pada Rabu (10/6/2026) disambut oleh gelombang protes keras dari kelompok pemuda setempat.
Di tengah pengamanan ketat aparat, sebuah aksi demonstrasi ekstrem terjadi di Tugu Adipura, Bandar Lampung, di mana tiga orang aktivis mahasiswa nekat menjahit mulut mereka sebagai bentuk protes simbolik terhadap kondisi ekonomi nasional yang kian menjepit.
Ketiga pemuda yang melakukan aksi nekat tersebut diketahui bernama Dzaki Oktarian, Bondol, dan Akbar Sumantri.
Di bawah terik matahari yang menyengat, mereka bersama belasan pemuda berpakaian kasual menggelar aksi damai yang diwarnai dengan pembakaran ban bekas sebagai simbol runtuhnya ruang demokrasi bagi rakyat kecil.
"Rakyat Menjerit, Nilai Tukar Melejit"
Dalam aksi tersebut, para demonstran membentangkan sejumlah spanduk bernada satir dan kritik tajam yang diarahkan langsung kepada kebijakan ekonomi serta pendidikan era pemerintahan saat ini. Beberapa tuntutan yang tertulis di antaranya:
-
“Wujudkan Pendidikan Kritis, Ilmiah, dan Demokratis”
-
“Rakyat Menjerit, Nilai Tukar Melejit”
-
“Rakyat Menjerit, Waktunya Pajakin Orang Kaya”
Meski dengan kondisi benang medis yang mengikat rapat bibir mereka, ketiga pemuda tersebut tidak memperlihatkan rasa sakit.
Sebaliknya, mereka tetap berdiri tegak di garis depan untuk membakar semangat para peserta aksi lainnya.
Protes Simbolik Terhadap Pembungkaman Kritik
Karena tidak dapat berbicara secara langsung akibat jahitan di mulutnya, Dzaki Oktarian menyampaikan orasinya melalui rekaman suara yang telah disiapkan sebelumnya dan diputar keras melalui pengeras suara (speaker).
Dalam rekaman tersebut, Dzaki menegaskan bahwa aksi ekstrem ini lahir dari rasa cinta dan kepedulian yang mendalam terhadap nasib rakyat.
"Kami merasa suara-suara dan kritik yang kami sampaikan selama ini tidak benar-benar ditanggapi dan didengarkan oleh penguasa.
Yang ada justru pembungkaman, kekerasan, tekanan, bahkan berbagai bentuk penindasan di lapangan," bunyi rekaman orasi Dzaki di hadapan massa.
Dzaki menilai jalannya roda pemerintahan saat ini telah melenceng jauh dari semangat dan hakikat demokrasi yang sebenarnya.
Penindasan terhadap suara-suara kritis membuat ruang publik menjadi sesak dan tidak lagi aman bagi masyarakat untuk berpendapat.
"Karena itu, pada aksi hari ini saya memilih untuk diam, menutup mulut, dan menjahit mulut saya sendiri sebagai bentuk protes simbolik.
Saya melakukan ini karena sudah merasa sangat sesak dengan kondisi nyata yang terjadi, yang berbanding terbalik dengan narasi demokrasi yang selama ini selalu digaungkan pemerintah," tegasnya dalam rekaman tersebut.
Harapan untuk Gerakan Progresif
Melalui momentum kedatangan kepala negara ke bumi Lampung, para aktivis ini berharap pemerintah pusat maupun daerah tersadar bahwa kritik adalah elemen krusial yang menyehatkan kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan sesuatu yang harus dimusuhi atau ditekan.
Baca Juga: Alasan Keamanan dan Ekonomi, Polda Metro Jaya Alihkan Massa Aksi Bundaran HI ke Patung Kuda dan DPR
Meskipun dihadapkan pada realitas politik yang represif, kelompok pemuda ini menegaskan tidak akan mundur dari jalur perjuangan publik.
"Kami juga masih memiliki harapan besar bahwa melalui aksi kolektif dan gerakan progresif seperti ini, perubahan yang diharapkan oleh masyarakat luas dapat benar-benar terwujud. Hidup mahasiswa, hidup rakyat, dan teruslah melawan.
Salam pembebasan!" pungkas Dzaki di akhir rekamannya, disambut riuh yel-yel perjuangan dari massa aksi. (*)