RADAR KUDUS – Menjelang datangnya Malam 1 Suro 2026, berbagai tradisi khas masyarakat Jawa kembali dijalankan sebagai bagian dari penyambutan tahun baru Jawa. Salah satu ritual yang masih bertahan hingga kini adalah siraman atau mandi besar menggunakan air kembang setaman.
Bagi sebagian masyarakat, ritual ini bukan sekadar mandi biasa. Siraman dipahami sebagai simbol penyucian diri, sarana introspeksi, sekaligus momentum untuk memulai lembaran kehidupan baru dengan hati dan pikiran yang lebih jernih.
Di tengah arus modernisasi, tradisi tersebut tetap dijaga oleh berbagai komunitas Jawa, baik di Pulau Jawa maupun perantauan. Nilai filosofis yang terkandung di dalamnya dinilai masih relevan sebagai pengingat pentingnya membersihkan diri secara lahir dan batin.
Baca Juga: 10 Larangan Malam 1 Suro yang Konon Bisa Membawa Sial, Mitos atau Pesan Leluhur?
Kapan Malam 1 Suro 2026?
Berdasarkan penanggalan Jawa, 1 Suro 1959 Jawa jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026. Dengan demikian, Malam 1 Suro dimulai sejak Selasa malam, 16 Juni 2026, setelah waktu Magrib.
Menariknya, tahun ini Malam 1 Suro tidak bertepatan dengan awal Tahun Baru Islam. Pemerintah menetapkan 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026, sehingga terdapat selisih satu hari dengan kalender Jawa.
Meski demikian, kesakralan Malam 1 Suro tetap dijaga oleh masyarakat Jawa melalui berbagai tradisi seperti tirakat, doa bersama, tapa bisu, kirab budaya, hingga ritual siraman.
Baca Juga: Empat Semester Tak Pernah Kuliah, Mahasiswa UIN Walisongo Diduga Gelapkan 40 Motor Teman Sendiri
Siraman, Tradisi Turun-Temurun Menyambut Tahun Baru Jawa
Dalam pandangan budaya Jawa, Malam 1 Suro merupakan momentum untuk melakukan perenungan mendalam atas perjalanan hidup selama setahun terakhir.
Tradisi siraman lahir dari filosofi bahwa manusia perlu membersihkan diri dari berbagai sifat buruk, kesalahan, serta beban batin sebelum memasuki fase kehidupan berikutnya.
Sejumlah penelitian budaya, termasuk kajian akademik mengenai ritual Bulan Suro di masyarakat Jawa, menyebutkan bahwa praktik siraman bukan bentuk pemujaan kepada selain Tuhan. Ritual ini lebih dipahami sebagai media simbolik untuk memperkuat niat memperbaiki diri.
Karena itu, masyarakat yang menjalankannya biasanya mengiringi siraman dengan doa, dzikir, atau permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Apa Itu Air Kembang Setaman?
Siraman Malam 1 Suro identik dengan penggunaan air kembang setaman, yakni campuran beberapa jenis bunga yang lazim digunakan dalam tradisi Jawa.
Bunga-bunga tersebut antara lain:
-
Mawar merah;
-
Mawar putih;
-
Melati;
-
Bunga kantil.
Pemilihan bunga bukan tanpa makna.
Dalam filosofi Jawa:
-
Melati melambangkan kesucian hati;
-
Mawar merah menggambarkan keberanian dan ketulusan;
-
Mawar putih menjadi simbol niat yang bersih;
-
Kantil dimaknai sebagai harapan agar manusia senantiasa "kumanthil" atau selalu ingat kepada Sang Pencipta dan leluhur.
Perpaduan air dan bunga kemudian menjadi lambang pembersihan lahir serta batin.
Baca Juga: Tewas Tragis di Rumahnya, Pembunuh Bilqis Bocah 11 Tahun Berhasil Diringkus Polisi
Filosofi Mendalam di Balik Ritual Siraman
Esensi utama siraman sebenarnya tidak terletak pada bunga atau air yang digunakan.
Nilai terpenting justru berada pada niat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Masyarakat Jawa mengenal konsep "sembah raga", yakni menjaga kebersihan fisik sebagai bagian dari upaya membersihkan jiwa.
Melalui ritual tersebut, seseorang diajak untuk:
-
Mengevaluasi kesalahan masa lalu;
-
Mengendalikan hawa nafsu;
-
Menumbuhkan rasa syukur;
-
Memperbaiki hubungan dengan sesama;
-
Mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dengan demikian, Malam 1 Suro menjadi ruang refleksi, bukan sekadar malam yang dipenuhi mitos.
Baca Juga: Belanja Pegawai Membengkak hingga 40 Persen, Pemkot Parepare Putuskan Nihil Formasi CPNS 2026
Tata Cara Mandi Kembang Setaman
Pelaksanaan siraman berbeda-beda di setiap daerah. Namun secara umum dilakukan dengan tahapan berikut:
-
Menyiapkan air bersih yang dicampur kembang setaman.
-
Memanjatkan doa sesuai keyakinan masing-masing.
-
Mengguyurkan air dari kepala hingga kaki.
-
Dilakukan secara khusyuk sambil bermuhasabah.
Jumlah guyuran pun memiliki simbol tersendiri.
Tujuh kali siraman (pitu) dimaknai sebagai harapan memperoleh pitulungan atau pertolongan Tuhan.
Sebelas kali siraman (sewelas) melambangkan harapan mendapatkan kawelasan, yakni kasih sayang Tuhan.
Sementara tujuh belas kali siraman merupakan gabungan keduanya: pertolongan sekaligus belas kasih dalam menjalani kehidupan.
Mengapa Sebagian Orang Melakukannya di Luar Rumah?
Dalam tradisi tertentu, siraman dilakukan di halaman rumah atau tempat terbuka.
Secara filosofis, hal ini melambangkan hubungan harmonis antara manusia dan alam semesta.
Masyarakat Jawa meyakini manusia adalah bagian dari jagat raya sehingga keseimbangan dengan lingkungan perlu dijaga.
Siraman di ruang terbuka dipandang sebagai simbol pelepasan energi negatif dan penyatuan diri dengan alam ciptaan Tuhan.
Tradisi Budaya, Bukan Kewajiban Agama
Penting dipahami bahwa mandi besar menggunakan air kembang setaman bukanlah ritual wajib dalam ajaran Islam maupun agama tertentu.
Tradisi tersebut merupakan warisan budaya Jawa yang berkembang secara turun-temurun sebagai media refleksi diri.
Karena itu, masyarakat dapat menyikapinya secara bijak sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara.
Tidak melakukannya bukanlah sebuah kesalahan, sebagaimana menjalankannya pun tidak boleh dimaknai sebagai jaminan datangnya keberuntungan.
Yang terpenting adalah mengambil nilai luhur yang terkandung di dalamnya: memperbaiki diri, memperbanyak doa, menjaga hubungan dengan sesama, serta meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, pesan tersebut justru terasa semakin relevan.
Malam 1 Suro mengingatkan bahwa sebelum melangkah menuju masa depan, manusia perlu sejenak berhenti, menengok ke dalam diri, lalu menata kembali niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Editor : Mahendra Aditya