JAKARTA – Harga emas batangan di pasar domestik kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis, 11 Juni 2026, setelah sebelumnya sempat bergerak stabil dalam beberapa hari terakhir.
Penurunan harga tercatat pada produk emas yang dipasarkan PT Pegadaian (Persero) maupun emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam), sejalan dengan koreksi harga emas global yang dipengaruhi dinamika geopolitik serta kekhawatiran inflasi internasional.
Berdasarkan data resmi Pegadaian, emas UBS ukuran 1 gram dipasarkan seharga Rp2,703 juta, sementara emas Galeri 24 dengan ukuran serupa berada di level Rp2,690 juta.
Baca Juga: Rupiah dan IHSG Menguat, SBY Terima Kasih ke Prabowo: Good Beginning
Baca Juga: Keluarga Korban Bullying Anak 6 Tahun di Jakpus Tolak Perdamaian
Analis Senior FXTM, Lukman Otunuga, menyebut bahwa kombinasi antara ketegangan geopolitik dan tekanan inflasi justru membuat emas berada dalam posisi yang kurang menguntungkan dalam jangka pendek.
“Emas tetap berada di bawah tekanan di tengah meningkatnya risiko inflasi, meskipun kondisi geopolitik biasanya mendukung aset safe haven. Konflik terbaru antara AS dan Iran justru menambah ketidakpastian di pasar,” ujar Lukman.
Laporan pasar juga mencatat bahwa aksi militer balasan Iran terhadap sejumlah pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Kondisi ini turut memperkuat kekhawatiran inflasi global dan membuka peluang kebijakan suku bunga yang lebih ketat dari bank sentral AS.
Baca Juga: Miris! Bocah 6 Tahun di Jakpus Pingsan Kesetrum Listrik Usai Dibully
Meski demikian, harga emas di dalam negeri masih relatif tertahan oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Mengacu pada laporan Radar Lampung, rupiah yang berada di kisaran Rp17.900 per dolar AS memberikan efek penahan terhadap koreksi harga emas agar tidak semakin dalam.
Namun demikian, investor tetap diingatkan untuk memperhatikan selisih antara harga jual dan harga buyback yang cukup lebar.
Harga buyback emas Antam pada hari yang sama tercatat di level Rp2.395.000 per gram, atau terpaut sekitar Rp294.000 dari harga jual.
Sejumlah analis menyarankan investor ritel untuk menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dalam menghadapi volatilitas pasar emas.
“Daripada membeli dalam jumlah besar sekaligus, lebih baik melakukan pembelian secara bertahap untuk mengurangi risiko fluktuasi harga,” demikian rekomendasi dalam laporan tersebut.
Baca Juga: Sulsel Jadi Provinsi Pertama Canangkan Sensus Ekonomi 2026, BPS Tekankan Pentingnya Data Akurat
Ke depan, analis memperkirakan harga emas masih akan bergerak fluktuatif dengan kisaran Rp2.665.000 hingga Rp2.710.000 per gram hingga akhir pekan.
Sementara itu, prospek jangka panjang emas hingga akhir 2026 masih dipandang positif oleh sejumlah lembaga investasi global.
Dalam kondisi seperti ini, koreksi harga yang terjadi justru dinilai sebagian pelaku pasar sebagai momentum akumulasi, terutama bagi investor jangka panjang, ketimbang sinyal untuk melakukan aksi panik di pasar logam mulia.
Editor : Ali Mustofa