JAKARTA – Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (11/6/2026), meski konflik antara Amerika Serikat dan Iran justru menunjukkan eskalasi yang semakin serius.
Kondisi ini mencerminkan sikap pelaku pasar yang mulai menilai bahwa pasokan energi global masih relatif aman, meskipun ancaman terhadap jalur distribusi minyak utama dunia terus meningkat.
Berdasarkan data perdagangan internasional, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juli turun 0,5 persen ke level 89,57 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai acuan global untuk pengiriman Agustus terkoreksi 0,67 persen menjadi 92,48 dolar AS per barel.
Penurunan tersebut terjadi setelah harga minyak sempat melonjak dalam beberapa sesi sebelumnya akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Konflik AS-Iran Memanas, Risiko Pasokan Tetap Jadi Sorotan
Pelaku pasar masih mencermati perkembangan terbaru konflik antara Washington dan Teheran yang dinilai berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global, terutama di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Ketegangan meningkat setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan tambahan terhadap sejumlah target strategis di Iran. Operasi tersebut disebut menyasar fasilitas pengawasan, sistem komunikasi, hingga pertahanan udara Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi dilakukan atas instruksi langsung Presiden Donald Trump sebagai respons terhadap ancaman yang dinilai membahayakan kepentingan AS dan kebebasan pelayaran internasional.
Sebaliknya, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone terhadap kapal-kapal militer AS yang beroperasi di Selat Hormuz.
Tak hanya itu, Iran juga disebut menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain, termasuk Pangkalan Udara Ali Salem, Ahmad al-Jaber, dan Sheikh Issa.
Selat Hormuz Kembali Jadi Pusat Perhatian Dunia
Meningkatnya ketegangan membuat pasar kembali menyoroti peran vital Selat Hormuz sebagai salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.
Berdasarkan data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap harinya melewati selat sempit tersebut. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi secara drastis.
Namun hingga kini, distribusi minyak dunia masih berlangsung normal dan belum terjadi penutupan total terhadap jalur pelayaran utama tersebut.
Kuwait dan Bahrain Tingkatkan Kewaspadaan
Situasi keamanan kawasan Teluk turut memburuk.
Pemerintah Kuwait menutup sementara wilayah udaranya setelah mendeteksi proyektil yang memasuki wilayah negara tersebut. Bahrain juga mengaktifkan sistem pertahanan udara dan mengklaim berhasil mencegat ancaman udara yang diluncurkan Iran.
Sementara itu, Israel turut meningkatkan kewaspadaan setelah muncul laporan adanya peluncuran serangan dari wilayah Lebanon menuju kawasan utara negara tersebut.
Perkembangan ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan menyeret lebih banyak negara di Timur Tengah.
Mengapa Harga Minyak Justru Turun?
Meski konflik meningkat, sejumlah analis menilai pasar minyak global kini jauh lebih siap menghadapi potensi gangguan dibandingkan krisis energi pada masa lalu.
Firma riset energi Rystad Energy menyebut terdapat beberapa faktor yang menopang ketahanan pasar saat ini, antara lain:
-
Rekor ekspor minyak mentah Amerika Serikat;
-
Melambatnya pertumbuhan permintaan minyak dari China;
-
Tersedianya jalur ekspor alternatif selain Selat Hormuz;
-
Kapasitas cadangan produksi dari sejumlah negara produsen.
Faktor-faktor tersebut membuat pelaku pasar tidak langsung bereaksi berlebihan terhadap perkembangan geopolitik terbaru.
Meski demikian, Wakil Presiden Senior Rystad Energy Jorge Leon mengingatkan bahwa peluang tercapainya solusi diplomatik semakin mengecil seiring meningkatnya intensitas aksi militer kedua negara.
Ancaman Masih Membayangi Pasar Energi
Para analis menilai harga minyak masih berpotensi berfluktuasi tajam dalam beberapa waktu ke depan. Jika konflik terus meluas hingga mengganggu fasilitas produksi atau distribusi minyak utama, bukan tidak mungkin harga kembali menembus level tertinggi tahun ini.
Sebaliknya, apabila terdapat sinyal deeskalasi atau upaya diplomasi baru, tekanan terhadap harga dapat mereda.
Bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, perkembangan konflik AS-Iran perlu terus dipantau karena berpotensi memengaruhi biaya impor energi, inflasi domestik, hingga harga bahan bakar di dalam negeri.
Untuk saat ini, pasar memilih bersikap hati-hati: waspada terhadap risiko geopolitik, tetapi tetap percaya bahwa pasokan minyak global masih cukup kuat untuk meredam gejolak jangka pendek.
Editor : Mahendra Aditya