JAKARTA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green memunculkan gelombang penolakan di berbagai wilayah Indonesia.
Sejumlah kelompok mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara, hingga Jakarta, turun ke jalan pada Rabu (10/6/2026) untuk menyuarakan keberatan mereka terhadap kebijakan tersebut.
Di Kendari, aksi demonstrasi dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) yang berpusat di kawasan Bundaran Tank.
Baca Juga: BRIN Minta Maaf, Unggahan Garuda Pancasila Diduga Buatan AI Tuai Kritik Publik
Baca Juga: Pertamina Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green, BBM Subsidi Tetap Bertahan
Sementara itu, aksi serupa juga terjadi di kawasan Jalan Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat.
Massa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Pustaka menggelar aksi unjuk rasa pada Rabu malam sebagai bentuk protes atas kenaikan harga Pertamax.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, aksi tersebut berlangsung sekitar pukul 20.30 WIB dan sempat menyebabkan gangguan arus lalu lintas.
Karena massa menggunakan sebagian badan jalan untuk berorasi serta membakar ban di lokasi.
Petugas kepolisian kemudian melakukan pengamanan dan pembubaran massa karena aksi tersebut tidak disertai pemberitahuan resmi kepada pihak berwenang.
Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Iptu Erlyn Sumantri, membenarkan adanya kegiatan unjuk rasa tersebut di sekitar Jalan Cikini Raya, tepatnya di depan salah satu pusat makanan cepat saji.
Menurut keterangan kepolisian, aksi tidak menutup seluruh jalan, namun tetap menyebabkan perlambatan arus kendaraan karena hanya sebagian lajur yang dapat digunakan.
Baca Juga: MBG Tetap Berjalan, Sejumlah Dapur Sempat Terhenti karena Dana dan Evaluasi Operasional
Setelah dilakukan pendekatan oleh aparat, massa akhirnya membubarkan diri sekitar pukul 21.30 WIB dan situasi kembali kondusif.
Secara umum, rangkaian aksi di dua daerah tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi tidak hanya dipandang sebagai persoalan ekonomi.
Tetapi juga telah memicu respons sosial yang cukup luas, terutama dari kalangan mahasiswa yang menilai kebijakan tersebut berpotensi menambah beban masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.
Editor : Ali Mustofa